Translate

December 4, 2011

TIGA NADA

PASIR HISAP

Dari sebrang terlihat
Semakin jauh terperosok
Terserap jurang pengingkaran
Semakin dalam
semakin tampak bodoh
Bak pasir hisap
Siapa tak raih terang
Sadar tak kunjung datang

Diam......
Dengarkan....
Akui.....

Titik terang ke jalan keutuhan

Ubud, 2011

Hidup di kota besar akan sangat mudah kehilangan jati diri demi pengakuan dari manusia lain, yg tidak dibutuhkan. Jiwanya menjadi kerdil oleh materi.





TEMPAT ASING YANG TAK ASING

Pernahkah berada di suatu tempat
Yang tak asing bagimu
Menghangatkan tubuh
Bermain
Berteduh
Berlindung
Bersenda gurau
Di tempat yang tak asing bagimu

Sekian lama tak berkunjung

Tempat yang sama, kian asing rasanya

Tetap hangat tapi Tidaklah hangat
Tetap ramah tapi Tidaklah ramah
Tetap elok tapi Tidaklah elok

Tempat yang sama itu tidaklah berubah
Asing itu dirimu sendiri, yang telah berubah

Amed, 2011

Tidak sedikit orang yang kehilangan ikatan emosi dengan tempat ia dibesarkan/masa kecilnya ketika terlalu banyak perubahan.





LEPAS DARI LEKATAN

Benda itu dulu sangat dekat
Kusayangi
Kudekap erat
Cantik warnanya berpendar
Hanya aku yang mampu melihat semua cahayanya
Karena ku sayang

Terlalu ku lekat dengannya
Merasuki raga teramat sangat
Bila larut terlalu lama
Celaka menanti

Lekatan sesat!
Kulepaskan jatuh dari genggaman
Tercerai jauh dari pandangan
Hingga cahayanya tak sanggup kulihat

Lama tak kugenggam

Ianya tak lagi berkilau
kembali pudar

Hanya bila kau genggam dengan rasa
Maka ia akan bercahaya

Kelekatan hanya menuai celaka

Tak apa tak menggenggam, bila lepas dari celaka.

Pemuteran, 2011

Manusia mengidentikkan dirinya dengan benda-benda materi yg dimilikinya adalah manusia yg terlalu lekat atau berfokus dgn hal-hal duniawi. Ianya tidak menyadari adanya celaka.

September 13, 2011

PENCARIAN JAMU GEMUK SEHAT

Awalnya hari ini cuman mau nyariin oleh-oleh jamu untuk menggemukkan badan (jangan lihat badan saya, ini jamu untuk teman saya yang kalau kena angin kumbang, mungkin ikut terbang juga kayak kardus indomie isi 40 bungkus ketiup angin, saking ringannya), tapi akhirnya jadi melanglang buana keliling kota Cheeribon (sebutan Cirebon waktu walikotanya masih wong Londho).

TKP 1 : Pusat oleh-oleh khas Cheeribon “Pangestu”

Di sini juga saya cuman mau nyariin ikan asin jambal roti buah tangan untuk teman saya yang kayak kardus indomie isi 40 bungkus tadi. Yakin banget ini ikan asin pasti buat menambah selera makan dia yang kayak putri Indonesia (jaman jura).  Yee…pegimana mau gemuk.  Sambil nyari-nyari oleh-oleh khas Cheeribon yang lain, iseng-iseng saya tanya mbak penjaga yang manis tentang jamu yang konon manjur buat nggemukin badan. Penjaga yang sedari tadi dengan sabar dan ramah ngebantuin nyariin oleh-oleh langsung ngelihat badan saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, sambil mikir. Berapa detik kemudian dia mengarahkan saya ke jejeran botol jamu PELANGSING BADAN, dia bilang “mbak, kayaknya sih mbak mendingan beli jamu ini aja, kalo saya jadi mbak mungkin saya olah raga dikit aja biar tambah sexy, segitu udah sexy kok mbak (hhyaeyalaa...h). Trus saya bilang, nggak buat saya mbak, jamunya buat temen cowok saya. “Ohhh..saya pikir suaminya mbak sukanya ama yang gemuk-gemuk gitu, biar gak usah beli kasur lagi”. Hhaha…dari tadi kek becandanya biar udara panas jadi rada adem dikit. Anyway (actually plakkk!…ketampar banget deh gue), setelah suasana agak akrab dikit, si mbak yang baik hati tadi langsung nyerocos nasehatin saya untuk urusan gizi. Plus dengan berbaik hati pula dia ngecek kode produksi tiap oleh-oleh yang saya pilih. Selesai urusan di TKP 1.

TKP 2 : Lapak sepanjang kali Sukalila

Kali sukalila ini dulunya keren kata ibu saya. Dulu waktu dia SD, kali ini layaknya canal seperti di Venecia. Jaman Belanda masih bercokol di Cheeribon, sungai ini salah satu tempat rekreasi londho londho itu. Airnya jernih mengalir sampai laut. Dan di sepanjang kali terdapat pohon-pohon flamboyant yang ranting dan bunganya berjuntai menyentuh perairan kali, kalau cuaca sedang bagus, banyak orang sewa perahu sampan (macam gondola di Venecia) untuk menyusuri kali sampai ke muara laut, ahhh…indahnya, pikir saya, lalu pandangan saya tersapu ke arah kali, hmpft…bau comberan busuk dan hitam airnya. Untung sepanjang kali ini ditutupi lapak-lapak menarik  yang jenisnya cuma ada tiga saja di sana. Kalo nggak tukang pangkas rambut, lapak sandal-sandal import RRC, satu lagi lapak yang jual lukisan kaca khas Cheeribon dan lukisan-lukisan  murah lainnya. Pengen rasanya nyobain mangkas rambut di sana, tapi takut keluar dengan rambut ala David Beckham, karena sepanjang jalan itu poster di dalam lapak pangkas rambut isinya rata-rata pemain sepak bola.

Ternyata lukisan kaca itu adalah signature product-nya Cheeribon (yeee…kemane aje lu). Saya sempat tanya di sepanjang jalan itu siapa maestro pelukis kaca di jajaran jalan itu, salah satu pedagang lapak menunjuk satu kios. Sambil berjalan kearah kios si maestro itu otak dagang saya mulai menghitung untung, kalau bisa bawa selusin lukisan kaca yang harga 50 rebuan, saya mungkin bisa jual 500 rebu, wah, bisa tajir deh bulan ini.

Saya tiba-tiba berhenti di satu lapak karena terspesona dengan bapak-bapak yang suara ngoroknya stereo banget, saya pikir dia ngorok sambil megang mic (jangan salah lho ada lapak karaoke di sebrang jalan dengan tariff Rp 15.000 per lagu, dapet minuman, sayangnya saya gak lagi stress, kalo stress saya mau banget nyobain karaoke di lapak itu, kali-kali ada yang nyawer buat ongkos pulang ke Bali).  Ternyata bapak yang ngoroknya stereo itu adalah maestro di jalan itu. Tadi maunya saya foto, tapi saya punya prinsip kalo mau foto orang, saya kan harus minta ijin dulu, tapi kan gak lucu ngebangunin orang yang ngoroknya sesuatu banget gitu. Saya mau pasang mode “micro” pas banget di mulutnya yang hampir meneteskan air liur, tapi kan gak sopan ya. Akhirnya saya urung niat. Lagian memang Tuhan gak ngasih saya berbuat kurang ajar dengan sang maestro,  ternyata kamera poket saya kehabisan baterai. Akhirnya, saya cuman bisa lihat-liihat lapak lukiasn kacanya yang memang sesuatu banget itu. Sambil tepok jidat, waduh hampir aja saya rugi mau beli selosin, ternyata satu lukisan harganya minimal 800 rebu.  Untung si maestro ngorok, saya kan gak jadi malu. Niat busuk nyari untung terlalu banyak memang haram hukumnya kalau ketauan.

Langkah menjauh kearah lapak di sampingnya, saya perhatikan dari tadi lukisan kaca Cheeribon didominasi dengan lukisan macan atau singa (gak jelas bedanya) yang dibentuk dari huruf Arab. Bacaan kalimat Syahadat (kalimat yang dibaca ketika seseorang hendak masuk agama Islam). Ternyata gambar ini adalah symbol kerajaan (kesultanan) di Cheeribon. Ada hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Cheeribon oleh Wali Sanga. Melipir sedikit ke gambar sebelahnya ada banyak gambar Wali Sanga dan para Syekh yang dianggap berjasa menyebarkan agama Islam di Cheeribon. Tapi lucunya dari lapak satu dan lapak lainnya, semua poster wali sanga, ke sembilan sembilannya, gak ada yang sama. Maksudnya walaupun sama-sama gambar Sunan Gunung Jati, kalau dijejerin dua lukisan Sunan Gunung Jati, saya bisa langsung kasih tanda sepuluh, bahkan tiga puluh perbedaan (kayak game, spot the difference gitu deh). Dengan kata lain, judulnya sama-sama Sunan Gunung Jati tapi yakin banget itu dua orang yang berbeda. Jadi jangan percaya gambar. Kalau pelukis lapak di kali Sukalila disuruh ngegambar teroris yang ngebom Bali, pasti yang digambar mirip-mirip para sunan juga, yang notabene mukanya Arab semua (padahal yah, gak semua Sunan itu orang Arab, pssstt...para Sunan itu rata-rata asli Tiongkok) Kasian orang-orang di kampung Arab di Cheeribon bisa jadi tersangka semua.

Lanjut lagi ke gambar unik lainnya. Saya lihat ada satu gambar yang sekilas isinya mirip rentetan pas foto orang-orang Arab. Jumlahnya ada 99 pas foto. Saya pikir ini mungkin data statistik orang-orang yang tinggal di kampong Arab di Cheeribon, ternyata bukan. Lagian cuma ada 99 foto, gak mungkin kali ya sesedikit itu. Baru nyadar ternyata logika berfikir saya gak canggih-canggih amat di sini. Ternyata foto itu adalah foto para Habib, saya sempet nanya, arti Habib itu apa sama yang jual lapak. Katanya “Habib itu…ya Habib” (yee..gak jelas deh si abang). Akhirnya saya harus sok pinter lagi.  Kalau sepengetahuan bahasa Arab saya yang limited edition sih, Habib itu artinya kekasih (Allah). Mungkin ini utusan Tuhan kali ya. Diantara muka-muka Arab itu saya melihat beberapa muka yang bukan Arab. Meraka adalah para Habib (udah gak usah penasaran apa arti Habib, mending nurut aja apa kata pedagang lapaknya, Habib itu  artinya ya Habib aja) dari Palembang. Jadi ternyata ada Habib Bogor, Habib Mekkah, Habib Betawi. Yang absen (mungkin gak ngikut reunian ato males foto bareng) cuman Habib Cheeribon aja, mungkin kurang eksis.  Nah si Habib Palembang ini jelas adalah orang yang berjasa menyebarkan agama Islam di Palembang lah pastinya (nah tu pinter). Mukanya ya muka muka Cina Palembang gitu.  Saya langsung inget silsilah keluarga saya. Konon kata bibi saya (yang mukanya mirip encim-encim banget), keluarga dari pihak ayah saya memang keturunan saudagar Cina dari Palembang.  Kalo menurut teori “kaya itu cuman tujuh turunan” pastinya saya keturunan ke delapan. Kalau ada teori darah Cina itu cuma tujuh turunan, saya juga pasti keturunan ke delapan, akhirnya ya gak jadi Cina. Melirik lagi ke gambar pas foto habib dari Palembang sambil berdiri menatap lebih dekat (hampir jatuh terjerembap saking dekatnya jarak moncong saya dengan gambar Habib), saya berharap ada sedikit kemiripan antara Habib Palembang dan kakek saya, atau bapak saya, atau siapa lah di keluarga saya. Jadi saya punya alasan untuk beli itu gambar Habib sebagai bukti otentik kalau keluarga saya keturunan orang penting.

TKP 3 : Mesjid Merah yang didirikan tahun 1400an

Hehe, seumur-umur tinggal di Cheeribon, baru sekali ini punya niatan masuk Mesjid Merah. Saya keliling kota nyewa taxi argo, dalam perjalanan ke mesjid merah saya tanya sama supir taxi (yang cukup reliable untuk ditanya-tanya mengenai pusat atraksi di kota ini):

Saya :  “pak kalo mau masuk mesjid merah itu harus pake baju tertutup semua ya, saya kan pake lengan kutung dan celana pendek, nanti dikasih masuk gak ya”.

Supir : “Wah neng, kenapa gak siapin celana panjang aja tadi, kayaknya sih harus tertutup deh”.

Saya : “Hm…gimana kalo ntar sebelum masuk mesjid saya beli mukenah dulu kali ya, baru saya jalan-jalan foto-foto.”
Mukenah itu seragam sholat/sembahyang wanita Muslim-warnanya umumnya putih bersih, kalau dipakai berasa bidadari.

Supir : “Hehe..jangan neng, ntar dikira pocong (iihh..kok pocong sih, perasaan saya sih berasa bidadari) siang-siang bolong, mending nanya aja ama penjaganya dulu, trus ngaku turis dari Filipina aja”.

Pinter juga si abang ini, akhirnya sampailah kami di depan masjid Merah. Baru saja turun dari kendaraan udah langsung disambut sama ibu-ibu yang antusias banget mau nunjukin masjid Merah. Ternyata boleh banget foto-foto keliling mesjid merah dengan celana pendek, asal gak masuk ke batas sucinya. Plus saya ngaku-ngaku wartawan majalah pariwisata dari Bali. Cuman modal kamera poket aja langsung disambut hangat. Wew..ternyata yang penting kita ngasih fulus sama dia. Hmpfftt...

Ternyata mesjid merah ini terdiri dari 2 ruangan. Ada satu ruangan yang cuma dibuka untuk umum kalau lebaran saja, jadi cuma setahun sekali dibuka untuk umum. Anehnya di Cheeribon ini, di beberapa mesjid yang umurnya cukup tua, di dalamnya juga terdapat kuburan. Termasuk di mesjid merah ini, terdapat kuburan Syekh Abdurrahman, pendiri mesjid ini di abad ke-15. Udah 700 tahun umur kuburannya, betul gak tuh? malas ngitung soalnya. Berharap dengan melototin kuburannya dapet jodoh ato ngeliat apa gitu, tapi mata udah sepet gak ngeliat apa-apa. Otak mesum, body bokep, muka porno (dusta!) kaya saya memang gak guna sih kalo mau nyari jodoh semodel  vokalis LinkinPark walaupun melototin kuburan ini 40 hari 40 malam. Kali yang bersemayam di kuburan mikirnya ini cewek otak klenik, body malam Jum’at, muka horror (pitnah keji!) berani-berani minta jodoh di tempat sakral kayak gini.

Bangunan mesjid merah ini cukup unik, karena arsitekturnya masih sangat Hindu, layaknya pura di Bali. Di sekeliling temboknya tertanam piring-piring keramik dengan motif floral ala keramik Cina.  Saya sampai sekarang masih penasaran kenapa bangunan keraton di Cheeribon dan bangunan mesjid tua di Cheeribon senang sekali menempelkan piring keramik di dinding. Apa mungkin dulunya yang dikasih tender bikin bangunan alih-alih pemborong (developer) malah pemilik warung/ restoran yang dikasih kerjaan ya (lagi-lagi analisa sembarangan dari  penalaran otak  versi limited edition saya). Tapi nanti kalau saya ke Cheeribon lagi, saya harus dapat alasan kenapa itu piring-piring nempel di tembok. Malu kalau ketemu orang dari BBC nanya sejarah piring nempel di tembok tapi saya gak punya penjelasan apa-apa (pede amat networknya sampai ke sana).

TKP 4 : Kampung Arab Panjunan

Lokasinya dekat sekali dengan Mesjid Merah tadi. Yang unik dari tempat ini adalah bangunan-bangunannya tua, cantik, jalannya tidak terlalu lebar (mengingatkan saya akan Kyoto), jarak antara bangunan satu dan lainnya dekat. Orang Panjuan ini biasanya punya toko yang menjual barang-barang khas Arab (sayangnya di sana gak ada yang jual onta aja), seperti celak (eye liner bubuk hitam), henna (bukan anjing dubuk yang ketawanya kaya crack addict, tapi pewarna rambut alami dari herbal), perangkat ibadah, parfum, penumbuh bulu (ini pasti orang-orang di kampung Cina yang pesen, karena ngiri lihat kumis jenggot dan rambut orang Arab yang lebat), jamu gemuk sehat (nah saya beli jamu buat temen saya di TKP 4 ini), obat kuat tangkur buaya (lho dari religious kok turun ke selangkangan?), obat anti impotensi, encok pegel linu (sempet mau beli juga mengingat faktor usia, lumayan buat stock), dan barang barang lain yang asing namanya ditelinga saya.

Rasanya seperti menemukan dunia lain di sana. Sembari rajin menanyakan obat gemuk sehat ke setiap toko, saya juga rajin jelalatan melihat ke setiap meja kasir, siapa tau ada Arab ganteng yang punya toko mirip Shahrukh Khan (biarin maksa, Arab-India gak jauh beda buat yang belum pernah ke Arab dan India). Akhirnya saya nemu satu toko, kasirnya lumayan ganteng. Saya pun menclok di situ. Tapi saya jadi lupa mau nanya obat gemuk sehat karena yang dijual di toko itu barangnya lebih ajaib lagi.

Barang ajaib no. 1,

Bentuknya seperti bungkusan papier (kertas pembungkus rokok) tapi gambar depannya penuh dengan tulisan Arab (gak usah heran dulu, kalo pake tulisan Cina, baru boleh heran). Lantas saya tanya itu barang apa, yang jaga toko jawab itu isim.


Saya: Isim bahasa Cheeribon ya? 

Mas-mas penjaga toko: Bukan isim itu bahasa Arab.

Saya: Isim itu buat apa, isinya kayak gimana?

Mas-mas penjaga toko: Ya itu buat jimat gitu, di dalamnya nanti ditulisin huruf Arab sesuai dengan keinginan sang empunya jimat.

Heh? Menarik nih! Lanjut penjaga toko “kalo mau diisi jimat kebal peluru bisa, jimat kebal golok bisa”. Saya memotong, kalo jimat kebal miskin harganya berapa ya? Si mas penjaga langsung ngeloyor males. Dia betul-betul gagal memahami kalau pertanyaan tadi itu sungguh-sungguh.

Barang ajaib no. 2

Seperti menemukan teori pitagoras saya berjingkrak kegirangan, ini tempat bener-bener ajaib amat! Kirain cuma bakal nemu tangkur buaya aja (obat kuat untuk buaya jantan  harusnya, tapi gak tau kenapa yang pake tangkur buaya kok manusia, padahal tangkur buaya itu kecil lho – yang gak tau tangkur buaya kasian deh loe).

Barang ajaib selanjutnya bentuknya seperti telur, tapi telur yang sudah menjadi fosil, di cangkangnya terukir tulisan Arab lagi (kan masih kampong Arab judulnya), ini telur katanya untuk menangkap penyakit dari guna-guna, jin atau dedemit pengganggu lainnya. Idih, kalo saya beli ini telur, kira-kira diantara teman-teman saya, siapa ya yang bakalan mingslep (bahasa Cheeribon untuk masuk seketika) ke dalam telur ini. Ini telur horror namanya. Saya tidak jadi mengkoleksi telur ini, khawatir temen-teman saya menghilang satu persatu masuk ke dalam telur ini. Peace (smile emoticon).

Barang ajaib no 3.

Lho! Ini nyampur sama toko material segala ya kayaknya, karena saya lihat ada sekotak paku, ada yang warna hitam seperti paku beton, ada yang warna emas, ada yang besar panjang (aww..!) yang paling kecil mungkin ukurannya 7cm (turut berduka cita). Tapi lagi-lagi disekeliling paku itu terukir huruf Arab. Pak! (seperti anak SD yang penasaran dalam mata pelajaran seksologi) Kok paku ini juga ada huruf Arabnya ya? Jangan bilang ini paku untuk nangkep kuntilanak! Si bapak kasir langsung menjawab MEMANG IYA! Gubrak!! Saya langsung mengeluarkan kamera poket untuk mendokumentasikan paku-paku ajaib tersebut. Penasara mau lihat? Wani piro?

Barang ajaib no 4

Next:  adalah minyak wangi, ada yang botol besar, ada yang botol kecil, gambar depannya putri duyung (sayang gambar payudara putri duyungnya ketutupan rambut, padahal udah mau heboh), judul minyak wanginya AIR MATA DUYUNG. Nah, ini wajip punya nih kayaknya. Hellooo…air mata duyung geto loh. Seketika saya buka isi kotaknya dengan tidak sabar sambil berupaya mendendus ngendus baunya, hm, disegel. Pak! Boleh dibuka gak segelnya saya mau coba cium baunya. “Eh, mbak, gak boleh dicium itu minyak wanginya” kata si Arab ganteng yang jaga kasir. Ih...pelit amat sih, kan cuma nyium aja gak bakal berkurang minyaknya. Apa hidung gue yang besar kayak jambu ini boros banget kali ya bisa ngabisin minyak wangi sekali ngendus.

Lanjut si ganteng “Itu bahaya kalo dicium sendiri, minyak itu khusus untuk diteteskan ke bunga aja”. Oh?? ke bunga? “Iya, itu untuk diteteskan ke bunga kalau mau ritual mandi kembang tengah malam”. Ha?? Serius Pak?? Ini untuk ritual mandi kembang tengah malam?? (lha, kirain judul lagu dangdut yang dulu sering diputar di angkot trayek rumah-SMA ku cuma mengada ada). Fungsinya untuk membuka aura biar enteng jodoh katanya. Untung sepupu saya (saya panggil dia engkoh sedeng – sedeng dalam bahasa Cheeribon artinya gila), gak ada di sana, kalau ada di sana dia pasti udah ngakak abis dan langsung ngeborong itu minyak wangi buat saya, soalnya cuma dia yang paling prihatin dengan aura perjodohan saya. Ini toko jadi tambah menarik perhatian saya, karena itu minyak wangi untuk membuka aura perjodohan kok harganya cuma sepuluh rebu perak sajah. Sebotol kecil ukuran 25ml. Kalo buat saya ukuran segini cukup, aura saya gak gelap-gelap amat kok untuk urusan perjodohan (baca lelaki, ehm…). Ada lagi yang botol ukuran besar sebesar botol kecap, saya langsung ngakak. Ini yang beli seukuran botol kecap pasti yang kayak…hihihi..ah gelap banget deh pokoknya. Saya beli minyak wangi ukuran 25 ml AIR MATA DUYUNG dengan alat tukar sah sebesar 10 rebu perak sebagai bagian dari oleh-oleh tak terpisahkan dari Cheeribon untuk teman saya tercinta pemesan jamu gemuk sehat dan ikan asin jambal roti (ya itu tadi yang mirip kardus Indomie isi 40 bungkus).

Barang ajaib no 5

Ini barang ajaib yang tak akan terlupakan oleh saya. Si bapak kasir bilang, sebenarnya ada barang lain yang lebih mantap dari AIR MATA DUYUNG tadi.

Saya :Apaan tuh pak?

Kasir:  Tapi ada syaratnya. HARUS DUA.

Saya: Heh? Maksudnya?

Kasir: Ya, harus dua, satu di sini, satu di sana.

Saya: Masih nggak ngeh juga. Maksudnya?? 

Kasir : Biasanya yang minta ini laki-laki, yang mau melet (HA??) dua perempuan sekaligus.

Saya: Wah! Saya tau siapa yang beli beginian! PNS kan?? (lirik kanan-kiri ada PNS gak ya deket-deket sini) biar istrinya setuju dia nikah lagi! Huh! Eh, tapi pak, kenapa harus dua? Kalau cuma mau satu aja?

Kasir : kalo beli satu dapet dua kan untung mbak?

Karena semakin menarik  akhirnya saya minta ditunjukkan si barang ajaib no.5 itu. Barangnya dibungkus plastik layaknya resep obat dari apotik, bentuknya seperti ampul gelas kecil, berisi cairan berwarna merah. Di dalamnya juga berisi kertas bertuliskan huruf you know what dan benda ajaib no 1. Plus anjuran pemakaian dan kegunaan. Di situ tertulis, ibu hamil dan menyusui (boong ding), ehm..tertulis, minyak ini berisi buluh perindu sebagai pengasihan/pelet bagi pria atau wanita agar enteng jodoh, dapat memikat lawan jenis (hoahm...boring), memelihara PIL dan WIL agar langgeng (mampus aje lu) dan bla..bla..bla.(sumpah gak tega ngelanjutin bacanya, jangan sampai dibaca orang jelek dengan niat buruk). Aduh sayang sekali tidak terdokumentasikan. Yang jelas tulisannya cukup horror karena saya membayangkan kalau ada orang seperti David Beckham mengguna gunai saya dengan minyak ini, paling tidak saya tahu David Beckham pernah mampir ke Panjunan. Dia benar-benar bukan selera saya. Gak banget deh pokoknya. 

Melihat keingin tahuan saya, sang kasir lalu melancarkan aksi marketingnya. Gimana mbak? Mau?

Saya : eh..hehe…emang harganya berapa pak? (sudah terbayang semua tabungan saya bakal ludes cuman untuk beli barang sekecil upil buat memelet dua pria termasyur di UK)

Kasir : Dua puluh lima ribu aja

Saya : Ha??? Dua puluh lima ribu buat melet dua cowok? Berarti satu cowok cuman 12,500 per biji (eh sepasang biji, berarti perbijinya 6,250 perak). Murah amattt!!!

Kasir : iya, mau gak? 25.000 dapet dual ho.

Saya : nyengir-nyengir kuda, bener juga pak, tapi kalau saya sih maunya satu aja pak bisa gak? (nah lho..kok jadi terbawa arus klenik)

Kasir : ya bagus itu mbak, labih fokus lagi.

Saya : eh gak  ah, rugi, kalo bisa dua kenapa harus satu. Hehe..

Kasir : ya kalo mbak kuat ya silahkan…Tapi ini barang ibaratnya nasi, belum ada lauknya (gile juga analogi si bapak kasir, canggih euy), jadi ini cuma perantara aja, tapi harus diisi doa sama kyiai sambil diamandiin kembang juga. Enak kan, kalo dapat satu di sana, satu di sini (sambil nyengir mesum berharap saya buka “cabang” Cheeribon kali) Sambil tiba-tiba ngambil botol parfum dan disemprotkan ke seluruh badannya. Nyemprotinnya dengan gaya melingkar lingkar teratur 3 kali. Melihat ini saya langsung kabur teratur, sambil buru-buru bilang

Saya : udah deh pak, saya beli ini minyak AIR MATA BUAYA aja

Kasir : AIR MATA DUYUNG mbak

To be continued….

August 25, 2011

Women and sexuality

"Itu ya Buk! masa waktu saya sebut istilah penis dan vagina, saya diprotes??!! itu kan istilah medis. Saya bingung mau pake istilah apa untuk menjelaskan penis dan vagina, ini kan seminar seksualitas." kata temanku yang notabene konselor suksualitas dan kesehatan reproduksi.

Ini dua istilah bener-bener dianggap properti, boleh atau tidak disebut, apalagi dipakai. Dianggap tabu. Memang apa sih yang dipikirkan ketika dua nama ini disebut?


"Saya dianjurkan untuk pakai istilah "kemaluan". Saya bilang sama peserta seminar: berarti kalian ini semua manusia yang malu-maluin dong. Pantas aja kalian tidak pernah bangga dengan diri kalian sendiri lha wong keluarnya aja dari kemaluan. Gimana kalo kita ganti dengan istilah "kebangaan"??? Huh, siapa sih yang punya prakarsa atas istilah "kemaluan" itu?"


Dari perjalanan seminar di daerah Nusa Tenggara yang dilakukannya, ada banyak temuan tentang angka pernikahan dini, angka kehamilan yang tidak diinginkan, dan tingkat pengidap HIV-AIDS. Ternyata angka statistiknya cukup signifikan.


Hm....di mana-mana kalau seks dianggap tabu dan agama diajarkan secara dogmatis, bukannya malah jadi pemicu banyak penyimpangan perilaku? Berita seperti ini bukan hal baru  di Jawa. Tapi ada hal lain lagi yang jadi pemicu kenapa seks jadi biang keladi masalah-masalah di atas. Rupanya PLN juga belum masuk di banyak wilayah di Nusa Tenggara. Mungkin buat dirut PLN ini bukan temuan baru. Siapa tau di jajaran para pembuat kebijakan, PLN dianjurkan bekerja sama dengan BKKBN untuk menahan laju pertumbuhan penduduk. Keren juga kalau ada papan pengumuman "HATI-HATI ADA GALIAN BKKBN".


Kalau masalah-masalah sudah ada dalam masyarakat, bukannya tinggal mencari solusi dan pencegahan? Sama seperti sosialisasi kondom  (Vatikan baru baru ini merestui penggunaan kondom sehubungan dengan pencegahan penyebaran HIV-AIDS), yang sempat heboh di Jakarta. Sebab penyediannya yang berada di tempat-tempat umum seperti toilet di mall-mall. Itu upaya pencegahan atas masalah sosial yang sudah ada, bukan pemicu.


Ada anak umur belasan tahun, suatu hari curhat kepada saya. Sebut saja namanya Ali, waktu itu umurnya 14 tahun, sudah harus berhadapan dengan masalah aborsi. "Lupa dicabut" katanya. Waduh, bukannya kalau berani berbuat harus berani tanggung resiko? baik itu kehamilan, penyakit menular seksual dan siap mental-finansial untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari berhubungan seks itu? "Iya tante, saya gak mikir sampe sana". Anak ini bukan anak yang  kurang gaul. Cukup cerdas, pandai bicara, wawasan cukup, baik dari buku maupun internet serta gadget lainnya. Intinya tidak kurang sarana untuk mendidik diri sendiri dan diluar dugaan bukan anak yang bodoh.


Pernah lagi ada kejadian menggelikan, suatu saat, saya berkesempatan berkonsultasi tentang masalah HIV-AIDS dengan konselor, kebetulan pasangan saya juga ada di samping. Saya sendiri tidak terlalu tahu sangat dalam karena memang profesi saya bukan konselor, tapi saya senang mendapat ilmu lebih banyak. Sikap pasangan saya sangat defensive. Mendengarkan tapi bahasa tubuhnya mengatakan "saya tidak butuh ini, tapi saya tahu saya bodoh". Yang lebih ekstrim lagi, ada yang benar-benar tidak ingin tahu, bahkan tidak ingin periksa kesehatan. Umur mereka bukan belasan tahun lagi.


Saya bingung, mereka ini dibesarkan bukan di kalangan yang berpendidikan rendah atau berpendapatan rendah. Salah satu konselor yang saya datangi, menyatakan banyak penyakit berasal dari perilaku, pola hidup. Ya, setuju. Bicara mengenai perilaku, bagaimana bisa, di negara yang beragama isu-isu seperti ini cukup tinggi angka statistiknya?


Ah sudahlah, jangan lagi kaitkan masalah negara dengan agama, sudah 66 tahun umur negeri ini, nyata-nyatanya memang tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kematian ibu, kehamilan yang tidak diinginkan, pengidap HIV-AIDS. Malah meningkat. Agama itu untuk diri sendiri, bukan label untuk mengidentifikasi orang lain.


Solusinya cuma satu : wanita harus dipersenjatai dengan pengetahuan akan tubuhnya sendiri. Karena wanita merupakan pilar dalam rumah tangga dan orang pertama yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan. Sebelum bertempur, mereka butuh senjata (pendidikan) itu.





Catatan : angka statistik sengaja tidak dicantumkan agar tidak ada kehebohan

August 15, 2011

Rindu Begawan

Ketika

Kopi : absen,

Rokok keretek: hadir

Tahu goreng : ludes

Katanya, kita ini butuh begawan, seperti jaman Greco Roman empire dulu yang para senatornya terdiri dari filsuf. Seperti kekaisaran Cina yang penasehatnya juga adalah seorang filsuf, untuk membuat suatu negara menjadi besar. Ceritera berlanjut ke perbandingan jaman Majapahit dulu, waktu "penasehat/pengasuh" raja-raja Jawa masih Sabdo Palon Noyo Genggong, kita sempat menjadi bangsa yang besar.

Dipikir-pikir, sebenarnya yang penting itu besarnya (dari segi wilayah) atau namanya yang "besar".

Tujuan apa yg sebenarnya ingin dicapai?  Apalah arti luas wilayah bila tidak mampu mempersatukan berbagai aspirasi rakyat yang mendiaminya? Hey, saya tahu pemikiran ini bisa jadi bahaya laten bagi persatuan dan kesatuan bangsa, yang dulunya punya 27 propinsi-yg menurut saya jumlah ini hanya alasan romantisme bapak no satu di Indonesia dulu terhadap kejayaan Majapahit- dan sekarang ada 36 propinsi. Buat saya, yang menyandang status warna negara-bukan pejabat-bukan birokrat-bukan juga tukang sulap, mau seluas atau sekecil apapun, jumlah dan besaran suatu negara tidaklah penting.

Yang penting, saya bepekerjaan, berkesempatan. Semua juga ingin begitu rasanya. Kalau boleh meminta lebih saya tidak ingin masuk ke ruangan khusus ketika memasuki negara-negara  adi daya, hanya karena memegang pasport warna hijau dan berwajah Melayu.

Dulu sekali, kata salah satu buku sejarah, bangsa kita sempat menguasai hampir sebagian besar Asia; nusantara kita, plus 8 negara lain di luar wilayah nusantara. Lalu saya tanya kepada teman penggemar sejarah kuno, bagaimana bisa?" Bisa saja, karena penasehatnya ya para begawan itu. Begawan itu tidak lagi lekat dengan hal-hal keduniawian, dan hanya memikirkan kesejahteraan rakyat semata. Makanya setiap kebijakan hanya ditujukan demi kesejahteraan rakyatnya". Kemampuan memperluas wilayah pengaruh, cerminan dari besarnya kekuatan suatu bangsa, wangsa, dinasti, negara. Lanjutnya,  "Di sini kita hanya punya beberapa gelintir begawan, salah satunya Pram, sepertinya untuk saat ini kita hanya punya  sisa satu". Mau pingsan dengarnya.

Dan ironisnya bukan Jawa, dia orang keturunan. Sambil lempar buku, "nih, baca! ada sejarah yang terlupakan mengenai asal muasal  sentimen "yg tidak penting" terhadap orang keturunan di sini". Saya tahu, dulu saya belajar Sinologi. Saya paham kenapa. Memang tidak penting, muak karena itu melulu politis. Keji. Kasihan.

Entah memang negara ini harus diamputasi, atau bagaimana, mungkin keadaan yang chaotic  bisa memicu kemunculan para begawan. Seperti di India, semakin kalut, kusut, semakin banyak jumlah filsufnya. Kondisi kacau tidak melulu berati buruk, hanya perlu dilalui, walaupun entah sampai kapan, saya yakin hukum alam akan keseimbangan. Dalam kekalutan akan muncul keharmonisan.

Kita tunggu saja kemunculan para begawan selanjutnya.

July 19, 2011

Ingin Baca Surat Cinta Sepasang Manula

Ingin sekali baca puisi atau surat cinta yang dibuat oleh seorang suami kepada istrinya yang sudah dinikahinya selama lebih dari 20 tahun. Ada yang punya? Saya sudah pernah baca surat cinta istri kepada suaminya yg sudah dinikahinya 10 tahun. Isinya:

Pah,

Jangan lupa bayar cicilan KPR, ada "salam" dari bank BTN, tunggakannya sudah lebih dari 3 bulan. Jangan lupa sebelum pulang ke rumah, bayar tagihan listrik, tadi hampir diputus. Oh, ya mama baru beli tas, cicilan sebulannya murah kok. Makasih ya Pah, cepat pulang, anak-anak sudah nunggu minta diajak makan malam untuk perayaan ultahnya. PS: mama tadi tarik uang untuk arisan.

Cuma satu yang membuat saya iri melihat pasangan lain. Pasangan nenek-kakek yang masih bergandengan tangan.

Diantara semua kisah cinta yang saya dengar selama ini, hanya satu kisah yang saya yakini itu cinta: adalah seorang istri yang mempersembahkan salah satu ginjalnya untuk sang suami yang divonis gagal ginjal.

Diantara semua kisah patah hati yang saya dengar selama ini, hanya satu kisah yang saya yakini itu adalah duka terdalam: ketika seseorang, yang sedang menjelang ajal, menitipkan pesan kepada sahabatnya. Pesan tersebut meminta sang sahabat untuk datang kepada anak-anaknya yang telah dewasa, untuk menghadap kepada seseorang dan untuk meminta maaf kepadanya, mewakili dirinya yang terbujur lemah tak berdaya di detik-detik terakhirnya. Suatu penyesalan yang terpendam sekian lama, datang kembali ketika ajal mendekat. Permohonan maaf yang tertunda sekian lamanya menjukkan betapa menyedihkan jiwanya.

Anugrah, musibah, jarak dan waktu. Seberapa banyak pasangan yang dapat bertahan dari segala ujian?

Cerita cinta lebih asik bila dikisahkan oleh pasangan manula, baru saya mau dengar.

June 6, 2011

Running Around Inside The Labyrinth

From the holy cow shit;

I learned about regret.

The colour of regret is dark and gloomy. I felt like I always want to go back to where it begin, and I wish I could turn back time. I was stuck in an eternal emptyness, there was only space. Time is undefined, no begining, no end. Never move on, always go round and round at the same spot, the same story, the same people. And I realized, this is death.

I learned about trust.

Is there anything, just anything that or anyone who could save me from eternal emptyness? I just don't want to be here any longer. How can I keep myself alive within eternal emptyness? I need faith! I need to trust something, I need to believe in something, something that I can hold on to. Someone whom I can trust. Someone who can lead me back home, to where it begin. Out there, can not be trusted. I need to believe. I need faith. Lead me to the faith. And I found faith, it was so bright. Beautiful.

I learned about be in the present.

When you are in an eternal emptyness, what will you do? I kept on searching the light.  The one who will lead me to the light. Out there is too dark, I couldn't see. I search, and search, and search and I found someone who can teach me how to "go back home". I heard one say, "be in the present, be in the momment, that's the only thing that we have within eternal emptyness, out there are only illusions". The reality is here, right here, right now. Be in the present. The more I feel the present the more alive I became. And finally I found the light that could lead me "back home". I returned from the death. I can go back home once again.

I learned about illusion.

Escaped from death, left the eternal emptiness and left all the illusions, and keep on trying to be in the present. The more I feel the present, the more alive I became. And I realized, the only way to "go back home" is to have faith in the present. Not the illusions. Once you know that everything that you see is merely illusion, you'll know, what kind of reality you want to be at. Once you know that most of the things we see are merely illusions, you can create your own reality. Just have faith, and stay at the present.

After death, nothing else matter.

When you realize that you can find the light after death, you will enter a new reality. You were dead in a different world of reality, but have faith, that the previous life you had, wasn't your reality. Someone else, or something else was creating it for you. That's why you are dead even before you are alive. You will go thru a whole new journey, a whole new reality, but this time, you take control of your own reality. You create your own story. Even pain is only illusion. You can hit yourself as hard as you want but as long as you have faith, even pain is unreal, fear is unreal. After death, nothing else matter.

So,what are you afraid of? When death is amazingly beautiful.

I come back home, once again. In my new beautiful reality.

June 5, 2011

Terjebak Ilusi (Infatuation)



Bahasa Inggrisnya bagus sekali, dalam bentuk tulisan. Ketika berbicara di dunia maya, isi pikirannya mengalir tanpa hambatan. Very attractive! I thought.

Setelah sekian lama bertukar pikiran lewat dunia maya, dan "sedikit" membuntuti profile account nya hampir disetiap kesempatan, kami memutuskan untuk merasa tertarik satu sama lain. Kira-kira sudah lebih dari setahun lamanya, kami saling memelihara pikiran tentang satu sama lain. Saling berbagi, secara sehat, karena hanya berbagi pikiran dan perasaan. Saya mulai berfikir, ah....ini mungkin yang saya tunggu-tunggu. Dia menyukai saya tanpa ada kedekatan  fisik, dia menyukai opini-opini saya, dia punya ketertarikan akan hal yang sama, dan kami memandang sesuatu dari kacamata yang sama.

Suatu hari kami sepakat untuk bertemu di salah satu belahan dunia realita. Pikiran saya mulai melayang, jantung berdegup, rasanya seperti hendak bersiap-siap ke medan peperangan yang sesungguhnya setelah simulasi dan stimulasi selama setahun lebih. Map, tiket, akomodasi, buah tangan khas Indonesia, dan....ehm...sarung pengaman.

Welcome to Istanbul! "Finally I am here, to see him".

Di dalam benak sudah banyak sekali skenario akan bersikap bagai mana, berkata apa, pakai baju apa, bagaimana cara mengunyah makanan di hadapannya, berikut setumpuk harapan bahwa dia akan datang dengan kuda putihnya, berpedang panjang, dan akan mendengar kutipan puisi-puisi Lord Byron-walaupun saya tidak begitu paham literatur kuno, yang penting jika itu asing didengar telinga, sudah pasti seksi. Kadang definisi seksi saya cukup dangkal, tapi sampai sekarang saya masih sehat-sehat saja.

Tibalah hari yang dijanjikan, bukan oleh Tuhan. Saya melangkah pelan, tapi pasti. Setiap batu kerikil, rerumputan, bunga,aroma teh, terpaan angin di wajah, terlihat dan terasa sangat indah dan berwarna. Hm...pekerjaan hormon yang mana lagi ini, saya pikir. Walau bagaimanapun, saya nikmati setiap rinci perasaan yang menguasai saya saat itu. Yang paling besar adalah, harapan. Harapan bahwa dia adalah yang saya cari selama ini, harapan bahwa akhir cerita bagai filem-filem Hollywood yang saya impikan, akan terwujud, hari ini. Hari yang dijanjikan, sekali lagi bukan oleh Tuhan.

Langkah terakhir sudah tercapai, saya tahu dia sudah menunggu di sana. Restoran dengan kanopi cantik berwana hijau muda, dengan meja-meja bundar berhiaskan taplak meja putih bersin nan cantik berenda renda dihiasi bunga carnation. Sebenarnya taplak meja itu tidak berenda, tapi lusuh dan sudah sobek di bagian ujung-ujungnya. Entah kenapa hari itu restoran tua yang sudah jarang dikunjungi orang, terlihat sangat indah. Saya melihat ke sekeliling, tidak begitu banyak orang, pastinya tidak susah untuk menemukannya.

"Irma??" Seorang pria Turki berbadan tegap, menyapa saya. Saya tidak mampu memandangi wajahnya, karena dia membelakangi  matahari. Ah....malaikat ku dari dunia maya. Badannya tegap. Tinggi. Mata saya masih merasakan  efek silau karena menatap matahari dibelakang malaikatku. Kami duduk di salah satu meja, yang paling ujung, karena kami ingin privasi.

"Tunggu, apakah kamu Mr.Abcdz.??"

"Ya, benar, saya Mr.Abcdz"

Ada jeda, cukup lama....bahkan lama sekali. Bisu membungkan saya, hampir tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut saya.

Wajahnya tidak seperti yang saya angankan dan yang saya lihat dalam profile accountnya. Ada banyak perbedaan. Bahasa Inggris-nya pun terbata-bata. Pikiran asing mulai berkecamuk. Ada apa gerangan???

Saya mengeluarkan berbagai pertanyaan layaknya seorang gerilyawan memuntahkan amunisi membabi buta, "apakah Anda benar-benar Mr. Abcdz...????" Kenapa Anda kelihatan berbeda sekali, dan kenapa bahasa Inggris Anda terbata-bata? Siapa yang berbicara dengan saya selama ini?? Apakah Anda temannya? Saudaranya?

Dia tertegun, paham akan kekecewaan saya.

Moral of the story:

Seringkali kita menciptakan konsepsi/imajinasi tentang  apapun atau siapapun. Ketika konsepsi/imajinasi itu kemudian menjadi energi potensial, kita sudah terobsesi dengan imajinasi/konsepsi yang kita bentuk sendiri, tentang apapun, atau siapapun. Tidak salah, ketika itu berhubungan dengan pekerjaan, kita bisa menjadi apapun yang kita pikirkan. Tapi ketika kita berhadapan dengan kehidupan, berhadapan dengan manusia lain, imaji atau konsepsi jangan sekali kali dipaksakan dalam realita. Realita sangat dinamis, berubah mengikuti hukum alam. Ketika kita masih terkungkung dengan imajinasi/konsepsi, akan ada banyak hal yang mengecewakan, baik diri kita maupun orang lain. BUT, we are the only one to blame, karena kitalah yang menciptakannya. We can create our own reality, our own, but not others. Definisi dari "infatuation".

May 24, 2011

KITE (letting go of your past)

Layangan : mainan yg terbuat dr kertas berkerangka yg diterbangkan ke udara dng memakai tali (benang) sebagai kendali.

Bukan permainan tali kendali yang aku suka, proses menerbangkan layangan hingga melihat layang-layang terbang tinggi di awan membuat aku berfikir tentang banyak hal. Hari ini benang yang digunakan hanyalah tiga rol benang jahit tipis. Melihat kondisi benang, aku mulai berfikir, setinggi apa aku bisa menerbangkan layang-layang itu? Sekuat apa benang tipis itu menahan terpaan angin di atas sana?

Perlahan dia bergerak melampaui pohon lamtaro, kemudian atap rumah, kemudian pohon kelapa...hingga akhirnya menembus batas perkiraan ketinggian. Hanya dengan benang jahit. Aku pikir benang layang-layang itu akan putus diterpa angin, ternyata tidak. Kucoba menyambung rol kedua, berhasil, layang-layang tersebut membumbung lebih tinggi lagi. Hentakan angin yang kurasakan dari menggenggam benang jahit mulai terasa lebih keras. Semakin tinggi layang-layang itu, semakin aku tahu sebentar lagi  aku akan kehilangan layang-layang itu. Ternyata tidak. Rol ke-tiga mulai berperan. Rasa penasaran semakin besar, masih mampukan benang setipis itu menahan terpaan angin. Ternyata tidak. Hanya dalam hitungan 10 layang-layang itu limbung tanpa kendali, menari nari menjauh diterpa angin...Melayang bebas ke arah senja.

Sedihkah kehilangan  layang-layang itu? ternyata tidak. Aku bersorak girang melihat layang-layang itu bebas lepas. Setelah puas memandangi ke mana arah layang-layang itu menari, aku membalikan badan, melepaskan ikatan yang sebelumnya ada, melangkah melanjutkan perjalananku. Semuanya tetap indah, terkagum-kagum akan fenomena layang-layang dan benang jahitku.

Jarak dan waktu = ketinggian

Intensitas hubungan = benang

Godaan = terpaan angin

Bila benang kendali sangat kuat, setinggi apapun layang-layang itu terbang, kita akan selalu bisa menarik kembali layang-layang tersebut. Benang tipis, dan ketinggian yang melampaui kemampuan benang untuk menahan terpaan angin, bukan hal yang harus disesali. Dia hanya mengikuti hukum alam.

Ubud 24 Mei

May 4, 2011

Aku Siap Untuk Mati ?

Begini, kawanku terkasih,

Hitung berapa banyak kawan dan lawanmu,

Hitung berapa banyak yang kau kumpulkan,

Hitung berapa banyak luka tersembuhkan,

Hitung berapa tempat kau singgahi,

Hitung berapa warna kehidupan kau kenali,

Bila satupun, hingga detik ini, tidak ada yang membuatmu siap untuk mati esok hari

Kuberitahu, kawan

Kau lupa memberi