Translate

August 25, 2011

Women and sexuality

"Itu ya Buk! masa waktu saya sebut istilah penis dan vagina, saya diprotes??!! itu kan istilah medis. Saya bingung mau pake istilah apa untuk menjelaskan penis dan vagina, ini kan seminar seksualitas." kata temanku yang notabene konselor suksualitas dan kesehatan reproduksi.

Ini dua istilah bener-bener dianggap properti, boleh atau tidak disebut, apalagi dipakai. Dianggap tabu. Memang apa sih yang dipikirkan ketika dua nama ini disebut?


"Saya dianjurkan untuk pakai istilah "kemaluan". Saya bilang sama peserta seminar: berarti kalian ini semua manusia yang malu-maluin dong. Pantas aja kalian tidak pernah bangga dengan diri kalian sendiri lha wong keluarnya aja dari kemaluan. Gimana kalo kita ganti dengan istilah "kebangaan"??? Huh, siapa sih yang punya prakarsa atas istilah "kemaluan" itu?"


Dari perjalanan seminar di daerah Nusa Tenggara yang dilakukannya, ada banyak temuan tentang angka pernikahan dini, angka kehamilan yang tidak diinginkan, dan tingkat pengidap HIV-AIDS. Ternyata angka statistiknya cukup signifikan.


Hm....di mana-mana kalau seks dianggap tabu dan agama diajarkan secara dogmatis, bukannya malah jadi pemicu banyak penyimpangan perilaku? Berita seperti ini bukan hal baru  di Jawa. Tapi ada hal lain lagi yang jadi pemicu kenapa seks jadi biang keladi masalah-masalah di atas. Rupanya PLN juga belum masuk di banyak wilayah di Nusa Tenggara. Mungkin buat dirut PLN ini bukan temuan baru. Siapa tau di jajaran para pembuat kebijakan, PLN dianjurkan bekerja sama dengan BKKBN untuk menahan laju pertumbuhan penduduk. Keren juga kalau ada papan pengumuman "HATI-HATI ADA GALIAN BKKBN".


Kalau masalah-masalah sudah ada dalam masyarakat, bukannya tinggal mencari solusi dan pencegahan? Sama seperti sosialisasi kondom  (Vatikan baru baru ini merestui penggunaan kondom sehubungan dengan pencegahan penyebaran HIV-AIDS), yang sempat heboh di Jakarta. Sebab penyediannya yang berada di tempat-tempat umum seperti toilet di mall-mall. Itu upaya pencegahan atas masalah sosial yang sudah ada, bukan pemicu.


Ada anak umur belasan tahun, suatu hari curhat kepada saya. Sebut saja namanya Ali, waktu itu umurnya 14 tahun, sudah harus berhadapan dengan masalah aborsi. "Lupa dicabut" katanya. Waduh, bukannya kalau berani berbuat harus berani tanggung resiko? baik itu kehamilan, penyakit menular seksual dan siap mental-finansial untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari berhubungan seks itu? "Iya tante, saya gak mikir sampe sana". Anak ini bukan anak yang  kurang gaul. Cukup cerdas, pandai bicara, wawasan cukup, baik dari buku maupun internet serta gadget lainnya. Intinya tidak kurang sarana untuk mendidik diri sendiri dan diluar dugaan bukan anak yang bodoh.


Pernah lagi ada kejadian menggelikan, suatu saat, saya berkesempatan berkonsultasi tentang masalah HIV-AIDS dengan konselor, kebetulan pasangan saya juga ada di samping. Saya sendiri tidak terlalu tahu sangat dalam karena memang profesi saya bukan konselor, tapi saya senang mendapat ilmu lebih banyak. Sikap pasangan saya sangat defensive. Mendengarkan tapi bahasa tubuhnya mengatakan "saya tidak butuh ini, tapi saya tahu saya bodoh". Yang lebih ekstrim lagi, ada yang benar-benar tidak ingin tahu, bahkan tidak ingin periksa kesehatan. Umur mereka bukan belasan tahun lagi.


Saya bingung, mereka ini dibesarkan bukan di kalangan yang berpendidikan rendah atau berpendapatan rendah. Salah satu konselor yang saya datangi, menyatakan banyak penyakit berasal dari perilaku, pola hidup. Ya, setuju. Bicara mengenai perilaku, bagaimana bisa, di negara yang beragama isu-isu seperti ini cukup tinggi angka statistiknya?


Ah sudahlah, jangan lagi kaitkan masalah negara dengan agama, sudah 66 tahun umur negeri ini, nyata-nyatanya memang tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kematian ibu, kehamilan yang tidak diinginkan, pengidap HIV-AIDS. Malah meningkat. Agama itu untuk diri sendiri, bukan label untuk mengidentifikasi orang lain.


Solusinya cuma satu : wanita harus dipersenjatai dengan pengetahuan akan tubuhnya sendiri. Karena wanita merupakan pilar dalam rumah tangga dan orang pertama yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan. Sebelum bertempur, mereka butuh senjata (pendidikan) itu.





Catatan : angka statistik sengaja tidak dicantumkan agar tidak ada kehebohan

No comments:

Post a Comment