Translate

January 14, 2014

Euforia orang-orang miskin



Definisi kelayakan hidup saat ini lebih cenderung pada gaya hidup, bukan lagi berfokus pada kondisi lingkungan yang lestari, yang artinya cukup air bersih, tanah tidak terkontaminasi, udara yang bersih dan pemandangan yang indah adalah keniscayaan jika tiga hal tadi masih terjaga. Definisi layak yang menyesatkan bisa dilihat pada majalah - majalah lifestyle, sekalipun menampilkan kehidupan di pantai atau tempat-tempat yang alami dan enak dipandang mata, semata mata masih pada level eksploitasi dan privatisasi tempat-tempat yang masih alami, kemudian dimodifikasi dengan tambahan hunian atau tempat istirahat yang dianggap mewah atau beradab, kemudian dikomersilkan. 

Untuk mencapai hidup “layak”  dan nyaman seperti pandangan umum yang beredar saat ini, sudah pasti memerlukan lebih banyak pengorbanan dan uang. Memang banyak sekali yang dikorbankan demi hidup yang layak dan nyaman, bahkan termasuk keselamatan hidup manusia itu sendiri. Contoh, beberapa properti mewah terletak di tebing pantai selatan di Bali menawarkan pemandangan alam yang berharga jutaan dolar.  Kemampuan teknologi manusia saat ini mampu mengubah topografi alam yang menantang,  mampu mengubah kondisi yang awalnya mustahil untuk dijadikan hunian, namun satu hal yang lalai dari pengamatan adalah, sudahkan mereka pelajari konsekuensi dari keputusan membangun hunian di tempat seperti itu. Salah satu peneliti di BMKG Bali memaparkan bahwa tebing pantai tersebut telah menyelamatkan Bali pada tahun 1980-an ketika terjadi tsunami di Banyuwangi, tebing yang memiliki rata-rata ketinggian 170 meter tersebut dalam tata ruang tradisional Bali merupakan areal konservasi yang tidak boleh diubah topografinya karena memiliki fungsi sebagai benteng/penahan pada saat terjadi bencana alam salah satunya tsunami. Setelah dibangun dan properti tersebut telah menghasilkan keuntungan bagi pemodal, akan bertahan berapa lamakah properti tersebut dan apakah pemodal mampu bertanggung jawab terhadap konsekuensi  keputusannya seperti potensi bencana alam, bagaimana keselamatan penghuni properti dan masyarakat di sekitarnya? Di lain pihak, pemerintah setempat, apakah betul betul paham akan pulaunya sendiri, pahamkah akan potensi, kekuatan dan kelemahan pulau Bali, selain pemahaman akan potensi ekonomisnya.

Dalam skala yang lebih mikro, contohnya, berapa banyak orang termotivasi bekerja keras untuk membeli mobil. Banyak juga yang menjual tanah untuk membeli mobil, apa yang dikorbankan? Kesejahteraan generasi penerus. Berapa lama mobil bisa dimanfaatkan, sedangkan setiap tahun, mobil baru selalu keluar di pasaran dan celakanya produk teknologi komersil rata-rata memiliki masa pakai yang singkat. Adakah produk teknologi tinggi yang umurnya bisa mencapai ratusan tahun dan masih berfungsi dengan sangat baik? Pesawat ulang alik ke bulan pun tidak bisa dipakai dua – tiga kali. Bangkai mobil, polusi udara, konsumsi energi dan ruang publik (macet menyita banyak ruang, waktu dan uang, belum lagi fenomena masih banyaknya jalan umum yang dipakai sebagai garase kendaraan) menyita perhatian pemerintah, menimbulkan konflik di masyarakat karena keputusan yang sifatnya hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek. Jarang sekali ada demo menuntut penyediaan layanan transportasi publik yang layak.

Ada kecenderungan untuk berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan pada kepemilikan pribadi sebagai penanda pencapaian dan status sosial, diluar fungsi ekonomis, hanya itu saja sebenarnya akar dan faktor pemicu kerusakan lingkungan, baik itu alam tempat kita berpijak maupun lingkungan sosial kita, terutama di perkotaan dan daerah-daerah yang dilalui jalur wisata. Fenomena fenomena seperti ini membuat hidup menjadi banyak tekanan, sedikit sekali saya kira bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan terutama yang tidak mengeluh tentang kondisi saat ini. Bagaimana dengan banjir? Ah sudahlah, bisa beratus ratus halaman jika terus menerus mengemukakan masalah. 

Gadget seperti tablet, pad, smartphone dan semacamnya diiklankan sebagai alat untuk mempermudah hidup dan simbol masyarakat modern. Modern itu apa? Mempermudah hidup siapa? Jarang yang tahu bahwa sumber bahan baku smartphone seperti timah melibatkan eksploitasi alam di Bangka Belitung yang sangat merusak kualitas hidup masyarakatnya. Properti mewah berbahan marmer, batu batu alam, pasir, dari mana semua itu berasal dan bagaimana kondisi masyarakat di tempat semua bahan baku berasal. Sesekali jalan jalanlah ke Kintamani, Karangasem dan Klungkung, lihatlah bagaimana kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitar tambang pasir di sana. Terlalu banyak yang berfokus pada peningkatan ekonomi, hitung-hitungan angka tanpa memperhatikan keselamatan hidup manusia itu sendiri. Sepertinya selama yang menghitung perekonomian di atas kertas adalah orang lain dan yang mengerjakan orang lain dan dampaknya dirasakan orang yang lainnya lagi, masalah ini akan terus berputar putar karena pelaku tidak merasakan konsekuensi dari keputusan yang dibuatnya.  

Logika berpikir yang menghasilkan keputusan akan pemenuhan jangka pendek ini (lingkaran setan) sangat dilanggengkan oleh program-program televisi yang dibuat oleh orang miskin yang ingin hidup atau “berhasil” hidup ”layak dan nyaman” dan menjadi contoh bagi orang miskin lainnya yang ingin mencapai kehidupan yang sama, dalam istilah sosiologi-antropologi, hal ini disebut dengan demonstration effect.  Logika berpikir yang kemudian mewabah bagai virus, menciptakan sistem yang cacat. Lingkaran setan ini sebenarnya tidak susah untuk diputuskan, matikan saja televisinya, selamatkan anak-anak yang masih polos dari kontaminan seperti ini dan berupayalah merombak pola pikir kita sendiri. Sayangnya tidak hanya televisi  saja yang membawa virus pola pikir ini, media online, media cetak yang masuk kategori mainstream juga merupakan struktur pendukung logika berpikir yang cacat. Tapi memang agak susah berhadapan dengan euforia orang-orang miskin yang jumlahnya fenomenal karena definisi miskin di sini, termasuk di dalamnya adalah orang yang tidak paham apa arti cukup.
 
Istilah-istilah "layak", "beradab", "canggih" perlu pendefinisian ulang. Bagi saya, bukan canggih namanya jika masa pakai dan daya gunanya hanya berkisar puluhan tahun, tidak menjamin kesinambungan justru merampas kesejahteraan generasi penerus. Euforia terhadap penemuan baru dan produk teknologi “tinggi” yang diderita masyarakat negara berkembang (cenderung miskin) membuat lupa akan akar budaya adiluhungnya masing-masing  yang justru sudah terbukti selama ratusan bahkan ribuan tahun menjaga kelestarian dan keselamatan hidup manusia jangka panjang. Seperti Subak di Bali, yang ditemukan pada abad ke-6, hingga sekarang masih eksis. Subak merupakan salah satu organisasi tua yang masih berjalan hingga saat ini, sistem irigasinya patut diberikan predikat teknologi canggih selain merupakan produk kearifan lokal, sedangkan banjar merupakan organisasi tertua di Bali yang sangat unik, yang pada dasarnya tanpa campur tangan pemerintah pusat, Bali sudah mampu mengurus dirinya sendiri karena memiliki banyak organisasi yang sangat sistematis dan masih relevan hingga saat ini. Dua hal ini, semakin lama kian pupus maknanya dari alam Bali.

Penemuan baru, sistem dan produk teknologi baru yang tidak dapat mendukung kelestarian alam, lambat laun akan merampas kehidupan manusia itu sendiri. Produk berupa barang sangat mudah untuk diciptakan dan dilenyapkan, namun tidak halnya dengan sistem. Bali memiliki banyak sistem yang berumur ratusan bahkan ribuan tahun, mengapa tidak belajar dari leluhur kita dan meneruskan sistem yang sudah kokoh tersebut?



January 11, 2014

Beradabkah masyarakat di sekeliling kita?




Yang sering traveling dan senang binatang mungkin bisa lihat perbedaan perilaku dan kondisi binatang liar yg ada di satu daerah dan daerah lainnya. Saya suka anjing, tapi takut anjing liar, entah kenapa banyak yg galak. Di beberapa tempat seperti di Kyoto (Jepang), Melaka (Malaysia), Pai (Thailand) misalnya, anjing dan kucing liarnya gemuk, sehat dan kalem. Lucu lucu dan jinak. Saya ambil kesimpulan, jika binatang liar di satu daerah kondisinya sehat dan jinak, masyarakat di tempat itu cukup beradab. Perilaku dan kondisi binatang adalah refleksi lingkungan sekitarnya dan pernyataan Mahatma Gandhi mengkonfirmasi pikiran saya selama ini.

"The greatness of a society and its moral progress can be judged by the way it treats its animals.” ~Mahatma Gandhi

Pilih tempat tinggal dengan cara menyelidiki kondisi binatang yang ada di sekitar. Masyarakat yg beradablah yang membuat kita tinggal dengan nyaman di satu tempat. Semakin beradab, semakin tahu cara menghargai kehidupan lain.


January 8, 2014

Tuan semua manusia adalah manusia itu sendiri

Mengapa isu isu lingkungan hidup dan isu isu global sepertinya kurang bisa diserap masyarakat kebanyakan? Saya seringkali paling senang menyalahkan media yang "kurang mampu" menyajikan informasi dalam bahasa yang mudah dipahami orang awam mengenai isu-isu genting.

Saat ini saya coba untuk memposisikan diri sebagai orang yang  betul betul awam tentang isu lingkungan hidup dan is- isu global, seperti perubahan iklim dan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization). Dua hal ini adalah istilah yang jarang diperbincangkan orang kebanyakan karena hubungannya dengan garam dapur, harga BBM dan puting beliung tahun kemarin sangat tidak kentara. 

Jika saya, sebagai orang yang betul betul awam, dipaparkan informasi tentang perubahan iklim seperti ini:

Perubahan Iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata, contohnya jumlah peristiwa cuaca ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Perubahan iklim dapat terjadi di seluruh wilayah bumi. (Wikipedia)

Kemungkinan besar reaksi saya adalah bingung dengan rangkaian kata-kata rumit tadi, mendapat gambaran dari penjelasan istilahnya pun tidak. Lalu apa hubungannya dengan manusia? Bukankah ini merupakan skenario Tuhan yang harus saya terima? Butuh waktu bagi orang awam untuk memahami fenomena alam dan kaitannya dengan kegiatan manusia sehari hari, terutama bagi yang belum sempat mengalami dampak perubahan iklim yang dianggap “tidak terlalu ekstrem” seperti  banjir di Bundaran HI di Jakarta. Berapa banyakkah orang yang paham tentang penyebab banjir di Jakarta?  Berapa banyak yang menganggap banjir disebabkan oleh datangnya musim penghujan dan adalah hal wajar yang nanti akan surut dengan sendirinya, atau karena itu sudah bagian dari tinggal di Jakarta, dari dulu juga kan sering banjir?

Belum lagi jika harus mengkaitkan Organisasi Perdagangan Dunia dengan perubahan iklim. Apa sih hubungan anara keduanya? Apa sih hubungannya dengan hidup saya, harga bawang di pasar, pekerjaan saya, kebiasaan saya? Jauh sekali rasanya keterkaitannya, bahkan mungkin banyak yang tidak merasa bahwa rata-rata dari kita adalah bagian dari dan pencetus krisis apapun yang ada saat ini. 

“Sinting banget itu ya menebang pohon di Kalimantan, menganiaya masyarakat sana, membunuh orang utan, keji sekali”, kata seorang penjual dan penggemar makanan ringan instan yang sumber bahan bakunya berasal dari wilayah konflik yang disebutkan, dan saya hanya terpana karena mengalami keterbatasan waktu dan kata-kata untuk menguraikan satu persatu kaitan antara dirinya dan kekerasan yang terjadi. Jika saya berikan tautan informasi yang marak di dunia maya pun, kemungkinan besar tanggapan yang akan saya dapatkan hanya tatapan kebingungan, karena banyak istilah-istilah rumit, atau diam dan tetap menjual dan melanjutkan mengkonsumsi makanan kesukaannya karena pada dasarnya ia sudah sangat siap untuk bersikap tidak peduli. Dan masih banyak juga yang sudah mulai paham, sedang belajar dalam gerakan lingkungan hidup, aktif terlibat dalam gerakan lingkungan hidup atau isu isu sosial, tidak memiliki pemahaman yang mendalam seperti yang saya harapkan, atau memang niatnya hanya ikut-ikutan.

Fenomena ini lebih sering ditemukan diantara masyarakat "berpendidikan" di daerah perkotaan, lain halnya jika saya berbincang bincang dengan masyarakat di kampung yang masih jauh dari "peradaban", saya hampir tak perlu menjelaskan lagi, bahkan saya banyak belajar dari mereka, karena mereka yang hidup sederhana, hanya mengambil secukupnya dari alam adalah panutan saya.

Di awal perkenalan saya terhadap isu-isu lingkungan dan isu-isu global lainnya, walaupun lambat laun paham, saya bingung harus memulai dari mana jika ingin menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik. Mungkin ada juga yang merasa depresi tidak menemukan solusi dari semua krisis yang dipahami atau dibaca, lalu memilih untuk menjalani kebiasaan lama, menjalani hidup “apa adanya” dan lebih baik mencari kesenangan daripada memikirkan hal-hal rumit. Ada juga yang merasa belum siap untuk merubah kebiasaan karena hidup yang dijalaninya sudah cukup membuatnya nyaman. Apalagi sih yang dicari selain kebahagiaan? Bukankan setiap orang mencari kebahagiaan? Tidak cukup waktu rasanya memikirkan perubahan iklim, isu buruh, demo kenaikan BBM, WTO dan lain lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarga dan pekerjaan. Ada hal lain yang “lebih penting” untuk dipikirkan. Begitulah, sayangnya, kenyataan yang seringkali saya temukan, hingga saya yakin, metoda penyampaian informasi selama ini kurang efektif, luput sasaran, sehingga membuat isu-isu penting terlihat sangat jauh dari realita keseharian. 

Ketika terbentur dengan kenyataan ini, ada hal yang sebenarnya paling penting untuk dilakukan, alih-alih berupaya membajak dominasi media arus utama, jauh lebih baik merevolusi diri terlebih dahulu dan belajar memposisikan diri sebagai orang awam yang perlu diberikan pencerahan. Perubahan yang ada dalam diri jauh lebih penting ketimbang segala upaya merubah pandangan orang kebanyakan. Sebatas paham permasalahan tanpa bisa kritis terhadap kebiasaan diri sendiri, saya pikir jauh lebih fatal dari “kebutaan” orang yang awam akan isu-isu genting. Pergulatan yang sesungguhnya ada di dalam diri sendiri dan berbuat baik saja tidaklah cukup, tapi harus berbuat baik dengan cara yang benar. Percayalah, kalimat barusan maknanya tidak sederhana.

Sumber petaka dari krisis lingkungan hidup dan krisis lainnya adalah ketidaksadaran akan kemampuan diri menjadi bagian dari perubahan sistem yang carut marut. Segala macam ketimpangan yang ada justru dilanggengkan dengan kebiasaan-kebiasaan kita mengkonsumsi/membeli, tanpa mempertanyakan masalah harga, asal bahan baku, trend yang muncul di pasaran apalagi etika bisnis. Kebiasaan kecanduan akan merek dan gaya hidup tertentu yang seringkali dianggap representasi diri dan kualitas diri juga sangat sulit untuk dibenahi. Semua perusahaan berlomba lomba memproduksi, apapun, untuk dijual, mendapatkan keuntungan. Sayangnya belum ada batasan berapa keuntungan yang adil dan batasan kekayaan yang bisa dimiliki individu tanpa mengorbankan banyak hal.  Adakah batasan yang pantas untuk mengeksploitasi sumber daya alam atas nama kebutuhan pasar . Berapa persen dari populasi dunia yang nota bene adalah pemilik usaha dan berapa persen yang dianggap target pemasaran? Populasi konsumen (target pemasaran) yang dianggap sebatas deretan angka (dan sayangnya secara tidak sadar kita setuju hanya dianggap angka) merupakan kekuatan yang sesungguhnya dalam penentuan kebijakan ekonomi atau kebijakan apapun. 

Bagaimana menjadi bagian dari perubahan tanpa harus jadi pahlawan kesiangan bukan hal yang luar biasa susah. Memulainya dari belajar mencari nama perusahaan yang memproduksi barang, dari mana bahan bakunya didapat, bagaimana praktek bisnisnya, seberapa banyak tumpukan sampah di rumah jika membeli produk dalam kemasan, bagaimana dampak dari keputusan untuk membelanjakan uang untuk produk -produk tertentu, mencari alternatif produk yang relatif lebih aman, mengenali dan mengidentifikasi merek -merek yang mendominasi pasar hingga memahami dampaknya terhadap lingkungan hidup dan perekonomian di lingkungan tempat kita berada, semua itu merupakan beberapa tahapan yang dapat membantu memahami sedikit demi sedikit krisis yang kita buat secara tidak sadar. Sekedar berlatih bertanya pada pedagang sayur di pasar dari mana mereka mendapatkan pasokan sayurnya, di luar dugaan, dapat menuntun kita pada pemahaman akan krisis bahkan solusi.

Perusahaan berfokus pada upaya menjual, menjual dan menjual, dan salah satu upaya agar produk yang mereka coba pasarkan dapat diserap konsumen adalah beriklan. Jeli dalam mengamati pesan-pesan terselubung, berupaya untuk kritis mempertayankan “kebenaran” akan citra yang dibentuk perusahaan merupakan kebiasaan yang harus terus menerus dipupuk agar tidak terus menerus terjebak dalam sistem yang merusak, agar terlepas dari budaya “membeli adalah tanda bahwa kita eksis karena sanggup bayar”. Produsen berupaya menciptakan kebutuhan, sedangkan definisi kebutuhan semakin jauh dari arti sebenarnya, yang pada hakikatnya, kebutuhan yang paling medasar adalah tanah, air, udara yang bersih dan hak untuk hidup. Jadi pertanyaan yang harus sering diulang ulang dalam benak adalah, jika saya tidak membeli produk X merek AIUEO, apa yang akan terjadi pada saya, matikah? Latihan seperti ini bisa dilakukan sambil bersenang senang di dalam mall atau supermarket. Bahkan Anda akan tergelak sendiri ketika memahami betapa mudahnya untuk berkata tidak terhadap kendali satu perusahaan besar, sedangkan Anda memiliki kemampuan untuk membeli apapun yang Anda pikir perlu. Jadilah tuan dalam pemikiran kita sendiri. Mulai saja dari situ.

January 1, 2014

Kereta eksekutif bergambar naga di atas awan



Alkisah seorang pemuda tanggung bernama William Kodirun bin Kodirat bergegas menuju stasiun terdekat yang berjarak 45km dari kampungnya, Beas Akeh, yang tidak tercantum di peta, karena teman teman alumni SMAnya yang dipimpin oleh Susila Bin Yuwono sudah menunggu di stasiun Harapan Kita untuk berdarmawisata ke kota. Katanya mau lihat monumen yang terbuat dari emas dan main main ke bandara untuk lihat pesawat terbang.

Untungnya tiket sudah dibeli jauh jauh hari oleh Susila (yang memiliki julukan Seciping) lewat calo tiket dengan harga murah karena mendapat harga grup wisatawan domestik.

Sesampainya di stasiun Harapan Kita tepat jam 08.07, William Kodir disambut gegap gempita oleh teman teman yang saking semangatnya mereka sudah berada di stasiun sejak jam 5 subuh, padahal jadwal kereta berangkat jam 09.05, kata calo.

Keriuhan menyambut William Kodir hanya sejenak karena mereka sudah letih menunggu kereta yang tak kunjung datang. Akhirnya kereta eksekutif yang mulus dengan warna mencolok bergambar naga di atas awan datang, kereta itu terlihat hanya sebagian kecil terisi.

Seciping serta merta menggegas kawan kawannya untuk naik. Dia pemegang seluruh tiket teman-temannya, otomatis temannya dengan senang hati menyambut instruksi Seciping. Di atas kereta, William tidak langsung duduk, dia terkesima dengan kursi yang bisa diputar ke depan belakang, layar TV yang menampilkan wanita anggun yang menyambut penumpang baru di stasiun dan tirai jendela yang bersih dan cantik. William Kodir berpikir, akhirnya dia bisa keluar sejenak dari kejenuhan kampung Beas Akeh dengan kereta ini. Semua teman temannya sudah duduk, William Kodir pun duduk di tempat yg ditentukan Seciping. Senda gurau, tawa, harapan melihat monumen emas dan kapal terbang terus menerus dibahas, katanya buku, emas itu beratnya 50kg. Bukan main besarnya emas itu he? "Pasti paling besar senusantara, sedunia!" kata Seciping, yang belum pernah ke Tembaga Pura, apalagi ke gudang Federal Reserve Bank.

Tiga jam sudah berlalu, canda tawa berganti dengkuran, harapan berganti lapar. Kebetulan pramugari kereta sedari tadi memang rajin mundar mandir menawarkan makanan. William Kodir memesan sepiring nasi goreng, namun pramugari bilang di kereta itu tidak ada nasi goreng, dan mempersilahkan William untuk memilih makanan dalam menu. Astaga! Menu makanan apa ini, William terperanjat karena satupun dia tidak paham bentuk rupa menu yang ditawarkan, harganya pun dalam dolar. William merogoh koceknya sambil bertanya, "Mbake, ini harganya pake dolar negara mana?". Pakai dolar manapun uang Willian Kodir tidak ada artinya, akhirnya dia hanya memilih es teh manis, karena hanya itu yang dia pahami, karena ada kata "ice", "tea" dan "sweet". Sweet itu pasti gula, pikir William Kodir. Di kampung Beas Akeh banyak teh dan tebu, karena sekarang tanaman itu katanya Seciping paling banyak menguntungkan. Masyarakat yang tadinya menanam beras berbondong bondong menanam teh dan tebu.

Empat jam berlalu, lima jam berlalu, lapar, jenuh tak tertahankan, teman teman mulai gusar dan bertanya tanya pada Seciping, berapa lama lagi akan sampai tujuan. Kereta eksekutif itu padahal cepat sekali jalannya, karena eksekutif, kereta itu tidak berhenti menunggu di tiap persimpangan rel. Lain halnya dengan kereta butut yang sedari tadi terlihat harus mengalah dengan kereta yang ditumpangi William Kodir dan teman teman. Ketika berpapasan dengan kereta butut yang menunggu kereta eksekutif lewat, Seciping dan teman teman bersorak riuh menertawakan kereta-kereta butut yang mandeg sesaat.

Kata Seciping, "dasar norak, nanti juga sampai kok, kalau sudah di dalam kereta eksekutif mana mungkin nyasar, kan rel keretanya ujungnya cuma satu".

Delapan jam berlalu, William Kodir mulai pada puncak kegusaran. Ia beranjak dari tempat duduk dan berjalan jalan ke gerbong yang lain berharap bertemu pramugari cantik yang tadi menyodorkan menu untuk menanyakan beberapa hal di luar menu, uangnya hanya cukup untuk membeli sepuluh cangkir es teh manis dan dua posri makanan yang judulnya kalau tidak salah ingat Chicken Cordon Bleu. Menu yang aneh, dia pikir. Siapa juga yang mau makan ayam apa itu yang warnanya biru.

Tidak lama kemudian terlihat William Kodir berlari lari kembali ke gerbongnya, dengan muka merah menahan geram dan lapar, ia menghardik Seciping. "Lihat tiketnya! Kita mau ke mana?!, kita salah naik kereta! Ini bukan kereta yang seharusnya kita naiki!, kereta kita datang pada pukul 9.05, kenapa kamu suruh kami semua naik yang jam 08.30??!!, kan sudah ada aturannya!".

Seciping panik, apalagi teman teman yang lain, yang sudah hampir kehabisan uang karena terus menerus terpaksa membeli makanan dalam kereta yang menunya dalam dolar. Keriuhan terjadi, saling tuding dan

Silahken lanjutkan sendiri ceritanya, mau diselesaikan silahken, mau dikomentari silahken, penulis tidak akan mengintervensi kehendak dan imajinasi pembaca yang pastinya memiliki cara sendiri sendiri untuk mencapai happy ending dari skenario yang sudah terlanjur ditentuken orang lain.