Translate

October 25, 2014

Diam itu emas. Benarkah?



Dulu saya pernah berpendapat bahwa kehidupan para pertapa, para bikshu atau pendeta adalah hal yang sangat egois. Bagaimana tidak, mereka terlihat seolah olah tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar dirinya. Di luar sana ada banyak ketimpangan sosial, kemiskinan, kekerasan, perusakan alam dan sebagainya, namun para hermit ini seolah tidak bergeming atau tidak menunjukan kepedulian terhadap segala fenomena yang membuat hati kebanyakan orang bergejolak oleh amarah. Mereka justru sibuk dengan segala puja puji dan doa doa saja. Memangnya segala macam masalah bisa reda tanpa keterlibatan langsung manusia, yang dianugrahi akal budi, sehingga memiliki tanggung jawab sebagai pemelihara. Itu pendapat saya, dulu.

Ketika terpanggil untuk merespon satu tragedi kemanusiaan, sesegera mungkin kita ingin melakukan sesuatu, bahkan merasa gelisah hingga frustasi ketika tidak tahu apa yang harus dilakukan pada awalnya. Alih alih mengamati dengan seksama setiap variabel  dan sejarah yang memicu satu tragedi terjadi, kebanyakan dari kita sudah jatuh pada penghakiman. Banyak diantara kita yang bertindak gegabah bahkan dalam melakukan suatu “kebaikan”. 

Belakangan ini saya baru paham bahwa ilmu fisika itu memang nyata-nyata sangat dekat dengan keseharian kita. Bukan sesuatu yang hanya tertulis di jurnal atau buku-buku pelajaran. Ada aksi ada reaksi, namun apa sih kaitanya dengan tragedi kemanusiaan yang ada di sekitar kita?

Saya pernah tak habis pikir, kenapa para petani yang bekerja keras di suatu daerah mendapat banyak masalah, salah satunya kelangkaan air, belum lagi yang bentrok dengan aparat karena sengketa lahan. Setelah saya amati, para petani ini juga pada dasarnya rakus dan ingin menang sendiri. Perambahan hutan, perluasan areal bercocok tanam, praktek monokultur, penggunaan bahan kimia yang merusak ekosistem, apakah tidak dilihat sebagai suatu kejahatan, walaupun tidak dilakukan kepada sesama manusia lainnya secara langsung. 

Ada aksi ada reaksi, dalam konsep yang serupa disebut karma. Jika kejadiannya seperti demikian, apa yang hendak diperbuat? Untuk menolongpun kita harus mampu memiliki kemampuan dan pemahaman yang melampaui kemampuan dan pemahaman orang yang kita tolong, yakinkah mereka lebih tidak tahu?

Yakinkah bahwa ada ketidakadilan di dunia ini, jika alam semesta mampu menyeimbangkan dirinya sendiri. Semakin kita mengaduk samudra semakin naik ke permukaan segala apapun yang ada di dasarnya, semakin besar riak gelombang yang dirasakan. Apakah kita senang berlayar di samudra yang tenang atau sebaliknya. 

Jangan mengundang reaksi yang tidak kita ketahui konsekuensinya, karena konsekuensi mengikuti hukum alam, bukan mengikuti kemauan kita. Pada akhirnya saya paham bahwa melihat dengan mata yang kemampuannya terbatas, berbeda dengan diam namun mampu melihat bahkan menyuarakan kebenaran yang hakiki. 

Maka itu para pertapa, bikshu, pendeta hanya berupaya menyuarakan kebenaran, tidak berpihak, tidak menghakimi, dan hanya menyebarkan cinta kasih, karena hanya itu yang mendamaikan semua mahluk Tuhan.

Ignorance is a bliss. Really?



Ignorance is a bliss. Really?

Kalimat ini seringkali dilontarkan, tapi saya seringkali berkerut kening ketika mendengarnya.

Satu renungan panjang dibutuhkan untuk memahami apa makna sesungguhnya dari kalimat tersebut. Ada satu kejadian yang membantu saya memahami hal itu. Ini berawal dari seorang teman yang saya temui dan saya bercerita padanya tentang isu seputar pertanian dan lingkungan hidup. 

Ada banyak hal dan informasi yang tidak sampai ke masyarakat luas, termasuk masyarakat yang berpendidikan sekalipun. Saya mengemukakan tentang jahatnya satu perusahaan makanan ringan yang memiliki konsesi lahan untuk perkebunan sawit. Bagaimana perusahaan tersebut merampas hak hidup masyarakat adat (dan membasmi ekosistem hutan tersebut)  yang dari generasi ke generasi merupakan penjaga hutan hujan, paru paru dunia. Perusahaan makanan ringan itu hanya satu dari ratusan kasus lain yang serupa, yang ada di sekitar kawasan yang sama di Sumatera. Belum lagi saya ceritakan tentang hubungan antara kebiasaan kita yang gila gadget dengan kerusakan lingkungan di Bangka Belitung akibat penambangan timah untuk keperluan industri teknologi tinggi (produk elektronik). 

Jadi ada banyak krisis yang pada dasarnya disebabkan oleh banyaknya ragam kemudahan dan “kebutuhan” hidup masyarakat “modern”.  Ini semua karena hampir semua media massa, terutama yang populer,  dikuasai mereka yang berkepentingan untuk melanggengkan praktek-praktek yang merusak itu. Oleh karenanya, tidak heran jika banyak yang tidak tahu keterkaitan antara satu dan lain hal. Kita dibuat buta sebuta butanya, karena pola pikir kita dikondisikan penguasa media massa.

Teman saya itu hanya menatap tanpa berkata apa-apa, sambil sesekali mulutnya ternganga dan sesekali menggosok mukanya dengan kedua tangannya, seolah tidak menyangka bahwa pertemuan hari itu akan membawanya ke alam realita yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Mungkin ada sedikit sangsi dikeluarkan dari bahasa tubuhnya. Seeing is believing. Oh ya? Tapi kita tidak perlu jauh jauh pergi untuk mengkonfirmasi apakah yang saya kemukakan itu fakta atau fiksi. Saat ini kita bisa mencoba melihat kenyataan itu lewat teknologi layar sentuh di smartphone kita, saya bilang. Mengenai hutan hujan itu, kita bisa lihat seluas apa kebotakannya lewat Google Earth. Jika ingin lebih mudah lagi, logika sederhana seringkali adalah sesuatu yang paling bisa menguraikan kerumitan satu permasalahan (atau suatu permasalahan yang dibuat seolah rumit). Jika hukum alam = hukum keseimbangan, maka, jika ada penambahan di satu sisi, maka akan ada pengurangan di sisi lain. Apakah yang dikurangi (dikorbankan) untuk memproduksi sekian banyak “kebutuhan” hidup manusia? 

Diujung percakapan kami (oke, itu bukan percakapan, tapi lebih mirip monolog) dia menggumamkan sesuatu. “Indeed, ignorance is a bliss ya”. Ha? Saya tidak paham apa maksudnya. “Maksud gue, elo tau semua informasi ini, gimana loe bisa hidup dan menjalani hari-hari loe dengan tenang tanpa khawatir loe nyakitin orang lain, nyakitin orang utan yang mukanya memelas…aduh, kayaknya gue jadi gak tau mau ngapain setelah ini, gue ngerasa serba salah. Berarti kita semua penjahat gitu?  Asli gue ngerasa apa yang gue lakuin selama ini salah semua”. Well, kamu bukan orang pertama yang merasakan hal seperti ini ketika terpapar informasi yang serupa untuk pertama kalinya, saya bilang. Seringkali yang jadi permasalahan, setelah tahu jalan ceritanya, akankah kita tetap menjalani kebiasaan kita yang merusak itu  dan bagaimana upaya memperbaikinya? Pelajaran apa yang harus kita ambil dari fenomena-fenomena seperti ini? Hal seperti ini harus disikapi, bukan dihindari.

 Pastinya banyak yang bingung ketika harus menilai ulang segala keputusan yang pernah diambil, gaya hidup yang sedang digandrungi, pola pikir yang selama ini dianggap “sophisticated”, pandangan terhadap lingkungan pergaulan dan oh my God, no…not those achievements please. Yes, those achievements yang ternyata banyak diantaranya bukan achievement yang sesungguhnya, karena secara langsung atau tidak langsung banyak ragam prestasi/pencapaian, yang syaratnya didasarkan pada pola pikir yang salah kaprah tentang banyak hal, tidak lain hanyalah pencapaian semu yang merusak bahkan kehidupan itu sendiri.

Ketika saya mengunyah ngunyah lebih lama lagi kalimat “ignorance is a bliss”, saya pikir sepertinya banyak juga orang yang salah kaprah mengartikannya, yang paling parah adalah jika terjemahannya demikian “ah, mendingan gue gak tau dan gak mencari tau tentang apa apa yang bikin gue gak nyaman dan setelah gue mencari tau, hidup gue kayaknya bakal tambah susah” (kok panjang banget ya terjemahannya).

Saya langsung memvonis, siapapun yang mempergunakan kalimat “ignorance is a bliss” untuk menghindar dari tanggung jawab sebagai bagian atau pemicu dari satu permasalahan, dari tanggung jawab yang memanggil rasa kemanusiaan, dari tanggung jawab sebagai MANUSIA, maka pada dasarnya ia adalah penjahat yang sesungguhnya, kalau bukan iblis.. Itu namanya “willfull ignorance” atau “playing ignorance”, saya tidak tahu apa terjemahannya dalam bahasa Indonesianya. Kalau seperti itu, berarti ignorance is a bliss for the willful ignorants, but a disaster for other being  and their own environment. Kata lainnya adalah "happines" at the expense of other being's life.

Ketika saya melihat salah satu masyarakat di satu tempat agak terpencil, yang sangat mandiri (masih dapat diakses dengan kendaraan roda empat hingga 5 kilo meter sebelum masuk perkampungan tersebut), saya terinspirasi. Mereka tidak “menikmati” listrik seperti warga lain yang “lebih beruntung” karena daerahnya dialiri listrik sehingga bisa menonton TV. Di daerah itu tidak ada mall, bioskop, cafe, majalah fashion, perpustakaan yang dilimpahi buku-buku best seller, hand phone? Mau dicolokin ke mana? Facebook? Muke lu gile?

Terbelakang sekali ya? Iya, pikiran kita, yang menganggap mereka terbelakang, justru terbelakang. Pikiran kita, yang hidup diantara sekian banyak kenyamanan yang masih saja selalu kurang, menganggap kondisi mereka yang sedemikian “off grid” adalah satu kondisi yang memprihatinkan. Mungkin jika mereka adalah korban marjinalisasi atau pengkondisian, barulah kondisi itu memprihatinkan. Namun jika satu masyarakat secara sadar memilih gaya hidup yang "off grid", itu lain permasalahan. Saya tidak tahu mana yang lebih memprihatinkan diantara orang yang sangat cekatan menyelaraskan diri dengan alam dan yang sangat tergantung dengan smartphone. 

Hm…tiba tiba saya ingat akan keinginan beberapa waktu lalu untuk membeli Mac Air, walaupun sudah punya notebook. Latar belakang pemikiran dari keinginan itu adalah karena logonya adalah apel yang gak habis dimakan dan karena itu adalah sejenis "kebutuhan" untuk yang suka traveling, karena ukurannya sangat ringan kalau saya bepergian dengan bawaan ringan, karena saya masih harus membagi tas traveling dengan gadget lainnya dan kerena OSnya  sudah pasti asli, tidak akan merepotkan jika harus dibawa ke luar negeri  dan karena harganya adalah simbol status kelas menengah ke atas. Ya, semua itu adalah "kebutuhan".

 Ah, indeed, ignorance is a bliss. 

Bisakah kita tidak berlebihan dalam mengkonsumsi? Berlebihan itu yang bagaimana? Ah...itu pembahasan panjang yang tidak akan selesai diurai, jika nurani sudah  tumpul parah.

Diskotek, Pineal Gland dan Bunuh Diri Masal



DA : Di Banjarmasin itu ada diskotik besar sekali, mirip kayak Stadium di Jakarta. Aku heran banget kenapa diskotik itu harus sebegitu gelapnya, maksudku bukan masalah lightingnya, tapi apa ya, rasanya tempat itu gelap sekali.

A : Haha, what do you expect, segerombolan orang dengan niat tertentu, yang waktu itu mungkin auranya lagi gelap, energinya lagi negatif, berbondong bondong datang ke satu tempat yang jadi wadah niatnya itu. Pasti gelap lah semua jadinya, gak cuma lampunya aja yang remang-remang. Hehe

DA: Hehe, di dalam asapnya (rokok) gila sekali, aku keluar karena gak tahan, lucunya, keluar dari diskotik juga ketemu asap dari kebakaran hutan. Itu gila itu haha. 

A: Kalau orang Yahudi dipaksa Nazi masuk ke gas chamber, ini orang di sana (yang masuk diskotik di Banjarmasin) dengan suka rela bunuh diri masuk ke “gas chamber”, haha. Baguslah, buat mengurangi jumlah populasi penduduk juga.

A: Ngomong-ngomong populasi penduduk, aku pernah baca artikel tentang perilaku komponen ekosistem di hutan belantara. Semut itu jenisnya banyak banget, dan kalau ada satu jenis semut tertentu yang jumlah populasinya terlalu banyak, akan ada sejenis jamur yang menyerang koloni semut jenis tertentu itu. Bayangkan, satu jenis jamur, untuk satu jenis semut tertentu. Jadi ada sejenis jamur yang beregenerasi dengan cara nebeng di bagian kepala semut itu sampai jamur itu tumbuh menembus tengkorak kepala semut, dan mengendalikan perilaku semut itu. Jamur itu bikin semut “dengan sukarela” melakukan tindakan bunuh diri dengan naik ke atas pucuk pohon dan kemudian terjun bebas sampai mati. Haha, keren ya. Jamur “doang” gitu, mampu mengendalikan perilaku spesies lain.

DA: Iya bener itu, aku juga nonton di YouTube tentang semut bunuh diri,  penelitian yang mirip, jadi semutnya selalu naik ke atas menuju matahari terbenam, trus terjun bebas, dan jamur itu tumbuh di atas jasad semut yang mati. Itu keren banget filemnya.

A: Menurut kamu apa orang yang ke diskotik di Banjarmasin itu kena jamur atau virus apa gitu ya? Jadi perilakunya kelihatan seperti mau bunuh diri secara sukarela gitu? Kalau begitu kenyataanya, itu bisa masuk akal. Kalau dunia ini punya kemampuan menyeimbangkan diri, pasti ada cara-cara yang cuma alam semesta aja yang tau, ketika ada fenomena overpopulasi spesies tertentu. Kecerdasan manusia itu semakin menurun, tapi jumlahnya banyak sekali, mungkin kita ini sudah seperti hama saja. Pasti ada sejenis jamur atau virus atau bakteri yang bekerja untuk mengurangi jumlah populasi manusia ya.

DA: Iya, kayaknya gitu. Secara hipotesa, kalau virus HIV-AIDS, kanker dan sebagainya itu tidak dibuat oleh pihak tertentu, mungkin itu muncul secara alamiah untuk mengurangi jumlah populasi.

A: Masuk akal, aku pikir juga begitu, alam sedang bekerja dengan caranya sendiri. Atau siapa tau generasi selanjutnya akan terlahir dengan organ reproduksi yang gak berfungsi. Trus kayaknya fenomena homoseksual juga muncul karena upaya alam menyeimbangkan diri. Bisa jadi gak sih sebenarnya kita sedang bunuh diri dengan kebiasaan kita buka Facebook, dikit-dikit ngeGoogle, haha.

DA: Aku juga, I can get crazy with Google, aku biasa nyari inspirasi dan baca baca artikel atau tulisan di sana. That’s cool ya.

A: Hm, actually…that’s kind of creepy, kita jadi sangat bergantung sama Google. Duh, jangan-jangan nanti hubungan antara anak-orang tua juga kena imbasnya. Pertanyaan anak seperti “Mom, what is God?”, trus emaknya jawab “Well, I am not sure honey”, “Ok, I’ll Google it”, kata anaknya. Atau “Mom, how’s your feeling today?” trus emaknya jawab “Well, I am not sure honey”, anaknya bilang “Ok, I’ll google it”.

Facebook dan Google  itu juga kan kecanduan jenis baru. Kita nanti akan berevolusi jadi spesies yang macam apa ya, setelah era Facebook dan Google? Mungkin kita nanti cuma tinggal kepala aja, karena bagian tubuh lainnya gak dibutuhin lagi, kita bisa komunikasi cukup lewat pikiran. Eh, tunggu, itu kalau kita makin cerdas, mungkin kita akan seperti itu. Nanti komunikasi gak perlu lagi pakai gadget atau alat bantu apapun. Seperti dalam filem “Lucy”, kalau penggunaan kapasitas otak kita sudah 100%, we will be everywhere and nowhere, haha. Aku pikir kecanduan itu pasti ada hubungannya dengan seleksi alam juga.

 Aku pernah baca artikel yang bilang bahwa kecenderungan addiction itu ada hubungannya dengan genetika. Bagi orang tertentu, gampang sekali jatuh kecanduan sama sesuatu, alkohol, drugs, rokok atau apalah, sambel terasi juga bisa. Aku ngerasa gak ada ketertarikan sama drugs, gak ada rasa penasaran sama sekali, minum alkoholpun gak begitu suka, ngerokok pun kalau harus berhenti gak pernah ngerasa berat. Tapi mungkin aku punya kecanduan yang lain, apa ya….hm apa ya…kayaknya gak ada, biasa aja ama semua hal. Katanya, secara psikologis,  orang yang gampang kecanduan sesuatu memang mentalnya rata-rata lemah. 

DA: Aku juga kayaknya gak pernah kecanduan sesuatu, hm..apa ya kecanduanku? Dulu aku ngerokok tapi kalaupun harus berenti beberapa bulan atau minggu, ya rasanya biasa aja. Eh iya, aku kemarin kemarin tiap kali bangun pagi, udah langsung duduk depan komputer, dan belum gosok gigi pula, haha gila ya! Sekarang gak lagi, gak mau gitu lagi ah.

A: Ya coba break the patern, kamu kan orang kreatif, untuk mengalihkan perhatian dari gadget, coba aja beli kayu, alat pahat, atau beli bola bekel! Tapi aku juga gitu sih, hal pertama yang aku lakukan setelah bangun pagi ya ngecek hape. Gila memang, hehe…

DA: Ngomong-ngomong tentang addiction, aku kayaknya kecanduan informasi, karena aku pernah bangun jam 3 pagi, trus gak bisa tidur dan akhirnya buka Google, aku nemu semacam jurnal ilmiah, lumayan banyak juga halamannya. Kamu tau pineal gland?

A: Pernah denger, tapi lupa definisnya apa. 

DA: Itu bagian otak kita juga. Kamu pernah tau kan ikan di laut dalam yang di kepalanya ada lampunya itu? Dia “mancing” makanan dengan lampu itu, sebenernya itu pineal gland. Kalau ikan ikan yang lain, pineal glandnya tertanam di dalam kepala, tapi ikan ini pineal glandnya tumbuh sampai keluar dari kepalanya. Fungsi Pineal Gland itu untuk menentukan orientasi gerak juga, karena dia terasosiasi sama rasi bintang, matahari, bulan, atas, bawah.  Rata-rata ikan punya sesuatu di bagian tengah matanya yang terkoneksi sama pineal glandnya. Kura-kura juga berenang sejauh 14.000km dengan menggunakan pineal gland sebagai kompas. Para penyelam laut dalam sudah pasti bawa kompas karena kadang gak ngerti orientasi, mana arah ke permukaan mana bawah, akibatnya bahaya, maunya naik ke permukaan malah bisa bisa menyelam tambah dalam. 

A: Wow keren amat, trus sekarang fungsi pineal gland kita gimana menurutmu? Apa menurun kemampuannya atau gimana? Kok kedengannra kayak mata ketiga ya?

DA: Iiya memang agak mirip mata ketiga kedengerannya, makanya para hippies suka dengan simbol mata ketiga yang letaknya di tengah tengah jidat itu. Di Mesir ada simbol mata di dalam lingkaran yang sebenernya bentuknya mirip dengan pineal gland. Menurut penelitian, pineal gland itu bisa berkurang fungsinya, seperti buram gitu. Itu karena pola makan minum kita yang gak bagus, pineal gland bisa diselimuti sama tumpukan kapur. Dan fungsi pineal gland bisa diperbaiki dengan mengubah kembali pola makan kita dan dengan mencoba melakukan aktifitas yang kita senangi waktu kecil, dan melatih lagi imajinasi kita.Tapi pas udah hampir selesai baca jurnal ilmiah tentang pineal gland itu, di bagian akhirnya ada semacam iklan obatan-obatan yang bisa “membersihkan” pineal gland gitu dan jadi pineal gland bisa berfungsi kembali, haha. Aku jadi ya…gimana ya rasanya setelah baca panjang lebar penjelasan ilmiah itu, ending nya ternyata jualan obat.

A: Hahhaaa…iya aku tau rasanya, itu mirip filem bagus tapi somehow di tengah proses bikin filem tiba-tiba sutradaranya mati atau script writernya gak lunas dibayar jadi harus diganti dengan sutradara ecek ecek, atau script writer abal-abal. Gak klimaks gitu. Haha...

DA: Hahha, iya mirip gitu deh.

Seperti ada kombinasi antara konspirasi manusia yang disengaja dan konspirasi alam semesta untuk mengurangi jumlah populasi manusia. Biar cepet, orang seperti Rockefeller menciptakan sebagian virus, bakteri, bahkan makanan GMO yang dapat mempercepat proses tercapainya jumlah populasi penduduk dunia yang ideal, 3 milliar saja, yang sesuai dengan daya tampung bumi,  dengan kondisi yang demikian, semua orang akan hidup sejahtera. Tidak, kami sedang tidak kena jamur yang bikin high, dan ini adalah renungan, bahwa baik buruk seolah tidak kentara batasannya.

June 30, 2014

Kosong

Suatu hari, saya tiba tiba merasa bahwa ada sesuatu yang absen dalam hidup saya, justru ketika saya merasa sudah memiliki “segalanya”.  Apa? Pasangan hidup? Hahhaa…pencarian hidup saya tidak sesederhana itu. Saat itu saya pikir yang absen adalah perasaan berarti bagi orang lain. Mungkin bagi yang sudah berkeluarga, perasaan berarti diharapkan datang dari belahan belahan jiwanya. Namun apakah hanya sebatas itu? Apakah hidup hanya berfokus di lingkup sekecil itu tanpa berinteraksi dengan kelompok manusia yang lainnya? Bagaimana akan menjadi betul betul berarti bagi keluarga jika fokus pemenuhannya hanya pada kebutuhan diri saja, termasuk keberadaan lingkungan di luar itu hanyalah bagian dari pemenuhan, tidak lebih. Saya rasa bukan perasaan berarti seperti itu yang saya inginkan.

Lalu kita harus bagaimana?

Kita harus berbuat sesuatu!

Sesuatu apa?

Mau apa?

Entahlah, pokoknya harus berbuat sesuatu. Mari kita…! (isi dengan apa saja yang dianggap penting, perlu, terlihat penting atau perlu).

Banyak keluarga hancur karena lepas ikatan tanggung jawab pada keluarga yang lebih besar lagi, ummat manusia, atau tidak usah bombastis, lingkungan sekitar saja. Kontribusi apa yang telah kita berikan pada kehidupan lain (yang tidak hanya manusia). Ada perasaan gusar, perasaan kosong,  bahwa di pertengahan perjalanan hidup ini ada sesuatu yang saya lupa pelajari, tapi entah apa itu.

Ada aksi, ada reaksi, setiap aksi menimbulkan reaksi, rentetan aksi menimbulkan serangkaian reaksi. Jika alam semesta selalu mencari keseimbangan, apapun hasilnya, pada saatnya, sesuai dengan perhitungan waktu alam semesta, akan tercipta keseimbangan. Jangan GR, tidak ada syaratnya bahwa peradaban manusia harus selamat ketika alam sedang menyeimbangkan diri. Lalu, apakah semua yang saya lakukan selama ini akan membuat saya siap menghadapi sang waktu?

Those who seek, will find. Saya yakin itu dan akhirnya, pada suatu hari lain setelah bertahun tahun mencari, dengan rasa damai saya bisa berteriak “eureka” dalam hati. Perasaan penuh, terlepas dari segala hiruk pikuk kehidupan di luar mikro kosmik (buana alit/diri sendiri), jika diibaratkan adalah biduk yang berlayar tenang di samudra luas yang kadang tenang kadang berombak. Kesadaran kita kadang timbul tenggelam, bagai biduk yang diterjang ombak, hambatan dan gangguan hidup datang silih berganti. Seberapa mampu kita menjaga kesadaran berada di atas segalanya .

Tugas kita di dunia ini hanya melihat, belajar, banyak melihat hingga bisa membedakan makna sesungguhnya dari segala yang hanya bisa ditangkap panca indera. Memahami kapan kesadaran itu muncul dan tenggelam dan apa penyebabnya.  Segala yang ada hanyalah ilusi yang kita bentuk sendiri. Bagaimana keluar dari ilusi hasil ciptaan kolektif ini? Perlu banyak berdiam diri. Itulah pekerjaan dan tugas yang sesungguhnya. Bagaimana melepas harapan-harapan. Bagaimana melepas keinginan untuk bercampur tangan atas kehidupan di luar diri kita. Kita akan paham siapa diri kita ketika kita sering berada sendirian, berdiam diri tanpa kepemilikan, dalam gelap, tanpa suara (kecuali suara alam).

Ketika manusia diberikan modal akal dan pengetahuan cukup untuk membaca alam (iqro), namun tidak dilakukannya karena membutakan diri atau menyianyiakan anugrahnya, itu adalah pilihan hidupnya, perjalanan spiritualnya. Yang memilih belajar pada alam, akan siap menyatu dengan alam kapanpun sang waktu “menghentikan” masa.

Kosong yang berarti hampa dan kosong yang berarti kembali ke titik nol, adalah dua hal yang berbeda, tapi kita harus melalui yang pertama sebelum paham arti yang ke dua.

June 28, 2014

Moon River (is the beginning of blood red rivers)

Baru baru ini saya melihat filem klasik bertajuk Breakfast at Tiffany’s yang dibintangi oleh Audrey Hepburn (berperan sebagai Holly Golithly/Lula Mae). Bagi pencinta filem klasik dan pemuja kecantikan klasik, sosok Audrey Hepburn pastinya tidak asing lagi. Begitupula bagi  pencinta fashion, dan saya yakin para Chanella berkiblat pada sosok “wanita setengah dewi” yang satu ini dalam filem tersebut.

Apakah saya akan merekomendasikan filem ini untuk ditonton?  Filem ini cukup menarik untuk ditonton bagi mereka yang berasal dari desa/kota kecil dan pernah berkeinginan hidup di kota besar.

Sepanjang menonton filem ini saya kerap tertawa geli dan cukup menangkap pesan bahwa memang filem ini sedang ingin menertawakan gadis desa yang dulu lugu dan memiliki keinginan mengecap gemerlapnya kota New York. Kekonyolan demi kekonyolan itu diungkap secara subtle dalam setiap scene. Pesta, perhiasan, baju-baju yang indah, orang-orang kaya, gedung bertingkat adalah hal-hal yang memikat Holly, sang gadis desa yang dulu lugu. Holly adalah nama-kota Lula Mae (nama ini adalah tipikal nama gadis desa di Amerika) dan bukan hanya nama, bahkan aksen kental kampungnya juga “berhasil” dihilangkan. Holly adalah pemimpi besar. Ia bermimpi hidupnya akan menjadi lebih bahagia jika ia berhasil menikah dengan orang kaya, karena tidak ada yang lebih mendamaikan hati seorang gadis dari melangkah turun dari taksi menuju toko perhiasan besar Tiffany’s karena ia mampu membeli perhiasan manapun yang ada di Tiffany’s.


Dalam hati, saya ingin sekali noyor perempuan ini, dia pasti tidak tahu bahwa permata dan berlian yang dijual perusahaan besar berasal dari wilayah konflik yang tidak jarang rentan perang saudara, seperti di Siera Leon. Oh, well, dulu saya seperti itu, senang sekali keluar masuk toko perhiasan (toyor diri sendiri).


Holly aka Lula Mae adalah satu dari jutaan gadis yang terjebak iklan kota besar yang memang membutuhkan orang-orang dengan mimpi “besar” akan meraih kesuksesan dan kebahagian walaupun awalnya harus rela mencium asap knalpot, tinggal di apartemen kecil dan terpaksa sarapan kopi dan donat murahan. New York, baginya adalah tujuan, tempat paling indah yang memungkinkan mimpi besar terwujud dan harus dikunjungi orang-orang terdekatnya, bahkan gadis seusianya harus datang dan melihat New York dengan mata kepala sendiri.


Bayangkan filem ini dibuat tahun 60-an, dan pastinya efek demonstrasi dari orang-orang macam Holly sudah menciptakan satu sistem yang pekat tapi cacat, yang menjadikan kota besar tumbuh sebagai jantung pergerakan perekonomian. Wah kok jauh ya dari filem Breakfast at Tiffany’s ke masalah perekonomian? Justru di sini lah sisi yang tidak kentara, yang paling sering terabaikan, bahwa faktanya, segala gembar gembor tentang kota besar adalah bagian dari terbentuknya sistem kapitalisasi, pelemahan kemampuan daerah pedesaan, urbanisasi, terbentuknya kota-kota satelit bagi para buruh (kerah putih dan biru), hingga yang paling parah adalah pemusatan segala bentuk kekuasaan. Di mana letak Wall Street? Jantung perekonomian dunia, yang menciptakan ketimpangan di berbagai belahan dunia “yang diciptakannya”.


Sungguh, setelah saya menonton filem ini, rasanya mual sekali.


Soundtrack musik filem ini, Moon River, enak sekali didengar, awalnya, tapi saat ini saya lebih suka bersenandung dengan mengabaikan arti sesungguhnya, karena lirik ini adalah cerminan dari pemikiran yang sangat konyol.


Berikut adalah interpretasi dari lirik lagu Moon River:


Moon river wider than a mile

I'm crossing you in style someday
You dream maker, you heartbreaker
Wherever you're going I'm going your way
Two drifters off to see the world

There's such a lot of world to see

We're after the same rainbows end
Waiting round the band
My huckleberry friend, moon river
And me

”This song represents a very classic drama, that of people who leave home, which is typically a small place, to search for fame, fortune and happiness in bigger places, to never be able to return or ever feel at home anywhere. Holly herself is a tragic character, so beautiful and glamorous, surrounded by rich people and celebrities, drifting in and out of her life, always fascinated with her, never loving her. In the book she actually doesn't end up with the poor writer, they are just friends and she sends him a postcard from Buenos Aires one day, so basically she keeps drifting in these strange circles to never find home again.”  
(sumber: http://songmeanings.com/songs/view/87184/?&specific_com=73015739301#comments)

January 14, 2014

Euforia orang-orang miskin



Definisi kelayakan hidup saat ini lebih cenderung pada gaya hidup, bukan lagi berfokus pada kondisi lingkungan yang lestari, yang artinya cukup air bersih, tanah tidak terkontaminasi, udara yang bersih dan pemandangan yang indah adalah keniscayaan jika tiga hal tadi masih terjaga. Definisi layak yang menyesatkan bisa dilihat pada majalah - majalah lifestyle, sekalipun menampilkan kehidupan di pantai atau tempat-tempat yang alami dan enak dipandang mata, semata mata masih pada level eksploitasi dan privatisasi tempat-tempat yang masih alami, kemudian dimodifikasi dengan tambahan hunian atau tempat istirahat yang dianggap mewah atau beradab, kemudian dikomersilkan. 

Untuk mencapai hidup “layak”  dan nyaman seperti pandangan umum yang beredar saat ini, sudah pasti memerlukan lebih banyak pengorbanan dan uang. Memang banyak sekali yang dikorbankan demi hidup yang layak dan nyaman, bahkan termasuk keselamatan hidup manusia itu sendiri. Contoh, beberapa properti mewah terletak di tebing pantai selatan di Bali menawarkan pemandangan alam yang berharga jutaan dolar.  Kemampuan teknologi manusia saat ini mampu mengubah topografi alam yang menantang,  mampu mengubah kondisi yang awalnya mustahil untuk dijadikan hunian, namun satu hal yang lalai dari pengamatan adalah, sudahkan mereka pelajari konsekuensi dari keputusan membangun hunian di tempat seperti itu. Salah satu peneliti di BMKG Bali memaparkan bahwa tebing pantai tersebut telah menyelamatkan Bali pada tahun 1980-an ketika terjadi tsunami di Banyuwangi, tebing yang memiliki rata-rata ketinggian 170 meter tersebut dalam tata ruang tradisional Bali merupakan areal konservasi yang tidak boleh diubah topografinya karena memiliki fungsi sebagai benteng/penahan pada saat terjadi bencana alam salah satunya tsunami. Setelah dibangun dan properti tersebut telah menghasilkan keuntungan bagi pemodal, akan bertahan berapa lamakah properti tersebut dan apakah pemodal mampu bertanggung jawab terhadap konsekuensi  keputusannya seperti potensi bencana alam, bagaimana keselamatan penghuni properti dan masyarakat di sekitarnya? Di lain pihak, pemerintah setempat, apakah betul betul paham akan pulaunya sendiri, pahamkah akan potensi, kekuatan dan kelemahan pulau Bali, selain pemahaman akan potensi ekonomisnya.

Dalam skala yang lebih mikro, contohnya, berapa banyak orang termotivasi bekerja keras untuk membeli mobil. Banyak juga yang menjual tanah untuk membeli mobil, apa yang dikorbankan? Kesejahteraan generasi penerus. Berapa lama mobil bisa dimanfaatkan, sedangkan setiap tahun, mobil baru selalu keluar di pasaran dan celakanya produk teknologi komersil rata-rata memiliki masa pakai yang singkat. Adakah produk teknologi tinggi yang umurnya bisa mencapai ratusan tahun dan masih berfungsi dengan sangat baik? Pesawat ulang alik ke bulan pun tidak bisa dipakai dua – tiga kali. Bangkai mobil, polusi udara, konsumsi energi dan ruang publik (macet menyita banyak ruang, waktu dan uang, belum lagi fenomena masih banyaknya jalan umum yang dipakai sebagai garase kendaraan) menyita perhatian pemerintah, menimbulkan konflik di masyarakat karena keputusan yang sifatnya hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek. Jarang sekali ada demo menuntut penyediaan layanan transportasi publik yang layak.

Ada kecenderungan untuk berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan pada kepemilikan pribadi sebagai penanda pencapaian dan status sosial, diluar fungsi ekonomis, hanya itu saja sebenarnya akar dan faktor pemicu kerusakan lingkungan, baik itu alam tempat kita berpijak maupun lingkungan sosial kita, terutama di perkotaan dan daerah-daerah yang dilalui jalur wisata. Fenomena fenomena seperti ini membuat hidup menjadi banyak tekanan, sedikit sekali saya kira bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan terutama yang tidak mengeluh tentang kondisi saat ini. Bagaimana dengan banjir? Ah sudahlah, bisa beratus ratus halaman jika terus menerus mengemukakan masalah. 

Gadget seperti tablet, pad, smartphone dan semacamnya diiklankan sebagai alat untuk mempermudah hidup dan simbol masyarakat modern. Modern itu apa? Mempermudah hidup siapa? Jarang yang tahu bahwa sumber bahan baku smartphone seperti timah melibatkan eksploitasi alam di Bangka Belitung yang sangat merusak kualitas hidup masyarakatnya. Properti mewah berbahan marmer, batu batu alam, pasir, dari mana semua itu berasal dan bagaimana kondisi masyarakat di tempat semua bahan baku berasal. Sesekali jalan jalanlah ke Kintamani, Karangasem dan Klungkung, lihatlah bagaimana kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitar tambang pasir di sana. Terlalu banyak yang berfokus pada peningkatan ekonomi, hitung-hitungan angka tanpa memperhatikan keselamatan hidup manusia itu sendiri. Sepertinya selama yang menghitung perekonomian di atas kertas adalah orang lain dan yang mengerjakan orang lain dan dampaknya dirasakan orang yang lainnya lagi, masalah ini akan terus berputar putar karena pelaku tidak merasakan konsekuensi dari keputusan yang dibuatnya.  

Logika berpikir yang menghasilkan keputusan akan pemenuhan jangka pendek ini (lingkaran setan) sangat dilanggengkan oleh program-program televisi yang dibuat oleh orang miskin yang ingin hidup atau “berhasil” hidup ”layak dan nyaman” dan menjadi contoh bagi orang miskin lainnya yang ingin mencapai kehidupan yang sama, dalam istilah sosiologi-antropologi, hal ini disebut dengan demonstration effect.  Logika berpikir yang kemudian mewabah bagai virus, menciptakan sistem yang cacat. Lingkaran setan ini sebenarnya tidak susah untuk diputuskan, matikan saja televisinya, selamatkan anak-anak yang masih polos dari kontaminan seperti ini dan berupayalah merombak pola pikir kita sendiri. Sayangnya tidak hanya televisi  saja yang membawa virus pola pikir ini, media online, media cetak yang masuk kategori mainstream juga merupakan struktur pendukung logika berpikir yang cacat. Tapi memang agak susah berhadapan dengan euforia orang-orang miskin yang jumlahnya fenomenal karena definisi miskin di sini, termasuk di dalamnya adalah orang yang tidak paham apa arti cukup.
 
Istilah-istilah "layak", "beradab", "canggih" perlu pendefinisian ulang. Bagi saya, bukan canggih namanya jika masa pakai dan daya gunanya hanya berkisar puluhan tahun, tidak menjamin kesinambungan justru merampas kesejahteraan generasi penerus. Euforia terhadap penemuan baru dan produk teknologi “tinggi” yang diderita masyarakat negara berkembang (cenderung miskin) membuat lupa akan akar budaya adiluhungnya masing-masing  yang justru sudah terbukti selama ratusan bahkan ribuan tahun menjaga kelestarian dan keselamatan hidup manusia jangka panjang. Seperti Subak di Bali, yang ditemukan pada abad ke-6, hingga sekarang masih eksis. Subak merupakan salah satu organisasi tua yang masih berjalan hingga saat ini, sistem irigasinya patut diberikan predikat teknologi canggih selain merupakan produk kearifan lokal, sedangkan banjar merupakan organisasi tertua di Bali yang sangat unik, yang pada dasarnya tanpa campur tangan pemerintah pusat, Bali sudah mampu mengurus dirinya sendiri karena memiliki banyak organisasi yang sangat sistematis dan masih relevan hingga saat ini. Dua hal ini, semakin lama kian pupus maknanya dari alam Bali.

Penemuan baru, sistem dan produk teknologi baru yang tidak dapat mendukung kelestarian alam, lambat laun akan merampas kehidupan manusia itu sendiri. Produk berupa barang sangat mudah untuk diciptakan dan dilenyapkan, namun tidak halnya dengan sistem. Bali memiliki banyak sistem yang berumur ratusan bahkan ribuan tahun, mengapa tidak belajar dari leluhur kita dan meneruskan sistem yang sudah kokoh tersebut?