Translate

June 6, 2011

Running Around Inside The Labyrinth

From the holy cow shit;

I learned about regret.

The colour of regret is dark and gloomy. I felt like I always want to go back to where it begin, and I wish I could turn back time. I was stuck in an eternal emptyness, there was only space. Time is undefined, no begining, no end. Never move on, always go round and round at the same spot, the same story, the same people. And I realized, this is death.

I learned about trust.

Is there anything, just anything that or anyone who could save me from eternal emptyness? I just don't want to be here any longer. How can I keep myself alive within eternal emptyness? I need faith! I need to trust something, I need to believe in something, something that I can hold on to. Someone whom I can trust. Someone who can lead me back home, to where it begin. Out there, can not be trusted. I need to believe. I need faith. Lead me to the faith. And I found faith, it was so bright. Beautiful.

I learned about be in the present.

When you are in an eternal emptyness, what will you do? I kept on searching the light.  The one who will lead me to the light. Out there is too dark, I couldn't see. I search, and search, and search and I found someone who can teach me how to "go back home". I heard one say, "be in the present, be in the momment, that's the only thing that we have within eternal emptyness, out there are only illusions". The reality is here, right here, right now. Be in the present. The more I feel the present the more alive I became. And finally I found the light that could lead me "back home". I returned from the death. I can go back home once again.

I learned about illusion.

Escaped from death, left the eternal emptiness and left all the illusions, and keep on trying to be in the present. The more I feel the present, the more alive I became. And I realized, the only way to "go back home" is to have faith in the present. Not the illusions. Once you know that everything that you see is merely illusion, you'll know, what kind of reality you want to be at. Once you know that most of the things we see are merely illusions, you can create your own reality. Just have faith, and stay at the present.

After death, nothing else matter.

When you realize that you can find the light after death, you will enter a new reality. You were dead in a different world of reality, but have faith, that the previous life you had, wasn't your reality. Someone else, or something else was creating it for you. That's why you are dead even before you are alive. You will go thru a whole new journey, a whole new reality, but this time, you take control of your own reality. You create your own story. Even pain is only illusion. You can hit yourself as hard as you want but as long as you have faith, even pain is unreal, fear is unreal. After death, nothing else matter.

So,what are you afraid of? When death is amazingly beautiful.

I come back home, once again. In my new beautiful reality.

June 5, 2011

Terjebak Ilusi (Infatuation)



Bahasa Inggrisnya bagus sekali, dalam bentuk tulisan. Ketika berbicara di dunia maya, isi pikirannya mengalir tanpa hambatan. Very attractive! I thought.

Setelah sekian lama bertukar pikiran lewat dunia maya, dan "sedikit" membuntuti profile account nya hampir disetiap kesempatan, kami memutuskan untuk merasa tertarik satu sama lain. Kira-kira sudah lebih dari setahun lamanya, kami saling memelihara pikiran tentang satu sama lain. Saling berbagi, secara sehat, karena hanya berbagi pikiran dan perasaan. Saya mulai berfikir, ah....ini mungkin yang saya tunggu-tunggu. Dia menyukai saya tanpa ada kedekatan  fisik, dia menyukai opini-opini saya, dia punya ketertarikan akan hal yang sama, dan kami memandang sesuatu dari kacamata yang sama.

Suatu hari kami sepakat untuk bertemu di salah satu belahan dunia realita. Pikiran saya mulai melayang, jantung berdegup, rasanya seperti hendak bersiap-siap ke medan peperangan yang sesungguhnya setelah simulasi dan stimulasi selama setahun lebih. Map, tiket, akomodasi, buah tangan khas Indonesia, dan....ehm...sarung pengaman.

Welcome to Istanbul! "Finally I am here, to see him".

Di dalam benak sudah banyak sekali skenario akan bersikap bagai mana, berkata apa, pakai baju apa, bagaimana cara mengunyah makanan di hadapannya, berikut setumpuk harapan bahwa dia akan datang dengan kuda putihnya, berpedang panjang, dan akan mendengar kutipan puisi-puisi Lord Byron-walaupun saya tidak begitu paham literatur kuno, yang penting jika itu asing didengar telinga, sudah pasti seksi. Kadang definisi seksi saya cukup dangkal, tapi sampai sekarang saya masih sehat-sehat saja.

Tibalah hari yang dijanjikan, bukan oleh Tuhan. Saya melangkah pelan, tapi pasti. Setiap batu kerikil, rerumputan, bunga,aroma teh, terpaan angin di wajah, terlihat dan terasa sangat indah dan berwarna. Hm...pekerjaan hormon yang mana lagi ini, saya pikir. Walau bagaimanapun, saya nikmati setiap rinci perasaan yang menguasai saya saat itu. Yang paling besar adalah, harapan. Harapan bahwa dia adalah yang saya cari selama ini, harapan bahwa akhir cerita bagai filem-filem Hollywood yang saya impikan, akan terwujud, hari ini. Hari yang dijanjikan, sekali lagi bukan oleh Tuhan.

Langkah terakhir sudah tercapai, saya tahu dia sudah menunggu di sana. Restoran dengan kanopi cantik berwana hijau muda, dengan meja-meja bundar berhiaskan taplak meja putih bersin nan cantik berenda renda dihiasi bunga carnation. Sebenarnya taplak meja itu tidak berenda, tapi lusuh dan sudah sobek di bagian ujung-ujungnya. Entah kenapa hari itu restoran tua yang sudah jarang dikunjungi orang, terlihat sangat indah. Saya melihat ke sekeliling, tidak begitu banyak orang, pastinya tidak susah untuk menemukannya.

"Irma??" Seorang pria Turki berbadan tegap, menyapa saya. Saya tidak mampu memandangi wajahnya, karena dia membelakangi  matahari. Ah....malaikat ku dari dunia maya. Badannya tegap. Tinggi. Mata saya masih merasakan  efek silau karena menatap matahari dibelakang malaikatku. Kami duduk di salah satu meja, yang paling ujung, karena kami ingin privasi.

"Tunggu, apakah kamu Mr.Abcdz.??"

"Ya, benar, saya Mr.Abcdz"

Ada jeda, cukup lama....bahkan lama sekali. Bisu membungkan saya, hampir tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut saya.

Wajahnya tidak seperti yang saya angankan dan yang saya lihat dalam profile accountnya. Ada banyak perbedaan. Bahasa Inggris-nya pun terbata-bata. Pikiran asing mulai berkecamuk. Ada apa gerangan???

Saya mengeluarkan berbagai pertanyaan layaknya seorang gerilyawan memuntahkan amunisi membabi buta, "apakah Anda benar-benar Mr. Abcdz...????" Kenapa Anda kelihatan berbeda sekali, dan kenapa bahasa Inggris Anda terbata-bata? Siapa yang berbicara dengan saya selama ini?? Apakah Anda temannya? Saudaranya?

Dia tertegun, paham akan kekecewaan saya.

Moral of the story:

Seringkali kita menciptakan konsepsi/imajinasi tentang  apapun atau siapapun. Ketika konsepsi/imajinasi itu kemudian menjadi energi potensial, kita sudah terobsesi dengan imajinasi/konsepsi yang kita bentuk sendiri, tentang apapun, atau siapapun. Tidak salah, ketika itu berhubungan dengan pekerjaan, kita bisa menjadi apapun yang kita pikirkan. Tapi ketika kita berhadapan dengan kehidupan, berhadapan dengan manusia lain, imaji atau konsepsi jangan sekali kali dipaksakan dalam realita. Realita sangat dinamis, berubah mengikuti hukum alam. Ketika kita masih terkungkung dengan imajinasi/konsepsi, akan ada banyak hal yang mengecewakan, baik diri kita maupun orang lain. BUT, we are the only one to blame, karena kitalah yang menciptakannya. We can create our own reality, our own, but not others. Definisi dari "infatuation".