Translate

October 25, 2014

Diam itu emas. Benarkah?



Dulu saya pernah berpendapat bahwa kehidupan para pertapa, para bikshu atau pendeta adalah hal yang sangat egois. Bagaimana tidak, mereka terlihat seolah olah tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar dirinya. Di luar sana ada banyak ketimpangan sosial, kemiskinan, kekerasan, perusakan alam dan sebagainya, namun para hermit ini seolah tidak bergeming atau tidak menunjukan kepedulian terhadap segala fenomena yang membuat hati kebanyakan orang bergejolak oleh amarah. Mereka justru sibuk dengan segala puja puji dan doa doa saja. Memangnya segala macam masalah bisa reda tanpa keterlibatan langsung manusia, yang dianugrahi akal budi, sehingga memiliki tanggung jawab sebagai pemelihara. Itu pendapat saya, dulu.

Ketika terpanggil untuk merespon satu tragedi kemanusiaan, sesegera mungkin kita ingin melakukan sesuatu, bahkan merasa gelisah hingga frustasi ketika tidak tahu apa yang harus dilakukan pada awalnya. Alih alih mengamati dengan seksama setiap variabel  dan sejarah yang memicu satu tragedi terjadi, kebanyakan dari kita sudah jatuh pada penghakiman. Banyak diantara kita yang bertindak gegabah bahkan dalam melakukan suatu “kebaikan”. 

Belakangan ini saya baru paham bahwa ilmu fisika itu memang nyata-nyata sangat dekat dengan keseharian kita. Bukan sesuatu yang hanya tertulis di jurnal atau buku-buku pelajaran. Ada aksi ada reaksi, namun apa sih kaitanya dengan tragedi kemanusiaan yang ada di sekitar kita?

Saya pernah tak habis pikir, kenapa para petani yang bekerja keras di suatu daerah mendapat banyak masalah, salah satunya kelangkaan air, belum lagi yang bentrok dengan aparat karena sengketa lahan. Setelah saya amati, para petani ini juga pada dasarnya rakus dan ingin menang sendiri. Perambahan hutan, perluasan areal bercocok tanam, praktek monokultur, penggunaan bahan kimia yang merusak ekosistem, apakah tidak dilihat sebagai suatu kejahatan, walaupun tidak dilakukan kepada sesama manusia lainnya secara langsung. 

Ada aksi ada reaksi, dalam konsep yang serupa disebut karma. Jika kejadiannya seperti demikian, apa yang hendak diperbuat? Untuk menolongpun kita harus mampu memiliki kemampuan dan pemahaman yang melampaui kemampuan dan pemahaman orang yang kita tolong, yakinkah mereka lebih tidak tahu?

Yakinkah bahwa ada ketidakadilan di dunia ini, jika alam semesta mampu menyeimbangkan dirinya sendiri. Semakin kita mengaduk samudra semakin naik ke permukaan segala apapun yang ada di dasarnya, semakin besar riak gelombang yang dirasakan. Apakah kita senang berlayar di samudra yang tenang atau sebaliknya. 

Jangan mengundang reaksi yang tidak kita ketahui konsekuensinya, karena konsekuensi mengikuti hukum alam, bukan mengikuti kemauan kita. Pada akhirnya saya paham bahwa melihat dengan mata yang kemampuannya terbatas, berbeda dengan diam namun mampu melihat bahkan menyuarakan kebenaran yang hakiki. 

Maka itu para pertapa, bikshu, pendeta hanya berupaya menyuarakan kebenaran, tidak berpihak, tidak menghakimi, dan hanya menyebarkan cinta kasih, karena hanya itu yang mendamaikan semua mahluk Tuhan.

Ignorance is a bliss. Really?



Ignorance is a bliss. Really?

Kalimat ini seringkali dilontarkan, tapi saya seringkali berkerut kening ketika mendengarnya.

Satu renungan panjang dibutuhkan untuk memahami apa makna sesungguhnya dari kalimat tersebut. Ada satu kejadian yang membantu saya memahami hal itu. Ini berawal dari seorang teman yang saya temui dan saya bercerita padanya tentang isu seputar pertanian dan lingkungan hidup. 

Ada banyak hal dan informasi yang tidak sampai ke masyarakat luas, termasuk masyarakat yang berpendidikan sekalipun. Saya mengemukakan tentang jahatnya satu perusahaan makanan ringan yang memiliki konsesi lahan untuk perkebunan sawit. Bagaimana perusahaan tersebut merampas hak hidup masyarakat adat (dan membasmi ekosistem hutan tersebut)  yang dari generasi ke generasi merupakan penjaga hutan hujan, paru paru dunia. Perusahaan makanan ringan itu hanya satu dari ratusan kasus lain yang serupa, yang ada di sekitar kawasan yang sama di Sumatera. Belum lagi saya ceritakan tentang hubungan antara kebiasaan kita yang gila gadget dengan kerusakan lingkungan di Bangka Belitung akibat penambangan timah untuk keperluan industri teknologi tinggi (produk elektronik). 

Jadi ada banyak krisis yang pada dasarnya disebabkan oleh banyaknya ragam kemudahan dan “kebutuhan” hidup masyarakat “modern”.  Ini semua karena hampir semua media massa, terutama yang populer,  dikuasai mereka yang berkepentingan untuk melanggengkan praktek-praktek yang merusak itu. Oleh karenanya, tidak heran jika banyak yang tidak tahu keterkaitan antara satu dan lain hal. Kita dibuat buta sebuta butanya, karena pola pikir kita dikondisikan penguasa media massa.

Teman saya itu hanya menatap tanpa berkata apa-apa, sambil sesekali mulutnya ternganga dan sesekali menggosok mukanya dengan kedua tangannya, seolah tidak menyangka bahwa pertemuan hari itu akan membawanya ke alam realita yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Mungkin ada sedikit sangsi dikeluarkan dari bahasa tubuhnya. Seeing is believing. Oh ya? Tapi kita tidak perlu jauh jauh pergi untuk mengkonfirmasi apakah yang saya kemukakan itu fakta atau fiksi. Saat ini kita bisa mencoba melihat kenyataan itu lewat teknologi layar sentuh di smartphone kita, saya bilang. Mengenai hutan hujan itu, kita bisa lihat seluas apa kebotakannya lewat Google Earth. Jika ingin lebih mudah lagi, logika sederhana seringkali adalah sesuatu yang paling bisa menguraikan kerumitan satu permasalahan (atau suatu permasalahan yang dibuat seolah rumit). Jika hukum alam = hukum keseimbangan, maka, jika ada penambahan di satu sisi, maka akan ada pengurangan di sisi lain. Apakah yang dikurangi (dikorbankan) untuk memproduksi sekian banyak “kebutuhan” hidup manusia? 

Diujung percakapan kami (oke, itu bukan percakapan, tapi lebih mirip monolog) dia menggumamkan sesuatu. “Indeed, ignorance is a bliss ya”. Ha? Saya tidak paham apa maksudnya. “Maksud gue, elo tau semua informasi ini, gimana loe bisa hidup dan menjalani hari-hari loe dengan tenang tanpa khawatir loe nyakitin orang lain, nyakitin orang utan yang mukanya memelas…aduh, kayaknya gue jadi gak tau mau ngapain setelah ini, gue ngerasa serba salah. Berarti kita semua penjahat gitu?  Asli gue ngerasa apa yang gue lakuin selama ini salah semua”. Well, kamu bukan orang pertama yang merasakan hal seperti ini ketika terpapar informasi yang serupa untuk pertama kalinya, saya bilang. Seringkali yang jadi permasalahan, setelah tahu jalan ceritanya, akankah kita tetap menjalani kebiasaan kita yang merusak itu  dan bagaimana upaya memperbaikinya? Pelajaran apa yang harus kita ambil dari fenomena-fenomena seperti ini? Hal seperti ini harus disikapi, bukan dihindari.

 Pastinya banyak yang bingung ketika harus menilai ulang segala keputusan yang pernah diambil, gaya hidup yang sedang digandrungi, pola pikir yang selama ini dianggap “sophisticated”, pandangan terhadap lingkungan pergaulan dan oh my God, no…not those achievements please. Yes, those achievements yang ternyata banyak diantaranya bukan achievement yang sesungguhnya, karena secara langsung atau tidak langsung banyak ragam prestasi/pencapaian, yang syaratnya didasarkan pada pola pikir yang salah kaprah tentang banyak hal, tidak lain hanyalah pencapaian semu yang merusak bahkan kehidupan itu sendiri.

Ketika saya mengunyah ngunyah lebih lama lagi kalimat “ignorance is a bliss”, saya pikir sepertinya banyak juga orang yang salah kaprah mengartikannya, yang paling parah adalah jika terjemahannya demikian “ah, mendingan gue gak tau dan gak mencari tau tentang apa apa yang bikin gue gak nyaman dan setelah gue mencari tau, hidup gue kayaknya bakal tambah susah” (kok panjang banget ya terjemahannya).

Saya langsung memvonis, siapapun yang mempergunakan kalimat “ignorance is a bliss” untuk menghindar dari tanggung jawab sebagai bagian atau pemicu dari satu permasalahan, dari tanggung jawab yang memanggil rasa kemanusiaan, dari tanggung jawab sebagai MANUSIA, maka pada dasarnya ia adalah penjahat yang sesungguhnya, kalau bukan iblis.. Itu namanya “willfull ignorance” atau “playing ignorance”, saya tidak tahu apa terjemahannya dalam bahasa Indonesianya. Kalau seperti itu, berarti ignorance is a bliss for the willful ignorants, but a disaster for other being  and their own environment. Kata lainnya adalah "happines" at the expense of other being's life.

Ketika saya melihat salah satu masyarakat di satu tempat agak terpencil, yang sangat mandiri (masih dapat diakses dengan kendaraan roda empat hingga 5 kilo meter sebelum masuk perkampungan tersebut), saya terinspirasi. Mereka tidak “menikmati” listrik seperti warga lain yang “lebih beruntung” karena daerahnya dialiri listrik sehingga bisa menonton TV. Di daerah itu tidak ada mall, bioskop, cafe, majalah fashion, perpustakaan yang dilimpahi buku-buku best seller, hand phone? Mau dicolokin ke mana? Facebook? Muke lu gile?

Terbelakang sekali ya? Iya, pikiran kita, yang menganggap mereka terbelakang, justru terbelakang. Pikiran kita, yang hidup diantara sekian banyak kenyamanan yang masih saja selalu kurang, menganggap kondisi mereka yang sedemikian “off grid” adalah satu kondisi yang memprihatinkan. Mungkin jika mereka adalah korban marjinalisasi atau pengkondisian, barulah kondisi itu memprihatinkan. Namun jika satu masyarakat secara sadar memilih gaya hidup yang "off grid", itu lain permasalahan. Saya tidak tahu mana yang lebih memprihatinkan diantara orang yang sangat cekatan menyelaraskan diri dengan alam dan yang sangat tergantung dengan smartphone. 

Hm…tiba tiba saya ingat akan keinginan beberapa waktu lalu untuk membeli Mac Air, walaupun sudah punya notebook. Latar belakang pemikiran dari keinginan itu adalah karena logonya adalah apel yang gak habis dimakan dan karena itu adalah sejenis "kebutuhan" untuk yang suka traveling, karena ukurannya sangat ringan kalau saya bepergian dengan bawaan ringan, karena saya masih harus membagi tas traveling dengan gadget lainnya dan kerena OSnya  sudah pasti asli, tidak akan merepotkan jika harus dibawa ke luar negeri  dan karena harganya adalah simbol status kelas menengah ke atas. Ya, semua itu adalah "kebutuhan".

 Ah, indeed, ignorance is a bliss. 

Bisakah kita tidak berlebihan dalam mengkonsumsi? Berlebihan itu yang bagaimana? Ah...itu pembahasan panjang yang tidak akan selesai diurai, jika nurani sudah  tumpul parah.

Diskotek, Pineal Gland dan Bunuh Diri Masal



DA : Di Banjarmasin itu ada diskotik besar sekali, mirip kayak Stadium di Jakarta. Aku heran banget kenapa diskotik itu harus sebegitu gelapnya, maksudku bukan masalah lightingnya, tapi apa ya, rasanya tempat itu gelap sekali.

A : Haha, what do you expect, segerombolan orang dengan niat tertentu, yang waktu itu mungkin auranya lagi gelap, energinya lagi negatif, berbondong bondong datang ke satu tempat yang jadi wadah niatnya itu. Pasti gelap lah semua jadinya, gak cuma lampunya aja yang remang-remang. Hehe

DA: Hehe, di dalam asapnya (rokok) gila sekali, aku keluar karena gak tahan, lucunya, keluar dari diskotik juga ketemu asap dari kebakaran hutan. Itu gila itu haha. 

A: Kalau orang Yahudi dipaksa Nazi masuk ke gas chamber, ini orang di sana (yang masuk diskotik di Banjarmasin) dengan suka rela bunuh diri masuk ke “gas chamber”, haha. Baguslah, buat mengurangi jumlah populasi penduduk juga.

A: Ngomong-ngomong populasi penduduk, aku pernah baca artikel tentang perilaku komponen ekosistem di hutan belantara. Semut itu jenisnya banyak banget, dan kalau ada satu jenis semut tertentu yang jumlah populasinya terlalu banyak, akan ada sejenis jamur yang menyerang koloni semut jenis tertentu itu. Bayangkan, satu jenis jamur, untuk satu jenis semut tertentu. Jadi ada sejenis jamur yang beregenerasi dengan cara nebeng di bagian kepala semut itu sampai jamur itu tumbuh menembus tengkorak kepala semut, dan mengendalikan perilaku semut itu. Jamur itu bikin semut “dengan sukarela” melakukan tindakan bunuh diri dengan naik ke atas pucuk pohon dan kemudian terjun bebas sampai mati. Haha, keren ya. Jamur “doang” gitu, mampu mengendalikan perilaku spesies lain.

DA: Iya bener itu, aku juga nonton di YouTube tentang semut bunuh diri,  penelitian yang mirip, jadi semutnya selalu naik ke atas menuju matahari terbenam, trus terjun bebas, dan jamur itu tumbuh di atas jasad semut yang mati. Itu keren banget filemnya.

A: Menurut kamu apa orang yang ke diskotik di Banjarmasin itu kena jamur atau virus apa gitu ya? Jadi perilakunya kelihatan seperti mau bunuh diri secara sukarela gitu? Kalau begitu kenyataanya, itu bisa masuk akal. Kalau dunia ini punya kemampuan menyeimbangkan diri, pasti ada cara-cara yang cuma alam semesta aja yang tau, ketika ada fenomena overpopulasi spesies tertentu. Kecerdasan manusia itu semakin menurun, tapi jumlahnya banyak sekali, mungkin kita ini sudah seperti hama saja. Pasti ada sejenis jamur atau virus atau bakteri yang bekerja untuk mengurangi jumlah populasi manusia ya.

DA: Iya, kayaknya gitu. Secara hipotesa, kalau virus HIV-AIDS, kanker dan sebagainya itu tidak dibuat oleh pihak tertentu, mungkin itu muncul secara alamiah untuk mengurangi jumlah populasi.

A: Masuk akal, aku pikir juga begitu, alam sedang bekerja dengan caranya sendiri. Atau siapa tau generasi selanjutnya akan terlahir dengan organ reproduksi yang gak berfungsi. Trus kayaknya fenomena homoseksual juga muncul karena upaya alam menyeimbangkan diri. Bisa jadi gak sih sebenarnya kita sedang bunuh diri dengan kebiasaan kita buka Facebook, dikit-dikit ngeGoogle, haha.

DA: Aku juga, I can get crazy with Google, aku biasa nyari inspirasi dan baca baca artikel atau tulisan di sana. That’s cool ya.

A: Hm, actually…that’s kind of creepy, kita jadi sangat bergantung sama Google. Duh, jangan-jangan nanti hubungan antara anak-orang tua juga kena imbasnya. Pertanyaan anak seperti “Mom, what is God?”, trus emaknya jawab “Well, I am not sure honey”, “Ok, I’ll Google it”, kata anaknya. Atau “Mom, how’s your feeling today?” trus emaknya jawab “Well, I am not sure honey”, anaknya bilang “Ok, I’ll google it”.

Facebook dan Google  itu juga kan kecanduan jenis baru. Kita nanti akan berevolusi jadi spesies yang macam apa ya, setelah era Facebook dan Google? Mungkin kita nanti cuma tinggal kepala aja, karena bagian tubuh lainnya gak dibutuhin lagi, kita bisa komunikasi cukup lewat pikiran. Eh, tunggu, itu kalau kita makin cerdas, mungkin kita akan seperti itu. Nanti komunikasi gak perlu lagi pakai gadget atau alat bantu apapun. Seperti dalam filem “Lucy”, kalau penggunaan kapasitas otak kita sudah 100%, we will be everywhere and nowhere, haha. Aku pikir kecanduan itu pasti ada hubungannya dengan seleksi alam juga.

 Aku pernah baca artikel yang bilang bahwa kecenderungan addiction itu ada hubungannya dengan genetika. Bagi orang tertentu, gampang sekali jatuh kecanduan sama sesuatu, alkohol, drugs, rokok atau apalah, sambel terasi juga bisa. Aku ngerasa gak ada ketertarikan sama drugs, gak ada rasa penasaran sama sekali, minum alkoholpun gak begitu suka, ngerokok pun kalau harus berhenti gak pernah ngerasa berat. Tapi mungkin aku punya kecanduan yang lain, apa ya….hm apa ya…kayaknya gak ada, biasa aja ama semua hal. Katanya, secara psikologis,  orang yang gampang kecanduan sesuatu memang mentalnya rata-rata lemah. 

DA: Aku juga kayaknya gak pernah kecanduan sesuatu, hm..apa ya kecanduanku? Dulu aku ngerokok tapi kalaupun harus berenti beberapa bulan atau minggu, ya rasanya biasa aja. Eh iya, aku kemarin kemarin tiap kali bangun pagi, udah langsung duduk depan komputer, dan belum gosok gigi pula, haha gila ya! Sekarang gak lagi, gak mau gitu lagi ah.

A: Ya coba break the patern, kamu kan orang kreatif, untuk mengalihkan perhatian dari gadget, coba aja beli kayu, alat pahat, atau beli bola bekel! Tapi aku juga gitu sih, hal pertama yang aku lakukan setelah bangun pagi ya ngecek hape. Gila memang, hehe…

DA: Ngomong-ngomong tentang addiction, aku kayaknya kecanduan informasi, karena aku pernah bangun jam 3 pagi, trus gak bisa tidur dan akhirnya buka Google, aku nemu semacam jurnal ilmiah, lumayan banyak juga halamannya. Kamu tau pineal gland?

A: Pernah denger, tapi lupa definisnya apa. 

DA: Itu bagian otak kita juga. Kamu pernah tau kan ikan di laut dalam yang di kepalanya ada lampunya itu? Dia “mancing” makanan dengan lampu itu, sebenernya itu pineal gland. Kalau ikan ikan yang lain, pineal glandnya tertanam di dalam kepala, tapi ikan ini pineal glandnya tumbuh sampai keluar dari kepalanya. Fungsi Pineal Gland itu untuk menentukan orientasi gerak juga, karena dia terasosiasi sama rasi bintang, matahari, bulan, atas, bawah.  Rata-rata ikan punya sesuatu di bagian tengah matanya yang terkoneksi sama pineal glandnya. Kura-kura juga berenang sejauh 14.000km dengan menggunakan pineal gland sebagai kompas. Para penyelam laut dalam sudah pasti bawa kompas karena kadang gak ngerti orientasi, mana arah ke permukaan mana bawah, akibatnya bahaya, maunya naik ke permukaan malah bisa bisa menyelam tambah dalam. 

A: Wow keren amat, trus sekarang fungsi pineal gland kita gimana menurutmu? Apa menurun kemampuannya atau gimana? Kok kedengannra kayak mata ketiga ya?

DA: Iiya memang agak mirip mata ketiga kedengerannya, makanya para hippies suka dengan simbol mata ketiga yang letaknya di tengah tengah jidat itu. Di Mesir ada simbol mata di dalam lingkaran yang sebenernya bentuknya mirip dengan pineal gland. Menurut penelitian, pineal gland itu bisa berkurang fungsinya, seperti buram gitu. Itu karena pola makan minum kita yang gak bagus, pineal gland bisa diselimuti sama tumpukan kapur. Dan fungsi pineal gland bisa diperbaiki dengan mengubah kembali pola makan kita dan dengan mencoba melakukan aktifitas yang kita senangi waktu kecil, dan melatih lagi imajinasi kita.Tapi pas udah hampir selesai baca jurnal ilmiah tentang pineal gland itu, di bagian akhirnya ada semacam iklan obatan-obatan yang bisa “membersihkan” pineal gland gitu dan jadi pineal gland bisa berfungsi kembali, haha. Aku jadi ya…gimana ya rasanya setelah baca panjang lebar penjelasan ilmiah itu, ending nya ternyata jualan obat.

A: Hahhaaa…iya aku tau rasanya, itu mirip filem bagus tapi somehow di tengah proses bikin filem tiba-tiba sutradaranya mati atau script writernya gak lunas dibayar jadi harus diganti dengan sutradara ecek ecek, atau script writer abal-abal. Gak klimaks gitu. Haha...

DA: Hahha, iya mirip gitu deh.

Seperti ada kombinasi antara konspirasi manusia yang disengaja dan konspirasi alam semesta untuk mengurangi jumlah populasi manusia. Biar cepet, orang seperti Rockefeller menciptakan sebagian virus, bakteri, bahkan makanan GMO yang dapat mempercepat proses tercapainya jumlah populasi penduduk dunia yang ideal, 3 milliar saja, yang sesuai dengan daya tampung bumi,  dengan kondisi yang demikian, semua orang akan hidup sejahtera. Tidak, kami sedang tidak kena jamur yang bikin high, dan ini adalah renungan, bahwa baik buruk seolah tidak kentara batasannya.