Translate

May 19, 2013

"Aku gak bisa percaya kamu"


Pernahkah mencintai orang yang meragukanmu?
Pernahkah meragukan cinta pasanganmu?
Kepercayaan adalah fondasi dalam menjalin hubungan. Apa yang baru mengenai hal itu?
Mencintai seseorang yang sangat meragukanmu itu rasanya seperti, hm...(mungkin kalau kita memang pantas diragukan hal ini bukan sesuatu yang perlu direnungkan) pastinya sakit sekali bagi kebanyakan orang.
Rasanya seperti dituntut untuk menghadirkan Tuhan dihadapan pasanganmu keesokan harinya. Sesuatu yang sepatutnya dilihat oleh mata batin, dipaksakan untuk terus menerus diwujudkan, dalam bentuk cairan? benda padat? gas?
Rasanya seperti tersayat sayat ketika kamu tahu yang sesungguhnya bahwa pasanganmu yang penuh ragu itu memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mencintai, jika saja ia tidak terpenjara dalam ketakutannya.
Rasanya seperti degup jantung yang terhenti sesaat ketika berupaya meraihnya dari tepian jurang yang dalam, namun tanpa daya hanya bisa melihatnya jatuh tak teraih di hadapan mata.
Rasanya seperti perawan yang dilempari batu oleh orang tua yang sangat kolot hanya karena mengaku jatuh cinta kepada seorang pria.
Rasanya seperti dianggap pelacur.
Jika menghadapi hal seperti ini, segala upaya pembuktian tidak akan ada gunanya. Menghadapi pesakitan perlu pemahaman mendalam, bukan atas apa yang diderita pasangan, namun kapan kita harus melepaskan dan merelakan sesuatu berjalan dengan sendirinya, sesuai waktunya, tanpa terlalu banyak campur tangan kita yang penuh akan harapan.
Satu pelajaran yang sangat berharga dapat kita raih bahwa kerugian hanya ada pada mereka yang memelihara ketakutannya, bahwa manusia yang penuh dengan ketakutan adalah manusia yang paling mudah dikendalikan.

Kerugian tidak pernah ada pada mereka yang hanya ingin memberi. 

Sayang sekali, padahal hidup ini sangatlah sederhana.

May 16, 2013

Klenteng Tiao Kak Sie (Cirebon)

Dibangun pada abad ke-16 (Kelenteng ini diperkirakan berdiri pada tahun 1595 M, akan tetapi pendirinya tidak diketahui dengan pasti)

Kelenteng ini cukup mengagumkan karena bila dibandingkan dengan kelenteng lain, pengurusnya berupaya keras untuk mempertahankan keaslian struktur bangunan dan interior bangunan yang tentu saja tidak mudah. Menurut nara sumber, banyak diantara ummat yang menginginkan perombakan klenteng agar lebih baik, namun pihak pengurus berpendirian bahwa ada banyak catatan sejarah yang terpatri pada setiap jengkal klenteng ini yang harus dipelajari oleh generasi penerus. Catatan sejarah mengenai kelenteng ini sangat minim, namun ada satu arkeolog asal Belanda yang sempat mencatat sejarah Tiao Kak Sie.

Sumber
 
Salah satu uraian singkat mengenai klenteng ini juga ada pada link berikut http://cerbonan.wordpress.com/cirebon-tempo-doeloe/. Pada ruangan utama ada prasasti yang menyebutkan nama-nama penyumbang pada abad ke-17. Prasasti tersebut juga menyebutkan tahun pemugaran dibagian ruang utama yaitu tahun 1791, 1829 dan 1889, tetapi tanpa merubah bentuk aslinya.

Klenteng ini menaungi tiga ummat, yaitu Konghucu, Budha dan Taoisme, dan ada tiga aliran Budha yang bernaung di dalamnya yaitu Budha Mahayana (pengaruh Cina), Tantrayana (pengaruh Tibet) dan Teravada (pengaruh India). Oleh karenanya klenteng ini juga dinamakan sebagai klenteng Tri Dharma. Kelenteng atau Vihara Dewi Welas Asih (Tio Kok Sie) menurut ceritanya adalah tempat untuk orang-orang yang belajar ilmu. Keragaman yang ada di dalam kelenteng ini meiliki keuntungan dan kendalanya tersendiri, malah kadangkala banyak diantara ummat yang tidak mengenal akar dari keyakinan mereka sendiri karena percampuran dari banyak keyakinan dalam klenteng ini. Percampuran antara agama dan kebudayaan tentu tidak dapat dihindari dan juga terjadi pada banyak keyakinan yang lain.

Apa yang menarik dari klenteng ini? Gambar berikut adalah detail bangunan yang memiliki nilai filosofi (feng shui), catatan sejarah dan ajaran agama.



Patung-patung berukuran kecil dengan pedang terhunus di kedua tangan, tampak seperti tengah mempertahankan bangunan itu dari sebuah serangan musuh.



Keramik yang menggambarkan awan yang bertautan, dihiasi dengan empat bunga lotus di setiap sudutnya. Ornamen ini dikelilingi oleh mural.

Mural disekeliling ornamen, dilukis ulang, namun sayang, pihak pengurus kurang mengetahui maksud cerita mural tersebut. Generasi sebelumnya belum sempat menuturkan cerita mural ini.

Mural asli yang sudah lapuk. Ada di empat sisi dinding, masing-masing bercerita mengenai bakti terhadap orang tua dan pengadilan hari akhir.

Mural asli, yang menceritakan kisah pengadilan di hari akhir.

Mural ini dilukis dimedia card board pada tahun 1960, menutupi tembok yang penuh mural. Mural baru ini lebih menitikberatkan pada cerita salah satu tokoh bernama Kwam Te Kun (lambang kejujuran dan kesetiaan) dalam legenda Sam Kok (Tiga Negri)

Legenda Sam Kok (Tiga Negri)
Figur Naga dengan kaki menghadap ke langit masih asli seperti pada saat dibangun pada abad ke-16. Ruang terbuka ini mutlak harus ada dalam struktur bangunan klenteng. Disebut sebagai lubang langit, posisinya berada dalam ruangan utama. Selain fungsinya sebagai sirkulasi udara konon sangat erat kaitannya dengan astronomi dan astrologi.

Pada setiap pilar yang berbentuk segi empat, terdapat tali pengikat yang terbuat dari rotan pada bagian dalamnya dan kulit pada bagian luarnya. Tali pengikat ini dipercaya sebagai pengkal terhadap energi negatif. 


Lantai batu asli sebelum renovasi
Gallery

Bata Merah



Suka penasaran gimana sih caranya bikin bata? Dari mana sih asalnya?

Sejarah bata merah

Bata adalah sebuah blok yang terbuat dari tanah liat dibakar dalam tempat pembakaran (kiln). Ini adalah salah satu bahan bangunan utama yang dikenal manusia. Seiring waktu, batu bata telah muncul, menjadi terkenal, kehilangan pentingnya dan kemudian datang ke permukaan lagi dengan berbagai gaya arsitektur. Batu bata yang dibakar pertamakalinya digunakan di India kuno, Babilonia, Mesir dan peradaban Romawi. Batu bata tersebut masih digunakan sebagai bahan pengisi struktur kerangka serta untuk membangun struktur beban bantalan. Dari berbagai jaman, ada beberapa refensi sejarah dan budaya yang menarik tentang batu bata:
  • Istilah bata pertama kali ditemukan dalam Alkitab, menara Babel dibangun dengan batu bata yang dibakar.
  • Bata banyak digunakan dalam peradaban lembah Indus. Bahkan, peradaban pertama kali ditemukan ketika ditemukannya batu bata kuno yang digunakan sebagai penyeimbang kereta api, hal ini berdasarkan pemberitahuan dari seorang arkeolog.
  • Sementara Taj Mahal dibangun dengan marmer putih, perancahnya yang luas seluruhnya terbuat dari batu bata. (Sumber )


Perkembangan industri kecil bata merah ini juga tidak luput dari resiko dampak lingkungan yang cukup serius, sehingga keberadaannya perlu diatur. 



Proses pembuatan bata merah


  1. Pembuatan bata merah menggunakan tanah liat/lempung seperti di atas ini. Karakter tanah liat yang paling cocok untuk pembuatan bata adalah tanah persawahan kualitas 1 (irigasi baik dan dapat ditanami padi).

    Tanah liat yang sudah dicampur pasir diinjak injak selama kurang lebih satu jam

    Hasil cetakan (bata basah), dikeringkan selama beberapa jam 7-10 jam atau beberapa hari (bergantung cuaca)
    Alat cetak bata sederhana

    Cara penumpukan bata agar sepat kering

    Bak penampungan air untuk adukan tanah liat
    Tumpukan bata setengah kering tersebut selanjutnya akan melalui proses pembakaran

    Proses pembakaran, menggunakan kayu bakar dan memakan waktu selama kurang lebih tiga hari (3 x 24 jam)

    Sekam dibutuhkan untuk menutup pori-pori lubang diantara tumpukan bata agar pembakaran sempurna hingga tumpukan teratas.



    Tumpukan gabah untuk menutup pori tungku pembakaran


    Dibutuhkan sekitar 7 karung sekam untuk setiap 25.000 batang bata yang dibakar selama tiga hari.
    Warna bata yang sudah matang
    Gallery

May 15, 2013

Cirebonku sayang Cirebonku malang


Bangunan-bangunan cantik ini terbengkalai, tidak terpelihara dengan baik. Masyarakat dan pemerintah setempat gagal melihat bangunan-bangunan ini sebagai aset yang sangat berpotensi untuk industri wisata (yang memberdayakan masyarakat setempat dan berkesinambungan)

Bekas pabrik rokok BAT

Dulu ini kantor tempat ayah bekerja, sekarang terbengkalai.

Kembali ke kota kelahiran setelah absen selama dua tahun, rasanya seperti jatuh cinta lagi dengan kekasih lama, namun semakin dalam. Melihat objek yang sama dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda merupakan kenikmatan tersendiri dalam melakukan perjalanan di kampung halaman. Kota ini sama sekali tidak memiliki daya tarik bagi para pelancong kebanyakan, karena Cirebon merupakan kota kecil, kota industri, kota pelabuhan dengan tata kota yang cukup semrawut. Nasib rata-rata kota kecil (yg memiliki aset yang hampir sama) di banyak tempat yang pemerintahnya kurang visioner, tidak mumpuni dalam memahami RTRW.Sayang sekali, jika saja blue print tata kota warisan Belanda tetap diikuti...ah...hanya mimpi di siang bolong. Saya berkhayal jauh andai saja kota ini bisa seindah Luang Prabang di Laos, Hanoi dan Hoi An di Vietnam yang memiliki banyak bangunan tua dengan karakter yang sama.

Luang Prabang adalah kota tujuan wisata yang baru saja dikenal sepuluh tahun terakhir. Kenapa Luang Prabang bisa menjadikan kotanya sebagai salah satu tujuan wisata dunia? Padahal Laos baru saja membuka dirinya untuk pariwisata belum lama ini. "Sektor pariwisata memang menjadi salah satu pemasukan penting bagi pertumbuhan ekonomi Laos dan roda pariwisata ini bisa terlihat jelas di depan bangunan yang diberi nama Morning Market atau Pasar Pagi". (http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2010/01/100106_laos3.shtml) Menurut pengamatan saya, pasar tradisional juga memiliki daya tariknya tersendiri bagi wisatawan manca negara, ditambah lagi dengan pasar dadakan yang khusus menjual kerajinan tangan khas daerah. Hal inilah yang menjadikan satu tempat wisata selalu dipadati wisatawan, karena menawarkan kelokalan suatu tempat.

Konektivitas antara Cirebon, Semarang, Jogjakarta sebetulnya cukup menjanjikan sebagai rangkaian paket perjalanan. Wisatawan yang mendarat di Jakarta dapat meluangkan waktu di Cirebon sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Semarang dan Jogjakarta.

Sebenarnya jika saja ada komunitas yang fokus pada gerakan revitalisasi kota yang didukung oleh pemerintah daerah, Cirebon sebagai salah satu tujuan wisata tidak mustahil dapat terwujud dalam waktu singkat. Kita juga dapat belajar dari kota Lijiang, yang baru membuka parawisata untuk wisatawan asing pada tahun 80an dan arus wisatawan yang lebih deras lagi baru pada tahun 1996 setelah bencana gempa menimpa kota tersebut (yg menyebabkan perhatian dunia tertuju pada Lijiang). Kota Lijiang awalnya pun merupakan kompleks rumah-rumah tua yang terabaikan namun pemerintah setempat memiliki visi konservasi budaya dan menciptakan indusrtri wisata yang memberdayakan masyarakat setempat. Untuk tujuan wisata, pemerintah setempat memberikan subsisdi kepada masyarakat pemilik bangunan tua untuk merenovasi tanpa merubah struktur dan karakter bangunan tua. Masyarakat dianjurkan untuk membuka unit-unit usaha kecil sebagai pendukung industri pariwisata, seperti restoran, kerajinan tangan, akomodasi, dan lain-lain.

Bangunan-bangunan tua di bawah ini berlokasi di Luang Prabang, Laos, kondisinya pun tidak semua sempurna seperti awal mula dibangun, namun tetap memiliki daya pikat. Wisata nostalgia kota tua tidak pernah padam di hati para wisatawan terutama wisatawan manca negara. Selain dapat memberdayakan perekonomian masyarakat setempat, konservasi budaya dan kearifan lokal tetap terjaga, pemerintah pun akhirnya diuntungkan dengan pendapatan pajak.

Sumber foto



Sumber Foto


Di Cirebon, saya melihat adanya potensi di sepanjang kali Baru, lokasinya yang berdekatan dengan pelabuhan (yang juga dipadati bangunan-bangunan tua) hingga ke arah Kanoman/Pecinan dan Panjunan dapat dijadikan daerah wisata yang disebut "jalur nostalgia".

Lapak-lapak sepanjang Kali Baru yang menjual kerajinan khas Cirebon

Wisata yang berorientasi pemandangan seperti di bawah ini jarang mengalami kegagalan, keuntungan lainnya adalah masyarakat dengan sendirinya akan menjaga sumber mata pencahariannya karena sungai, kali, hingga selokan dapat dijadikan atraksi bagi para wisatwan. Restoran-restoran yang memiliki view seperti di bawah ini selalu penuh dipadati wisatawan.

Sumber foto




Lapak-lapak disepanjang Kali Baru sudah merupakan daya tarik tersendiri dan jika dikembangkan dapat menjadi pusat kuliner malam hari dengan pemandangan kali yang bersih dan tata cahaya yang memikat yang menyinari rindangnya pepohonan sepanjang kali.


Kota tua di Lijiang yang suadh direnovasi. Industri pariwisata yang memberdayakan masyarakat setempat.
Masyarakat di daerah Kanoman memiliki cara unik dalam bersosialisi. 

Pasar batu mulia, merupakan tempat asik untuk menghabiskan waktu dengan berbicang-bincang, tidak hanya bagi para penggemar batu. Berlokasi di Pecinan yang sangat dekat dengan Keraton Kesepuhan.

Ingin rasanya berbincang-bincang dengan mereka dan menanyakan apa yang mereka ingat tentang Cirebon di masa lalu.


Keragaman yang ada di daerah pecinan, panjunan, sepanjang kali Baru hingga keraton sampai wilayah Kesambi sangat menyimpan potensi sebagai pusat atraksi wisata. Selain itu juga, di tempat-tempat tersebut sudah merupakan sentra wisata kuliner bagi warga Cirebon, sehingga tidak susah untuk mengembangkan dan menggali potensi daerah ini lebih dalam lagi. Sungguh, Cirebon sebagai kota pelabuhan, memiliki daya tarik tersendiri dengan berbagai potensinya seperti keragaman budaya, karakter masyarakat yang toleran terutama di sekitar wilayah Pecinan dan Panjunan, banguan-bangunan tua, keragaman kuliner dan banyak hal lainnya.
Tukang sepuh perhiasan, mencuci perhiasan dengan menggunakan soap nut (lerak) yang juga umum digunakan untuk mencuci kain batik tulis.
Teh Poci, bukan khas Cirebon, namun khas "negara tetangga" (Tegal), menambah keragaman produk kerajinan rakyat di sepanjang jalan Kanoman (Pecinan)
Konsistensi yang mengagumkan, toko ini sudah menjual jamu sejak saya kecil (lebih dari 30-an tahun yang lalu)
Pasar burung, juga di jalan yang sama (daerah Pecinan)
Batu mulia

 
Kedai barang antik, klenik dan kerajinan khas Cirebon, kurang beragam apalagi? (Kanoman)

Kelenteng yang dibangun pada abad ke-16. Tiao Kak Sie (Dewi Welas Asih), yang masih mencoba mempertahankan keaslian struktur bangunan dan interior klenteng. Bukan tugas yang mudah.
Lukisan legenda Tiga Negara (Sam Kok) di klenteng Dewi Welas Asih, yg dibuat pada tahun 60-an, merupakan upaya pelestarian, kerena tembok yang berada dibelakangnya, yang penuh mural tentang cerita pengadilan di akhirat mengalami kerusakan parah akibat lapuk dimakan usia dan cuaca.

Bagi Anda yang ingin lebih mengenal Cirebon lebih dalam, ada ulasan menarik mengenai Cirebon tempo dulu. Tertuang dalam link berikut : http://cerbonan.wordpress.com/cirebon-tempo-doeloe/