Translate

October 6, 2013

Bila benih tanaman punah, begitupula manusia.


Makan sayurpun belum tentu lebih sehat. Benih transgenik, pupuk kimia dan pestisida sudah merupakan satu paket jika hasilnya ingin "maksimal". Konsumen hanya bisa memilih apa yg tersedia di pasaran, seolah tidak memiliki posisi tawar yang kuat untuk menuntut produsen makanan lebih bertanggung jawab, padahal ini menyangkut jangka waktu dan kualitas hidupnya sendiri dan hak prerogatif untuk berbelanjapun sebenarnya dipegang oleh konsumen. Selain hal itu disebabkan karena rata-rata manusia jaman sekarang rupanya semakin menurun tingkat kecerdasannya (terlepas dari jenjang pendidikan dan status sosial- jangan sungkan untuk mengakui hal ini) kemampuan kita untuk bercocok tanam atau keterikatan kita dengan tanah (sebagai sumber makanan) semakin lekang oleh peradaban baru yang lebih digandrungi. Semakin lepas ikatan dengan identitas awal sebagai masyarakat agraris semakin berasa berarti hidupnya, mungkin. Sepertinya ini memang sudah pola manusia, ketika masa bercocok tanam menggantikan masa mengumpulkan makanan dan masa perundagian meninggalkan masa bercocok tanam. Trend baru cenderung selalu lebih digandrungi. Namun selama manusia masih punya perut, bercocok tanam masih harus merupakan prioritas yang tidak boleh ditinggalkan secanggih apapun peradaban manusia kelak. 

Jika melihat arus peradaban saat ini, ada hal yang sangat mengerikan untuk dibayangkan. Kerusakan lingkungan hidup terjadi di mana mana dan mengakibatkan kualitas tanah dan air yang menurun drastis yang disebabkan karena praktek industri eksploitatif yang merusak lingkungan seperti pertambangan (sebagai tulang punggung industri teknologi tinggi), bahkan pertanian moderen dan perikanan skala besar juga turut memberikan kontribusi pada kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekosistem. 

Lokasi tambang migas dan batubara yang terdata oleh BP Migas,
ini hanya sebagian kecil dari lokasi eksploitasi SDA,
belum lagi pertambangan mineral lainnya yang dalam
prosesnya menimbulkan kerusakan ekologi parah.


Sudah jelas berbahaya masih saja diterapkan oleh banyak petani.
Sifat eksploitatif tidak hanya milik korporasi, 
bahkan petani dan nelayan pun
masih banyak yang melakukan perusakan 
(bahan makanan, tanah, air dan udara).


Lubang tambang emas Freeport, air, tanah dan udara tercemar
kerena proses pertambangan yang menggunakan
zat kimia berbahaya.

Tuntutan pemenuhan "kebutuhan" manusia yang semakin meningkat populasinya (karena tidak ada predator alami bagi manusia - sedikit intermezo, dalam dunia binatang, biasanya binatang paling beracun bersifat kanibal, maka masuk akal bila manusia paling "beracun" memiliki sifat "kanibal"- dih nyinyir banget ya) menyebabkan teknologi turut berperan dalam peningkatan produksi pangan, bibit transgenik adalah salah satu produk teknologi tinggi sebagai solusi instan untuk menjawab persoalan perut dan meningkatkan produktifitas hasil tanam. Dulu sekali, sebelum ditemukannya behih transgenik, benih tanaman bahkan dapat berumur ribuan tahun. Pada saat Piramida dibangun, berdampingan dengan mumi sang raja, ternyata banyak pundi-pundi disekitarnya yang menyimpan banyak benih, ketika ditemukan ribuan tahun kemudian benih tersebut masih bisa ditanam. Saat ini umur benih (terutama transgenik) semakin pendek, hanya berkisar mingguan hingga maksimal satu-dua tahun. Apakah ini yang disebut dengan kemajuan? Yakinkah manusia semakin pintar? Semakin komersil sepertinya semakin pendek umurnya.



Bawang Probo, umur bibit umbi hanya 1 bulan.



Bibit tomat. 
Benih tomat dalam bentuk biji, hanya berumur maksimal 6 bulan


Kiri ke kanan: benih Okra, kacang hitam, labu.
Benih okra maksimal tahan 2 tahun,
 Benih labu ini kemungkinan besar 
adalah benih transgenik yang juga
berumur pendek.


Padi 64, dalam waktu tiga bulan harus sudah ditanam.
Sepertinya umur manusia pun begitu, memang secara fisik terlihat lebih "kekinian" namun jangka waktu hidupnya saya tebak tidak akan selama generasi sebelumnya. Karena apa yang kita makan sangat mempengaruhi kita.



sumber foto: http://ceritasukakoe.wordpress.com/2013/05/11/situs-donlot-musik-korea/

Jika memang umur manusia semakin pendek maka sebenarnya kita tidak perlu khawatir akan kekurangan makanan, apalagi ditambah dengan "anugrah" bencana alam, peperangan, kecelakaan lalulintas, tingkat bunuh diri yang tinggi akibat tekanan hidup yang semakin bertambah dan "anugrah" sejenisnya akan menjamin ketersediaan pangan yang cukup bagi yang "beruntung" hidup agak lama.

Tidak bisa dibayangkan betapa mengerikannya jika ada penelitian yang menyebutkan bahwa semakin tinggi teknologi maka harapan hidup manusia semakin panjang. Dengan semakin menurunnya kualitas tanah, air dan udara serta umur benih yang semakin pendek diperparah dengan semakin sempitnya lahan berkualitas untuk bercocok tanam karena alih fungsi lahan dan semacamnya, silahkan hitung sendiri kemungkinan akan kelaparan yang akan menjadi trending topik masa depan, atau bahkan perang berebut makanan dan penggunaan kekerasan yang melibatkan kekuatan koersif untuk pengamanan lumbung-lumbung pangan sehubungan dengan tingkat populasi dunia yang semakin bertambah. 


Populasi dunia pada tahun 2025 diprediksikan akan mencapai 8,1 miliar. (http://www.pakistannewsday.com/world-population-to-hit-8-1-billion-in-2025-un/)



Sebaiknya kita mulai mencetak kalimat dibawah ini sebagai bumper stiker atau spanduk untuk selalu mengingatkan kita agar terhindar dari skenario kelaparan sedunia. 

"Sudahkan Anda bercocok tanam ?"
(bukan gardening tapi farming)

Benih merupakan aset paling likuid dan merupakan world currency di masa yang akan datang (semoga kita sudah "menyatu dengan alam" ketika ini terjadi). Jika benih bahan pangan punah, begitupula dengan manusia. Jika ingin bertani, bertanilah sesuai dengan etika dan ikut serta dalam menjaga kualitas tanah dan air (pertanian organik/alami). Mulailah mengkoleksi benih pusaka atau heirloom seeds (benih yang secara genetik masih murni, non-transgenik) mulai saat ini, hal ini akan menjadi tantangan berat karena benih pusaka hampir punah, dan sayangnya fenomena ini dianggap hal yang "biasa" bahkan bukan merupakan bagian dari krisis hidup. 

August 29, 2013

Messages for travel writer

"So why aren’t you, the new generation of penmen and -women, stepping into an expanding vacuum? Why aren’t more of you – buttressed by blogging skills and vocal in your frustrated desire to be recognised for your craft – helping to drive the kind of change that positions you as leaders? More nimble, more imaginative, more bold and less reliant on traditional revenue sources, you have little stopping you". (Ethan Gelber)
Read more about his opinion on travel writing : 

http://travelllll.com/2012/02/26/bloggers-should-write-about-responsible-travel/


Tulisan lainnya, dalam bahasa Indonesia : 


"Menjamurnya travel blogger juga turut ambil bagian dalam kegilaan masa ini. Para penulis amatir yang saya yakin belum atau tak pernah belajar kode etik blogger ini memperburuk keadaan. Berbekal menulis seadanya mereka menulis sebuah artikel tanpa tendeng aling. Seolah-olah dalam penulisan artikelnya tak memiliki tanggung jawab etis pada pembacanya. Setiap blogger, bagi saya, wajib memberikan informasi yang benar dan utuh setra tidak menyesatkan. Kegagalan memahami tanggung jawab ini, atau lebih buruk lagi, menyombongkan pekerjaan ini sebagai sebuah profesi mulia tanpa cela membuat travel writer turut berkontribusi dalam perusakan sebuah lingkungan. Kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu dan menjamurnya tiket pesawat murah adalah bukti terkini dan paling nyata akibat travel writer yang kurang riset dan tak mau tahu. (Arman Dhani) 



August 28, 2013

Path Dependency

Definition of 'Path Dependency'

An idea that tries to explain the continued use of a product or practice based on historical preference or use. This holds true even if newer, more efficient products or practices are available due to the previous commitment made. Path dependency occurs because it is often easier or more cost effective to simply continue along an already set path than to create an entirely new one.

Investopedia explains 'Path Dependency'

An example of path dependency would be a town that is built around a factory. It makes more sense for a factory to be located a distance away from residential areas for various reasons. However, it is often the case that the factory was built first, and the workers needed homes and ammenities built close by for them. It would be far too costly to move the factory once it has already been established, even though it would better serve the community from the outskirts of town.

The above explains how the world's systems formed (originated from the legacy of previous common mindset). This also means it is very easy to predict what will happen in the future. Ecological damage becomes inevitable if we look at how the legacy of the industrial revolution era mindset forming the current political and social conditions and world economy, especially if it refers to the idea that human being is homo economicus (see the definition of Homo Oeconomicus http://en.wikipedia.org/wiki/Homo_economicus ).

Exploitation of nature has long existed but before the industrial revolution, the production process still relies on human labor (manual) so it is human’s power limitations that restrict the exploitation of nature. Nowadays with the advancement of technology, the acceleration of exploitation is beyond the nature’s ability to balance itself and has changed the patterns of production and consumption.

Any crisis especially concerning ecological damage is a vicious circle and difficult to control let alone be eliminated, all people and their aspects involved in the current path dependency, all people contributed in various scales of ecological damage.  Even the simplest industrial or economic activity cannot be separated from exploitative acts and destruction of nature, the difference is on the level of impact of the economic action and how it can be restored and balanced by nature with or without human assistance (with or without human existence, nature will find its balance despite of the ecological damage caused by human activities, human has become a threat for other being).

For example banana fritter seller mostly using palm oil since the price is much more affordable when compared with the use of homemade coconut oil. However, the current palm oil industry is closely related to massive rain forest destruction and cause to sociological and humanitarian crisis. Indirectly, unwittingly, banana fritter seller can be viewed as a destroyer of nature and advocates human rights violation. As I write this, I was picturing a banana fritter seller who choked reading this explanation. Further on you can imagine how big is the impact of the automotive and gadget industries that relies heavily on mineral, petroleum and coal mining on a large scale since the users of the products include the world's population.

There are things that I think is almost comical.  With the growing of one's understanding of path dependency and one’s position in the path, one will wonder how would environmental activists feel when they realize that they are inevitably still part of the destruction of nature, how ridiculous an environmental activist is seen with his various efforts to conserve nature, if he fails to see the big picture.

How would you react on this explanation? What can we do?

For a pessimist, this facts leads to frustration and become apathetic because all things sounds too complicated and fail to see the solutions for many situations so that the only thing to do is living the life in a quiet desperation. To an optimist, the dark cave image on the wall will be seen as an adventure that will lead him to a way out. For an opportunist, any crisis is an opportunity that will give personal gain regardless of the moral burden. The rest are the ones who are confused like dead fishes carried away by the flow (how ridiculous are those who consider themselves sophisticated but are in this category and feel there is nothing wrong in their life) and the people who are full of joy because with or without understanding complicated matters, they still do goodly things and live in a simple way of life (e.g. ethnic minority groups living in the deep forest or close to nature).

“Thanks to scientific and technical advances over the last hundred years, most people today are materially wealthier than their forefathers. Yet, by their own accounts, the improvement in the quality of their lives has not matched their material gains. In fact, it may be argued that people once were happier and more fulfilled. For some, material affluence breeds anxiety, a gnawing fear that if someone doesn’t take away their hard-earned acquisitions, the end of their days will prematurely arrive to finish the job. Others find death easier to face than a lifetime of assembly-line slavery, while most, in a less dramatic fashion, simply buckle down to lives of quiet desperation”. (Scientology)

“The real hopeless victims of mental illness are to be found among those who appear to be most normal. Many of them are normal because they are so well adjusted to our mode of existence, because their human voice has been silenced so early in their lives that they do not even struggle or suffer or develop symptoms as the neurotic does. They are normal not in what may be called the absolute sense of the word; they are normal only in relation to a profoundly abnormal society. Their perfect adjustment to that abnormal society is a measure of their mental sickness. These millions of abnormally normal people, living without fuss in a society to which, if they were fully human beings, they ought not to be adjusted.” ― Aldous Huxley, Brave New World Revisited -

How optimists anticipate the vicious circle of path dependency?

Path dependency also occurs in the relationship between flowers and bees. There is somehow some kind of invisible ‘treaty’ on how relationships between all species, system and existence formed and intertwined.
The attractive color of the flower is formed through a series of genetic 'conspiracy' to attract bees (The Beauty of Flower-presented by physicist Richard Feynman). Flower with attractive colors will ensure the sustainability of itself and automatically everything related directly or indirectly to it. The absence of one or more components within the series of 'conspiracy' will lead to destruction of all the components involved (food chain, the balance of the ecosystem).

In biology there is the term selfish DNA that is considered as the ultimate parasite (L.E. Orgel & F.H.C Crick) and not to be confused with selfish gene introduced by Dawkins (but biologist William D. Hamilton is the one who spread the idea for the first time in 1963). DNA inherited traits or certain characters, which will functioned as nothing but to benefit its own duplication. Humans or other species are medium for DNA replication and this explains the formation of certain behaviors.

The above explanation gives the impression that DNA is capable to hijacks any order that is beneficial for its continuity. Most media are subject to DNA’s 'command' and the ‘nature selection’ is formed accordingly (this also explains the misinterpretation of the theory of Darwinian evolution. "The human brain is almost as if specifically designed to misunderstand Darwinism, and finding it is hard to believe it"-Richard Dawkins).

The theory of natural selection, in its more general formulation, deals with the competition between replicating entities. It shows that, in such a competition, the more efficient replicators increase in number at the expense of their less efficient competitors. After a sufficient time, only the most efficient replicators survive. — L.E. Orgel & F.H.C. Crick, Selfish DNA: the ultimate parasite.





DNA only requires 'obedient' media, it does not require 'critical nature' characteristic which will inevitably degrade the quality of life of multiplier media. Within human's world, the degradation in quality of life may be more pronounced (since human is the only creature endowed with certain intelligent which also serves as the guardian of the balance of nature).

Human beings with decreasing intelligence capacity will be born, and the number is increasing each time. This phenomenon triggered because our brains become more reliable to serve what’s according to zoologist as four F; fighting, fleeing, feeding, finding a mate. It is ironic that this would at the same time lead to the destruction of order formed by the DNA itself.

"From the point of view of the gene, the human race is merely means to create as many genes as possible" (Virus of the Mind, Richard Brodie).

Perhaps this could explain the ever more declining quality of life, the reason why human being suffering from intellectual degradation and keep on losing their mind, the collapse of civilization and the ‘cycle of recovery’ or balance of nature. Selfish DNA must die.

According to the memetics human being can prevent things that leads to certain behavior resulted from ‘being controlled’ by DNA. There is a way to reverse or cut the path dependency despite of its density for the betterment of human race. The antidote for the seemingly complicated and unbreakable path dependency lies in the understanding on how meme works. A successful revolution within human’s life must include deep understanding on how to breakdown the system and how the system works within and outside the human itself.

*Meme: an information pattern held in an individual’s memory, which is capable of being copied by other individuals/ is an idea, behavior, or style that spreads from person to person within a culture. Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Meme


Path dependency (ketergantungan pada jalur).

Definition of 'Path Dependency'

An idea that tries to explain the continued use of a product or practice based on historical preference or use. This holds true even if newer, more efficient products or practices are available due to the previous commitment made. Path dependency occurs because it is often easier or more cost effective to simply continue along an already set path than to create an entirely new one.

Investopedia explains 'Path Dependency'

An example of path dependency would be a town that is built around a factory. It makes more sense for a factory to be located a distance away from residential areas for various reasons. However, it is often the case that the factory was built first, and the workers needed homes and ammenities built close by for them. It would be far too costly to move the factory once it has already been established, even though it would better serve the community from the outskirts of town.


Hal di atas menjelaskan bagaimana sistem di dunia (berasal dari pola pikir) yang terbentuk saat ini merupakan warisan pemikiran terdahulu dan akan sangat mudah menjelaskan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kerusakan ekologi menjadi suatu keniscayaan jika kita perhatikan bagaimana warisan pola pikir jaman revolusi industri membentuk kondisi sosial politik dan perekonomian dunia terutama jika mengacu pada pemikiran bahwa manusia adalah mahluk ekonomi (lihat definisi Homo Oeconomicus http://en.wikipedia.org/wiki/Homo_economicus)  

Eksploitasi alam memang sudah lama ada namun sebelum revolusi industri, proses produksi masih mengandalkan tenaga manusia (manual) sehingga keterbatasan tenaga manusialah yang membatasi kegiatan eksploitasi alam. Saat ini dengan berbagai kemajuan teknologi, kecepatan dan percepatan eksploitasi melampaui kemampuan alam untuk menyeimbangkan diri, mengubah pola produksi dan konsumsi.

Krisis apapun terlebih yang menyangkut kerusakan ekologi terlihat bagai satu hal yang tidak berujung pangkal dan sulit untuk dikendalikan apalagi dihentikan karena semua terlibat dalam arus ‘ketergantungan pada jalur’ (path dependency), semua memberikan kontribusi dalam berbagai skala terhadap kerusakan ekologi. Industri atau kegiatan ekonomi sesederhana apapun tidak lepas dari tindakan eksploitatif dan perusakan alam, bedanya hanya pada besar kecilnya dampak secara langsung dan seberapa besar tindakan ekonomi tersebut dapat dipulihkan/diseimbangkan oleh alam dengan atau tanpa bantuan manusia (dengan atau tanpa manusia, alam akan menemukan keseimbangannya terlepas dari kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan manusia, manusia dapat dikategorikan sebagai hama bagi alam).

Pedagang pisang goreng menggunakan minyak sawit yang harganya jauh lebih terjangkau jika dibandingkan dengan menggunakan minyak kelapa buatan sendiri. Namun saat ini produksi minyak sawit sangat erat dengan berbagai kerusakan alam dan krisis kemanusian. Secara tidak langsung, tanpa disadari, pedagang pisang goreng juga merupakan salah satu perusak alam dan pendukung kekerasan HAM. Saat saya menulis ini, saya sedang membayangkan pedagang pisang goreng yang tersedak membaca penjelasan ini. Dari sini bisa dibayangkan seberapa besar dampak industri otomotif dan perkakas (gadget) yang sangat bergantung pada pertambangan mineral, minyak bumi dan batubara dalam skala besar mengingat pengguna hasil produk tersebut mencakup populasi dunia.

Ada hal-hal yang saya anggap hampir lucu, yang muncul dengan semakin dalam pemahaman seseorang akan path dependency dan posisinya dalam jalur tersebut. Seberapa besar perasaan bersalah seorang aktivis lingkungan yang mau tidak mau masih menjadi bagian dari perusakan alam, seberapa konyol seorang aktivis lingkungan hidup terlihat dengan upaya-upayanya dalam mengkonservasi alam jika masih gagal melihat gambaran besarnya.

Bagaimana reaksi Anda atas penjelasan ini? Apakah yang dapat kita perbuat?

Bagi seorang pesimis, kenyataan ini membuatnya frustasi dan apatis karena semua fenomena terkesan rumit dan gagal melihat solusi sehingga jalan satu-satunya adalah terpaksa menjalani hidup dalam keputusasaan. Bagi seorang optimis, dinding yang dicat warna hitam seperti gambar gua yang gelap adalah jalan masuk yang akan menghantarkannya pada jalan keluar yang lain. Bagi seorang oportunis, krisis apapun adalah peluang yang akan memberikan keuntungan pribadi terlepas dari beban moral. Sisanya  adalah orang-orang bingung yang mengikuti arus bagai ikan mati (betapa konyolnya yang menganggap dirinya sophisticated namun berada dalam kategori ini dan merasakan ada yang salah dalam hidupnya) dan orang-orang yang penuh suka cita karena dengan atau tanpa pemahaman hal-hal yang rumit, ia tetap menjalankan kebaikan dalam kesederhanaan (biasanya ditemukan di kelompok-kelompok etnis minoritas dunia yang hidup di pedalaman/dekat dengan alam).

“Thanks to scientific and technical advances over the last hundred years, most people today are materially wealthier than their forefathers. Yet, by their own accounts, the improvement in the quality of their lives has not matched their material gains. In fact, it may be argued that people once were happier and more fulfilled. For some, material affluence breeds anxiety, a gnawing fear that if someone doesn’t take away their hard-earned acquisitions, the end of their days will prematurely arrive to finish the job. Others find death easier to face than a lifetime of assembly-line slavery, while most, in a less dramatic fashion, simply buckle down to lives of quiet desperation”. (dikutip dari situs scientology).

“The real hopeless victims of mental illness are to be found among those who appear to be most normal. Many of them are normal because they are so well adjusted to our mode of existence, because their human voice has been silenced so early in their lives that they do not even struggle or suffer or develop symptoms as the neurotic does. They are normal not in what may be called the absolute sense of the word; they are normal only in relation to a profoundly abnormal society. Their perfect adjustment to that abnormal society is a measure of their mental sickness. These millions of abnormally normal people, living without fuss in a society to which, if they were fully human beings, they ought not to be adjusted.” ― Aldous Huxley, Brave New World Revisited -

Bagaimana seorang optimis mensiasati path dependency yang macam lingkaran setan? Penjelasannya ada di bawah ini.

Path dependency juga terjadi pada hubungan antara bunga dan lebah. Ada semacam ‘kesepakatan’ tidak kasat mata bagaimana relasi antara segala spesies, sistem dan eksistensi  terbentuk dan terjalin.
Warna pada bunga tercipta melalui serangkaian ‘konspirasi’ genetik untuk menarik lebah (The Beauty of Flower- dipaparkan oleh ilmuwan fisika Richard Feynman). Bunga dengan warna yang menarik akan menjamin keberlangsungan dirinya sendiri dan otomatis segala sesuatu yang berkaitan secara langsung atau tidak langsung dengannya. Hilangnya  satu atau lebih komponen dalam rangkaian ‘konspirasi’ sama dengan pemusnahan terhadap seluruh komponen yang terkait (rantai makanan, keseimbangan ekosistem).

Dalam ilmu biologi ada istilah DNA egois yang dianggap sebagai the ultimate parasite (L.E. Orgel & F.H.C Crick) yang berbeda dengan gen egois (selfish gene – Dawkins, namun biolog William D. Hamilton adalah yg pertama kalinya menyebarkan gagasan gen egois ini pada tahun 1963).  DNA mewariskan sifat-sifat atau karakter-karakter tertentu yang fungsinya tidak lain adalah penggandaan dirinya. Manusia atau spesies-spesies lain hanyalah media penggandaan bagi DNA itu sendiri sehingga perilaku-perilaku tertentu terbentuk demi kelangsungan ‘hidup’ DNA tersebut.

The theory of natural selection, in its more general formulation, deals with the competition between replicating entities. It shows that, in such a competition, the more efficient replicators increase in number at the expense of their less efficient competitors. After a sufficient time, only the most efficient replicators survive. — L.E. Orgel & F.H.C. Crick, Selfish DNA: the ultimate parasite.

Dari penjelesan di atas muncul kesan bahwa DNA membajak segala tatanan jika tatanan itu menguntungkan dirinya sehingga muncul perilaku khas. Media yang paling tunduk akan ‘perintah’ DNA akan terpilih dengan sendirinya (menjelaskan kesalah kaprahan terhadap teori evolusi Darwin. “Otak manusia hampir seolah-olah dirancang khusus untuk salah mengerti Darwinisme, dan kesulitan untuk mempercayainya”-Richard Dawkins).

DNA memiliki kemampuan untuk membajak segala tatanan namun sayangnya dalam proses penggandaan dirinya membutuhkan media-media yang patuh akan ‘perintah’ DNA tersebut sehingga tidak membutuhkan ‘sifat-sifat kritis’ yang niscaya akan menurunkan kualitas hidup media pengganda. Dalam dunia manusia penurunan kualitas hidup ini akan lebih terasa (karena hanya manusia yang dianugrahi akal budi yg juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan). 

Dalam dunia manusia akan terlahir manusia-manusia dengan kecerdasan yang menurun, namun jumlahnya banyak. Fenomena ini terpicu karena otak kita semakin handal melayani empat dorongan hewani yg disebut zoolog sebagai empat F (fighting, fleeing, feeding, finding a mate). Ironisnya justru ini akan mengarah pada kehancuran tatatan yang dibentuk oleh DNA itu sendiri.

“Dari sudut pandang gen, umat manusia hanyalah sarana untuk membuat gen sebanyak banyaknya” (Virus of the mind, Richard Brodie).

Mungkin ini yang bisa menjelaskan mengapa kualitas hidup manusia semakin menurun, manusia semakin kehilangan akal budinya (kecerdasannya menurun), menjelaskan keruntuhan satu peradaban dan siklus ‘pemulihan’ keseimbangan alam. DNA egois harus mati.

Menurut ilmu yang membahas memetika, ada satu harapan untuk menangkal ‘pembajakan’ tatanan oleh DNA ini. Kuncinya ada pada ilmu memetika yang mempelajari bagaimana meme bekerja. Ini artinya ada harapan untuk memutus path dependency. ‘Antibody’  terhadap kerumitan dan kepekatan path dependency tersebut ada pada pemahaman bagaimana meme bekerja. Revolusi apapun adalah omong kosong jika jauh dari pemahaman terhadap individu itu sendiri (termasuk pemahaman bagaimana membongkar sistem dan bagaimana sistem di dalam dan di luar tubuhnya bekerja).

Meme: an information pattern held in an individual’s memory, which is capable of being copied by other individuals/ is an idea, behavior, or style that spreads from person to person within a culture. Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Meme

June 30, 2013

My favorite natural products from Bali

Most natural products displayed in this blog are limited and unfortunately they are not cheap because the sources are limited and most herbalist must grow their own organic herbs. The process is time consuming and therefore the availability is limited.


http://balancethruherbs.blogspot.com/


Enough is enough with petroleum based detergent, let's go back to local wisdom. I've been using liquid soap nut for my laundry and sometimes for washing dishes for the past five years. Traditional people in Java still using soap nut (Lerak in Javanese) to wash their precious hand painted batik collections (to maintain its colour and to protect the material since the usage of detergent can harm its quality) and to wash their jewelries. Since I am allergic to petroleum based detergent I started using Lerak five years ago recommended by a Balinese friend of mine. The only problem using liquid soap nut is we can not wash white clothes with it and it doesn't have any scent so we can add essential oils if needed. People back then using herbs such as cendana oil (sandalwood) or akar wangi (vetiver) in their closet to get rid of moth and odour. Clothing with delicate and expensive materials such as silk need special treatment and so far soap nut liquid never fails me.

Liquid soap nut
I can never get enough with these natural soap bars. Satsuki is a Japanese lady who really concern about her family's health so she makes her own soap bars and healthy organic food. Her soap bars are so mild and all have very nice scent, my bathing ritual become a very pleasant moment with all these natural soap bars.

Natural soap bars, very mild and you'll love the scent.
http://www.sabunalamiubud.net/
For those who are allergic to any kind of shampoo with petroleum based detergent there are many alternatives such as herbal shampoo and I am lucky enough to live very close to people who still maintain their local wisdom. Other than using fresh natural herbs and leaves such as aloevera, coconut, ginger, green tea and hibiscus leaves to treat my hair, I am also using Frangipani shampoo regularly. It gives my hair the right volume and moisture. Frangipani shampoo contained more than a dozen ingredients that are distilled in a complicated and traditional way. Previously I need to wash my hair once every two days because the detergent residue can caused itchy scalp, with this shampoo I can wash my hair once every three to four days to protect the moist on my scalp. I can use the shampoo as body wash aswell. It's very mild that you can use the shampoo daily. Other than shampoo I am also using hair tonic from the same herbalist. One day I just realized that I still have a bottle of hair tonic that I bought several years ago, to my surprise the hair tonic that has been abandoned for years is just getting better and better, the scent is getting nicer. It has the scent of thousand flowers and I love it. They have other products aswell such as mosquito repellent from lemon grass essence, body scrub and massage oil, I just love their natural products.

Hibiscus leaves for hair conditioner

Massage oil, hair tonic, mosquito repellent and body oil.
http://balancethruherbs.blogspot.com/

On one occasion, I had an interview with the herbalist and I am falling in love deeper and deeper with her products. She told me when she was young she used to give beauty treatments to her sisters- who were famous dancers and beauty queens in the village. She used to hate her sisters and the obligation to take care of their beauty because she had to collect all the ingredients herself, running errands walking up and down the valleys, rivers and grinding herbs for all her sisters' beauty treatment, but now she understood that it's a way of nature teaching her the local wisdom that has to be passed on to the next generation. So many thanked her natural beauty products including myself. I don't have itchy scalp anymore and my dry curly hair becomes shiny and easy to manage.



http://balancethruherbs.blogspot.com/






Another favorite item to be put on the list is natural sanitary napkin. I am allergic to the adhesive substance in conventional sanitary napkin, it's so uncomfortable to deal with every time I have my period and above all I have a deep concern to the fact that most sanitary napkins on the market are bleached, for sure this will affect our private area sooner or later, so I searched for relatively safe sanitary napkin and found these cute napkins.


http://www.dewirungu.com/menstrual-pads/


These napkins are so soft and comfortable because they are made of 100% cotton and are available in three sizes, S, M, L and XL for heavy duty. It is environmentally friendly, no bleach, no annoying adhesive that can cause allergic reaction and damage our panties. They can be used for a long period of time and easy to wash and dry. It's better to sacrifice a little bit of time to wash the napkins  rather than getting any diseases caused by bleaching agent commonly used for papers, fabric or cotton.

The last but not least, is bamboo straw. I love drinking juice and it is annoying to know that people are constantly using and offering plastic straws unconsciously. Since these bamboo straws are cute, I love bringing them everywhere I go, they are very useful and you might like the taste of the juice sipped from the bamboo straw.


By altering our consumption to environmentally friendly products, hopefully we can leave our future generation a better place to live in.

June 29, 2013

Catatan perjalanan ke Kyoto



Cantik sekali, luar biasa cantik, kalau Anda berkunjung ke Kyoto, mata Anda akan terus menerus dimanjakan karena setiap sudutnya tertata rapih, penuh warna, terkesan damai dan sangat artistik. Surga untuk yang senang belanja, wisata kuliner, budaya, informasi teknologi dan pornografi. One stop shopping.








Setiap kali belanja sekecil apapun barang belanjaan dan pengeluaran Anda pasti akan dikemas sangat cantik dan mendapatkan pelayanan yang membuat Anda merasa spesial. Setiap kali Anda membeli jajanan, sekecil apapun nilainya rasanya seperti membeli jajanan eksklusif karena penyajiannya yang artistik. Dulu saya melihat apapun yang ada di Jepang terutama Kyoto adalah mimpi yang harus terwujud di negara kita, terutama tata kotanya, kemampuan mengkonservasi budaya dan bangunan-bangunan kunonya, kualitas pelayanannya serta kecanggihan infrastrukturnya. Seperti halnya setiap hubungan, semakin dalam Anda mengenal pasangan Anda, akan semakin melihat kekurangannya. Dulu saya menilai bahwa Jepang dari segala hal melampaui peradaban manusia modern di belahan dunia manapun, saat ini saya melihat banyak hal yang sangat mengerikan dibalik semua kemasan cantik (baik itu yang sesungguhnya maupun dalam arti kiasan) dan kemajuan di Jepang.





Berapa banyak kertas dan plastik yang digunakan untuk mengemas, berapa banyak pohon dan sumber daya lain yang dikorbankan untuk memanjakan konsumen dan atas nama seni. Untuk satu kotak jajanan dalam bentuk suvenir, paling tidak ada tiga lapisan pengemasan.





Seberapa perlu menampilkan bahan makanan, terutama buah dan sayur yang tanpa cacat, sempurna dari segi ukuran dan warnanya hingga lupa bahwa mengejar kesempurnaan fisik adalah penyakit mental yang tidak disadari kebanyakan dari kita semua.


 Seberapa perlu manusia harus nyaman dengan segala infrastruktur dan ciptaan teknologinya namun terlepas dari akar budaya dan kearifan lokal, hingga untuk melihat cuaca esok haripun harus mengandalkan gadget. Bicara mengenai prakiraan cuaca, masyarakat tradisional di pedalaman memiliki “gadget” yang tidak kalah canggih, bunyi serangga, kondisi tanaman dan perbintangan sudah biasa dijadikan andalan untuk memperkirakan cuaca.




Segala bentuk kecanggihan dan kenyamanan di Jepang berkaitan erat dengan krisis karena perang dan kerusakan ekologi dari kemajuannya sendiri sehingga tampak sekali upayanya yang berlebihan menjurus obsesif akan keteraturan dan kebersihan dari generasi penerus.

Kesan yang paling sering saya dapatkan adalah keramahan yang, hm...luar biasa, seringkali terlalu ramah hingga satu saat saya tersadar bahwa keramahan yang terlalu itu menciptakan jarak, bahkan di tempat-tempat yang menjajakan komoditas sekspun keramahan tetap terjaga. Awalnya keramahan mereka adalah mentalitas yang saya yakini itu adalah proses untuk memanusiakan manusia, namun pada penghujung hari yang saya rasakan adalah isolasi, perasaan terasing karena ada jarak yang terlalu lebar. Sebagai turis, saya seringkali merasakan keramahan yang luar biasa karena keingin tahuan mereka tentang budaya asing, karena saya mau berkali kali mengunjungi Kyoto dan yang paling menyedihkan adalah karena perasaan keterasingan mereka yang sudah terlalu dalam dan berjarak dengan sesamanya hingga mereka lebih nyaman berbicara dengan orang asing, membenamkan diri di dunia maya atau memilih peliharaan sebagai teman hidup.

Ketika berjalan-jalan ke satu kompleks beautification area di Arashiyama dan Ohara (sekitar 30-40 KM dari Kyoto) kerap kali saya befikir, tempat itu cukup ramai dikunjungi orang dan yang paling menyenangkan adalah setiap pemilik kedai menjual barang-barang yang khas hasil produksi rumahannya, setiap orang terlihat sangat kreatif. Tempat itu tidak sehiruk pikuk tempat-tempat lain yang setipe di negara Asia lain yang pernah saya kunjungi. Masing-masing seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri sehingga seramai apapun tetap ada keheningan. Saya memang tidak mencari keramaian, uniknya di tempat-tempat ramai yang hening itu cukup memberikan saya waktu untuk berfikir tentang situasi yang saya hadapi. Ada juga kesan terasing, namun bukan kesepian, lebih dirasakan seperti anjuran untuk berkontemplasi, saya yakin ini karena pengaruh ajaran Zen di Jepang  atau mungkin itulah yang ingin saya yakini tentang tempat itu.

Perasaan terasing dan kesepian justru sering saya tangkap di komuter di kota-kota besar pada jam-jam padat pergi dan pulang kantor, komuter yang sangat padat itu terlalu hening untuk ukuran saya. Saya yakin para pekerja itu sibuk dengan pikiran masing-masing, kecuali yang datang dan pergi berkelompok dengan teman-temannya, itupun tidak banyak, rata-rata mengantuk, membaca buku lalu tertidur atau sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sungguh masyarakat canggih yang unik namun sekaligus saya menangkap satu kemunduran serius diantara mereka, ada apa dengan komunikasi antar manusia? Bahasa verbal seolah jarang sekali digunakan. Ada bagusnya juga, banyak bicara pun belum tentu baik. Entah apakah pemahaman terhadap diri mereka dan lingkungan sekitarnya sudah tinggi hingga diam merupakan wujud pemahaman tertinggi, ataukah salah satu bentuk kegagalan komunikasi antar manusia, mungkin keduanya. 



Bentuk komunikasi dari budaya “diam” (baik itu karena depresi atau bagian dari proses memahami diri) di Jepang termanifestasi dari karya seni, seni visual dan musik, mereka berkomunikasi lewat karya, sehingga ada kesan bahwa mereka sangat terobsesi akan kemasan, tata letak, bentuk, warna dan bunyi-bunyian. Kegilaan yang terwujud dari depresi masyarakat di sanapun saya yakin sudah mencapai puncaknya. Saya pikir mungkin ini jauh lebih baik, diam dalam kekacauan, namun tetap berupaya mengatasi segala kendala hidup dengan tetap berkarya yang dapat mengisi kekosongan dan rasa keterasingan. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya Kyoto (Jepang) bagaikan makanan yang semakin dikunyah semakin banyak rasa yang muncul, dan menerima bukan semata yang baik-baik saja. Belajar dari yang lebih dulu mengalami kegagalan dan kehancuran (sosial dan ekologi) adalah jalan pintas terbaik agar kita mau memelihara apa yang sudah ada dengan jalan terbaik.






June 26, 2013

"Datuk Maringgih": Merdeka atoe "gila"!

"Datuk Maringgih"

Saya panggil dia Datuk Maringgih cuma karena dia doyan banget cewek cantik tapi gak pernah dapet, sekalinya dapet langsung diajak kawin sama ceweknya dan akhirnya dikawinin juga tu cewek cakep dengan alasan kasian ama tu cewek karena dia sudah menyerahkan kegadisannya dan setelah menikah keduanya sepakat untuk hidup terpisah, setelah punya anak. Silahkan mengerutkan kening.

Orang ini paling sering bikin jengkel karena pembicaraannya jarang bisa saya mengerti, itu dulu, ternyata emang karena "ilmu" saya belum nyampe. Waktu itu saya pikir orang ini super sotoy aja karena pendidikannya gak tinggi dan gak doyan baca, tapi rajin nonton sinetron, karena suka liat cewek cantik di TV.

Semakin hari saya semakin dalam mengenalnya dan sering di propose untuk menikahinya. Sinting ni orang. Pernah satu kali dia ngajak saya nikah di warung pecel lele, makannya nambah dua kali, selesai makan dia nanya, kamu punya uang gak, bayarin dong. Helooo abis propose trus minta dibayarin makan pecel lele. Tidakkk saya tidak marah, saya dan seluruh pengunjung lapak pecel lele tertawa terbahak, saya keluarkan lembaran uang untuk bayar sambil tetap terpingkal pingkal. Di lain waktu kami bertemu lagi janjian di warung padang di atas jam 12 malam. Memang kami suka begadang, cari rokok, masuk ke minimart jalan-jalan mengelilingi rak-rak seolah akan memborong seisi minimart, tanpa alas kaki. Di warung itu kebetulan sedang penuh pembeli, meja kami bersebelahan dengan dua pasangan yang saling diam, terlihat kaku karena sepertinya double date itu baru kenal.

Pelayan warung padang setengah "berteriak" pada kami "pake apa aja mas, mbak, minumnya apa?" sambil melirik penuh tanda tanya pada kami berdua karena sepertinya mereka betul-betul tidak percaya kalau kami sepasang kekasih, memang bukann...Tidak lama kemudian dia memperkenalkan diri saya kepada pemilik warung padang, "kenalin, ini istri saya". Kamprett!

Lagi-lagi seisi warung hanya tertawa terpingkal pingkal. Kelakuan isengnya tidak berhenti di situ, dia mulai menggoda dua wanita di meja sebelah. Mampuss! saya pikir, ni anak bakal dijotosin sama dua cowok kekar pasangan dua wanita itu. Ternyata saya salah dugaan, kedua cowok itu terlihat super santai dan tetap melanjutkan makan dengan tenang, lebih karena mungkin mereka pikir "orang kayak gitu" butuh hiburan, kasih aja lahh...(dan melirik agak kasihan ama cewek di sebelah "orang kayak gitu", me) Melihat dirinya aman dari kemungkinan dijotos, dia mulai melancarkan rayuan garingnya pada kedua wanita yg terlihat kikuk dan mulai memainkan hapenya, "mbak...mbak...bagi dong no hapenya..." Tidak dijawab...dan keduanya mulai mengambil krupuk sebagai pengalih perhatian. "Mbak...mbak...boleh minta kerupuknya gak buat kenang-kenangan" Tepok jidat!! Yang begini kalo gak dibawa santai bisa bikin stress, dan kurang layak tayang kalo dibawa ke mall-mall.

Motornya sangat unik, kalau gak dicat warna warni pakai cat tembok, ya dipretelin body nya hingga mirip rongsokan, dulu dia punya mobil, hm...gak mirip mobil, tapi ya rodanya empat, atapnya diganti gedek bambu yang dihias bulu-bulu ayam. Jangan salah, beberapa tahun kemudian ini jadi trend, di "Workshop city". Saya paling suka jalan-jalan sore dengan kendaraan roda empatnya, polisi sudah give up, dan menjelang malam pulang jalan-jalan seringkali dikejar anjing, gile anjing aja merasa terganggu liat kendaraan yang begini.

Kami sering makan bersama, dia penyuka makanan Jepang, gaya ya. Emang...Satu-satunya orang nyeleneh yang jarang pusing mikirin duit. Kalau kenyang, hasil karyanya bisa diminta gratis, atau ditukar saja dengan teh botol, dan bukan main bagus karya-karyanya. Orisnil, dan paling sering ditiru...tapi ya nyantai aja...Inspirasi itu gratis kok katanya, lagian sekolahnya juga gak tinggi tinggi amat. Dia senang kalau ada yang meniru karyanya dan sukses mendulang rupiah.

Bro!! Makan malam yuk, di Ryoshi! "aku gak ada uang!" katanya. Alahh...nyante ajaaa..."yukk!!, 15 menit ya, aku olah raga dulu". Sesampainya di Ryoshi, saya pesan banyak makanan. Kamu mau makan apa? "Hm...apa ya?" Tiba-tiba dia teriak lantang sekali memanggil manajer Ryoshi "Bro!! Sini! makanan apa yang paling murah di sini?" Sang manajer (orang Jepang), anehnya, mau-maunya menghampiri meja kami, "yang paling murah?? Nasi putih" katanya. "Ya!! Nasi putih dua!!" Teriaknya lantang, padahal sang menajer jaraknya tidak jauh dari meja kami. Saya cuma bisa melongo ketika dia betul-betul hanya makan dua mangkok nasi putih saja, tidak pesan minum, dan di akhir makan malam, dia membayar sendiri makanannya, dua mangkok nasi putih.

Adalah andalan saya ketika "jatuh" terpuruk, baik itu karena patah hati atau ketika sedang bokek parah. Satu kali pernah membantu saya menangani kasus patah hati terparah, dan dengan setia menemani saya meracau, memaki, menangis, dan pada waktunya, dia akan meninggalkan saya, bukan...bukan ketika saya sudah bangkit dari keterpurukan, namun ketika saya sedang kecanduan kehadirannya yang agak menentramkan hati. Saat itu ia tidak akan datang, bahkan tidak membalas panggilan. Sampai suatu saat dia bicara "kamu itu perlu sendiri, harus mampu bangkit sendiri, karena tidak ada orang lain yang mampu berbuat apa selain dirimu sendiri, jadi kamu harus kuat, aku gak akan ada terus untuk kamu".

Dia tau kapan saat yang tepat untuk banyak hal. Teman yang cukup fenomenal, mampu merevolusi banyak kesalah kaprahan dalam diri saya. Dia adalah salah satu "buku" favorit saya sepanjang masa. Orang paling merdeka yang pernah saya temui, kalau tidak "gila", dan dia paling senang dicap orang gila, karena label itu sangat memerdekakan dirinya.

June 9, 2013

Obituary of the fireflies

"You know the reason why I decided to choose this place? it's because of the fireflies, the water (river) and the ricefield. Now the water is not like it used to be, the fireflies are gone."

When he said that I thought it is very similar to love. We might have reasons why we love someone or something, but when we intent to own the things we love they will dissapear before us. So, love, let it be and set them free. Now I understand.

"Don't underestimate this place, this place has a very high vallue, it's a matter of my missmanagement. It's a very good business." 

No doubt about it, it is true from the point of view of an investor, it is a very good location, but it won't be considered as a good business from the point of view of environtmentalists.

"Why it is not?"

There are some springs located within your property. In Balinese tradition, springs are considered sacred.

"No, I don't believe in such things."

By sacred I mean, they have a way of telling the people that there shouldn't be any buildings or any human activities within the vicinity of springs, like maybe within several hundreds metre range around the springs. It's to protect the purity of water, springs shouldn't be contaminated. There are reasons why traditional Balinese people never build their houses nearby water (river, springs or too close to the sea), water should be pure. 

"No I never thought about the springs before, it wasn't for that reason and I didn't mean to. But the water is already contaminated. The reason why I choose this place is mainly because of the fireflies. There is one cottage there, I named it Fireflies. I saw so many fireflies before, so many! now, not anymore."

Hotaru? 

"Yes hotaru, I love hotaru"

And fireflies can only breed in clean water.

"Yess! Yess! Exactly!"

Well it's a combination of what we are all doing that we are no longer can see so many beautiful things that was once so close to us.