Translate

January 12, 2013

The loss of happiness


Living beings have the ability to adapt to its environment. If you take a trip to Serangan Island in Bali you'll find a landfills there and do not be surprised if you find a lot of cows there enjoying the "buffet". Cows, meadow, cows, meadow? Not always. You can also find that landfills area are surrounded by shelters of people who earn a living in the vicinity. I saw a BBC documentary film titled Welcome to India (http://www.bbc.co.uk/programmes/b01n8278) that describes the human ability to adapt to life among the dense population in India which ranks the second most populous in the world.The documentary described how three families with different professions endure the circumstances and make a living from day to day.


There is one scene that really caught my attention. It's a life of a group
of "miners", well actually mud collector, who start working after
midnight draining as much mud as possible from the culverts, transferring
the mud to water proof sacks. The city culverts is only enough to fit one person. The choking odor and dangers, such as poisonous snakes, rats, scorpion and God knows what-kind of deadly animals headquartered
in such place, lurking these hard working Indians, but all of these
does not lessen their determination. Oh, did I mention about the pile
of whatever shits part in that "mine"? They are working till dawn,
after approximately gained 30 sacks of mud, they try to sell them to
gold refiner at the Gangga riverside. Apparently they are a bunch of
gold miners, trying to collect the gold ore contained within the pile of dust in the city corners and of mud at the culverts. They live together with other 5-6 people in an already cramped simple room in a slum area, that seems to be un human for most of the people who are
lucky enough to be born in a better situation. 

There is one significant question being asked in the interview that
really staggering and lingering in my mind. "What is home?" an
unexpected comment from these people who live under such poverty is
"Unity is strength, home is wherever your family are. You create your
own family, you meet brothers and sisters with people who came across
your path". From almost 60 minutes duration of the film that seems
like a poverty show, I really had a hard time catching a glimpse
impression of coldness, sadness, desperation or isolation. Instead,
qualities such as perseverance, dignity, genuineness, warmth, wisdom,
good sense of humor and togetherness filled your heart after
watching this documentary of heartfelt life in some other part of
reality, that you might consider as shit holes.

This documentary film reminds me of my interview with several Balinese friends regarding way of life in Bali during their childhood time. Those interviewees were born in the 70s. The description of Balinese way of life in the past from several journals of new world explorers, tradesmen, scholars, anthropologists collected until 1980s depicting Bali as a celestial place, paradise on earth. Very contrast to the nowadays poverty in India that I just witnessed. Compared to today's Bali situation, the life in Bali in the 70s, according to my interviewees, are filled with hardship and limitations or poor (not in the absolute
sense of poor of course), but they felt that they were more content, then. I understood that poor is not the right word to described the situation, it is more to the limitation of its era; example most people during that time walk bare foot because footwear was not in
fashion, nor available. Rather than sandals, Skin diseases caused by bacteria or fungus are more common at that time, everyone has it.

The two stories of two different world despite of it happened in completely different era, showed me a great lesson that human being can adapt to any kind of situation in life, as long as there is one thing that keep them going and that one thing might be the feeling of being "at home" that includes comforts, togetherness, unisolated feeling, unity that make a man can face all challenges of life. 

There is an impression that the progress and development in Bali has
abandoned the "ark" of content feeling that was once experienced by its
people. There is a possibility that this is merely a psychological
phenomenon, experienced by most adults, that they are longing for the
connections to their childhood time, that evoke happy feelings. When I asked the same question to those who were born, one or two decades before the 70s, most of
them agreed to one thing; that (Bali) in the past, when they were still a child, their life was way better and happier than today.

January 10, 2013

Di manakah gerangan wahai kebahagiaan?

 English version

Mahluk hidup memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, kalau ada yang pernah jalan-jalan ke TPA di Pulau Serangan, Bali, jangan heran jika melihat banyak sapi di sana. Tidak jarang TPA juga dijadikan tempat hunian bagi orang-orang yang memperoleh penghidupan di sekitarnya. Baru baru ini saya melihat filem dokumenter BBC bertajuk Welcome to India (http://www.bbc.co.uk/programmes/b01n8278) yang memaparkan kemampuan beradaptasi/hidup manusia diantara padatnya penduduk di India yang menempati peringkat ke-2 terpadat di dunia. Digambarkan di sana bagaimana  tiga keluarga dengan profesi yang berbeda-beda bertahan dengan keadaan dan mencari penghidupan dari hari ke hari. 


Salah satu cerita yg sangat menarik adalah sekelompok "penambang" lumpur yang setiap dini hari beraksi bersama rekan sejawatnya menguras gorong-gorong penuh lumpur, mara bahaya -karena di situ jugalah markas kaljengking, ular dan serangga berbahaya lainnya- sudah jelas bau yang mencekik hingga pagi menjelang untuk dijual kepada pengilang emas di pinggir sungai Gangga.Ternyata mereka adalah pendulang emas, yang mencari kemungkinan adanya butir-butir dan serbuk emas di setiap tumpukan debu di sudut-sudut kota hingga  genangan lumpur di gorong-gorong dan parit kota. Bagaimana mereka hidup dalam satu kamar sempit dengan 5-6 orang lainnya dalam satu bangunan kumuh yang terbilang sangat tidak layak untuk kebanyakan orang di belahan dunia lain yang lebih beruntung (?).

Pertanyaan paling signifikan dari filem dokumenter ini adalah "what is home"? Jawaban cukup mengejutkan didapat dari tanggapan-tanggapan masyarakat yang mampu hidup di bawah garis kemiskinan. Unity is strength, home is where your family are, you create your own family, you meet your brother and sister with people who crossed your path. Kebersamaan merupakan sumber kekuatan, rumah adalah di mana keluargamu berada, Anda menemukan saudara perempuan dan laki-laki diantara orang-orang yang kebetulan hadir bersimpangan dalam kehidupan Anda. Selama hampir 60 menit durasi filem yang memaparkan "kemiskinan" dan perjuangan hidup, saya hampir kesulitan menangkap kesan dingin, tersisihkan, sedih ataupun pasrah justru kesan tangguh, hangat, bijak, humoris dan kooperatif sangat mendominasi.

Filem dokumenter ini menggelitik saya untuk membandingkannya dengan interview yang saya lakukan terhadap beberapa teman yang berasal dari Bali mengenai kehidupan Bali ketika mereka kanak-kanak. Rata-rata yang saya wawancarai lahir di awal tahun 70-an (baca interview tentang Bali tahun 70-an). Gambaran kehidupan Bali tempo dulu dari beberapa catatan perjalanan penjelajah dunia, pedagang, santri, antropolog dan sebagainya hingga tahun 80-an terdengar sangat selestial dibandingkan dengan filem dokumenter Welcome to India. Bali mendapat julukan The Last Paradise. Kehidupan tahun 70-an, menurut teman-teman saya, agak susah (miskin -bukan dalam arti sebenarnya) dibandingkan sekarang, namun jauh lebih menyenangkan kala itu. Mungkin maksudnya bukan susah atau miskin, namun keberadaan di jaman itu segala sesuatunya harus didapat lewat kerja keras, lebih karena keterbatasan pada jamannya, seperti penduduk yang saat itu rata-rata tidak memiliki alas kaki, hiburan yang masih sangat sederhana, sarana transportasi yang masih sangat jarang, dan sebagainya.

Kembali lagi ke filem dokumenter India tadi, saya kemudian mendapat benang merah dari dua cerita dunia yang berbeda. Manusia dapat beradaptasi dengan segala situasi kehidupan selama ada satu hal yang dapat membuat mereka bertahan, yaitu perasaan nyaman, "at home", perasaan kebersamaan, tidak tersisihkan, membuat manusia dapat menghadapi segala tantangan hidup.

Ada kesan bahwa "kemajuan" yang dialami Bali telah meninggalkan rasa nyaman yang dulu sempat dirasakan masyarakatnya. Ada kemungkinan ini juga merupakan fenomena psikologis, di mana rata-rata orang dewasa memiliki kerinduan terhadap masa kanak-kanaknya yang membangkitkan perasaan bahagia terlepas dari keberadaan jaman. Ketika saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada mereka yang lahir satu-dua dekade sebelum tahun 70-an, rata-rata menanggapi dengan jawaban yang sama; "jaman dulu (waktu mereka kanak-kanak) jauh lebih enak dari jaman sekarang".

Observasi belum selesai, sehingga untuk saat ini, belum ada kesimpulan pasti mengenai penyebab "hilangnya kebahagiaan" yang dirasakan rekan-rekan yang saya wawancarai.

Kalpanax for the WORLD!



Dalam setiap masalah, terkandung solusi. Selalu ada inovator dan problem solver di setiap kurun waktu dan di setiap masyarakat, level RT, kelurahan, kecamatan, negara. Yang belum (diterapkan) adalah problem solver tingkat dunia, tingkat universe.

Menurutku rata-rata solusi instan cuma bakalan menimbulkan masalah baru, karena tidak mencapai akar permasalahan. Contoh (skala paling kecil); penemuan AC itu menurutku konyol banget, kalo penggunaannya bukan di gurun pasir. Banyak orang, tebang pohon, bikin bangunan beton, tanpa perhitungan sirkulasi udara yang mantap, trus pasang AC. Giliran TDL naek pada tereak.

Kalau mau sembuhin panu, jangan cuma digaruk, olesin Kalpanax!

Iklan layanan masyarakat ini didukung oleh:







In case you doubt that all creatures, and everything exist in this world has purpose.

Incase you wonder why God created mosquitos. Here is a lesson that I learned from Insect Museum in Chiang Mai. 







"How does the mosquito serve to benefit all live?

The little mosquitos are more of our friends than enemy. This family of insects brings many useful benefits to many living things and processes. It is important to remind you that of Thailand's 459 different species only 10 are vectors for disease.

Nature gives each species a specific design and only certain species of mosquito are physiologically design with the capability to carry and transit disease to humans and other animals. It is a simple fact that all animals of this planet carry disease in their body who will become sick or die and by what disease depend on several dynamic factors. We could consider the level of immunity within the body or the energetic strength/capability to resist or destroy the poison of the specific disease. The mosquito do transfer a minor toxin that act to generate antibodies within the body. These antibodies create immunity, enabling resistance against major diseases within animals, this process is natural vaccination; the injection from the mosquitos provides a strong to humans and all
animals protecting them from future sickness.

Nature creates and maintain everything in balance within ecological systems, everything exist with inherit value and purpose".

Bali and Scientology

I conduct an interview with several Balinese who were born in the 70s, and all of those interviewees agreed on one thing; they used to be happier.

Today, I accidentaly opened a website about Scientology.org. As many of you know, Tom Cruise has been a devotee of Scientology. The site's explanation on quality of life has all the words that I need to say regarding the source of today's Balinese feeling of 'we used to be happier'.

Scientology says:

Thanks to scientific and technical advances over the last hundred years, most people today are materially wealthier than their forefathers. Yet, by their own accounts, the improvement in the quality of their lives has not matched their material gains.

In fact, it may be argued that people once were happier and more fulfilled. For some, material affluence breeds anxiety, a gnawing fear that if someone doesn’t take away their hard-earned acquisitions, the end of their days will prematurely arrive to finish the job. Others find death easier to face than a lifetime of assembly-line slavery, while most, in a less dramatic fashion, simply buckle down to lives of quiet desperation. 

Another well said observation regarding what happening within our society delivered by Aldous Huxley, that I totally agree. 

“The real hopeless victims of mental illness are to be found among those who appear to be most normal. "Many of them are normal because they are so well adjusted to our mode of existence, because their human voice has been silenced so early in their lives, that they do not even struggle or suffer or develop symptoms as the neurotic does." They are normal not in what may be called the absolute sense of the word; they are normal only in relation to a profoundly abnormal society. Their perfect adjustment to that abnormal society is a measure of their mental sickness. These millions of abnormally normal people, living without fuss in a society to which, if they were fully human beings, they ought not to be adjusted.” ― Aldous Huxley, Brave New World Revisited -

I thought we are getting smarter, we are getting more and more distracted by unnecessary needs. I have always believe, or perhaps part of me still remember a fact, that people can fly and travel, literally, without moving, then.

January 8, 2013

Rindu Bali yang dulu


Bagi mereka yang lahir di tahun 70-an, apa yang diceritakan oleh salah seorang teman Bali saya, Made, seorang driver kelahiran 1976, hanya tinggal kenangan yang tidak akan pernah terulang bahkan gambaran-gambaran yang mirip seperti lukisan Bali tidak akan pernah dijumpai lagi saat ini.





Bli Made, bisa ceritain gak kayak apa sih kehidupan Bli Made waktu kecil dulu?

Tahun 86, saya sudah kelas 5 SD dan jaman itu kerajinan tangan sudah mulai marak, saya dulu bikin celepuk (burung hantu), setiap pulang sekolah kerja jadi pengrajin celepuk dibayar 3500 rupiah perhari, jaman itu uang saku hanya 100 rupiah, dan harga tanah 250,000 per are (10 x 10 m). Dulu kepemilikannya gak seperti sekarang, kalau ada transaksi hanya pakai surat menyurat (perjanjian) saja, tidak ada sertifikat, malahan boleh minjam lahan orang. Harga 250,000 rupiah per are itu lokasinya sudah persis di pinggir jalan dan jaman itu gak ada orang nyari tanah di lembah-lembah, pinggir sungai atau pantai seperti sekarang.

Selain celepuk, kerajinan tangan lainnya itu gajah-gajahan, gak dicat seperti sekarang, masih natural. Biasanya kalau celepuk dikirimnya ke pasar Sukowati, kalau gajah-gajahan itu dikirimnya ke pasar Kumbasari. Dulu saya paling heran dengan pasar Kumbasari. Jaman dulu, pasar-pasar di Bali masih pakai payung-payung, nah di Kumbasari ini khususnya payungnya suka miring-miring ke kanan ke kiri. Saya heran kenapa payungnya suka miring-miring ke kiri atau kanan, kenapa gak bikin kaki payung yang mantap biar gak miring-miring. Ternyata kalau diperhatikan, payung-payung itu fungsinya buat menghalangi pancaran sinar matahari. Kalau pagi payungnya miring ke timur, kalo sore payungnya miring ke barat. Darimana arah sinar matahari, disitulah payung dimiringkan, biar gak kepanasan.

Apa sih arti uang untuk orang Bali jaman dulu?

Dulu saya pernah lihat, ada tamu yg jalan-jalan ke Ceking lihat nenek-nenek dengan sokasi, kemudian sokasinya dibeli seharga 500,000. Nenek-nenek yg belum pernah lihat uang sebanyak itu sampai bingung nerima uang sebanyak itu dan mau diapain uang sebanyak itu. Petani itu sebenernya dulu gak terlalu butuh uang, karena sawah ada, lauk pauk sehari hari bisa dicari di sawah juga, ada siput, ikan-ikan kecil. Nah kalau dapat julit (sejenis belut), bisa gak nyari makanan lagi buat seminggu. Julit itu termasuk sejenis ikan yg paling besar ukurannya yg bisa ditemuin di sawah. Bisa kenyang buat seminggu. Nah sayur mayur itu bisa dipetik di sepanjang jalan. Di dekat dapur kami ada teba (kebun belakan rumah) di sana juga tumbuh macam-macam sayuran seperti pare, buah labu siam, tinggal metik lewat jendela dapur.

Kalau orang Bali jaman dulu mau cari hiburan, biasanya ke mana dan ngapain aja?

Hiburan orang-orang Bali dulu itu lumayan banyak, salah satunya jalan raya by pass. Jalan by pass ini dulu tontonan/salah satu hiburan paling populer. Kalau hari raya suka ada truk yg datang ke kampung-kampung. Ramai-ramai naik truk trus jalan-jalan ke by pass, semua mau nonton jalan by pass. Mungkin kalau jaman sekarang itu layaknya orang Jawa yang mau nonton jembatan Suramadu. Bagi orang Bali, jalan by pass yg sudah dihotmik itu dulu sesuatu yg menarik perhatian karena itu satu-satunya jalan yg paling besar di Bali dan sudah aspal, sedangkan jalan di tempat lain masih jalan tanah. Kalau hiburan tradisional orang jaman dulu sabung ayam dan tari muda mudi Janger.

Kalau hari raya Kuningan pasti ada kunjungan ke Serangan, naik kapal nyebrang ke Serangan sebelum Tommy mengurug selat Serangan jadi satu dengan Bali. Kita nyebrang ke Serangan, naik kapal, pulangnya beli buah bengkoang karena Serangan itu panas, bikin haus. Hiburannya ya beli bengkoang dan lihat gadis-gadis yang menyingkap kainnya sebatas lutut ketika mau menyebrang naik kapal, padahal kalau mandi di sungai ya sama-sama telanjang, dan bukan sesuatu yang aneh, tapi justru kalau lihat gadis pakai pakaian tradisional lengkap, disitu letak erotismenya.

Hiburannya orang Bali jaman dulu banyak sekali sebenarnya. Hiburan yang paling dirindukan itu sesuatu yang sepele tapi menyenangkan. Jaman dulu kalau pacaran, ketika ketahuan itu rasanya bikin gemeteran, terutama perempuan. Apalagi kalau dia masih kecil, kalau ketahuan pacaran, sudah nangis takutnya bukan main jantungnya berdebar, serasa sudah dinodai. Ini juga jadi hiburan karena ada perasaan dag dig dug, ya macam adrenalin rush gitu.

Trus, Kuta itu apa memang dari dulu pusat atraksi Bali, tempat orang cari hiburan?

Daerah selatan Bali itu seperti tempat pembuangan, LP itu posisinya di Kerobokan yg panas, gersang, dan Kuta itu dulunya adalah tempat pembuangan orang yang kena lepra, tempat pengasingan. Tempat orang-orang yang terbuang, tersisihkan.

Tradisi yang ada jaman dulu, yang sekarang udah ditinggalkan, apa aja?

Kuburan itu dulu bukan tempat orang nanem mayat aja. Jaman itu kalau raja punya anak buncing (kembar), itu adalah anugrah, tapi kalau rakyat biasa punya anak buncing, itu harus diasingkan di kuburan selama 1 bulan 7 hari, itu kejamnya aturan jaman dulu. Coba bayangkan punya anak bayi masih merah, harus diasingkan di kuburan.Trus yg nyusuin anaknya siapa? Ya sama orang tuanya sama-sama tinggal di kuburan.

Bayangkan dulu kuburan itu penuh dengan pohon-pohon besar dengan akar yg melingkar lingkar. Jarak antara kuburan dengan rumah penduduk itu jauh sekali jaman dulu. Kalau kuburan jaman sekarang udah kayak hotel ada banyak lampu kanan kirinya, jalanan sudah dipaving, sebrangnya ada ATM dan tempat perbelanjaan malah bisa dipakai tempat janjian orang pacaran.

Seperti apa sih Ubud jaman dulu? Apa yang paling diingat tentang Ubud masa lampau?

Di kuburan Tebesaya itu dulu ada pohon gede sekali dengan akar yg melingkar lingkar, jaman itu Tebesaya masih kampung dengan jalan tanah, bersih sekali, walaupun jalan tanah, tapi itu bersih sekali. Kalau mau masuk daerah Tebesaya itu rasanya seperti memasuki daerah yang metaksu (memiliki energi/daya magis). 

Monkey Forest itu dulunya sawah semua, jalan Monkey Forest yg sekarang itu dulunya hanya jalan setapak, jalan tanah, dengan pohon-pohon rindang di kanan kirinya, jalannya kecil. Jalan setapak yg sering dilalui sepeda itu jadi jalan tanah setapak, sisanya ya rumput. Saya paling suka kalau maen sepeda di Monkey Forest, meluncur ngebut kearah hutannya, gak usah mengayuh pedal. Di dalamnya ada pohon Beringin besar sekali dan di bawah pohon beringin itu masih tanah dan bersih sekali. Monyetnya belum sebanyak sekarang, karena jaman dulu di kampung saya masih suka makan daging monyet. Kalau sekarang gak ada orang makan daging monyet. Monyet di Monkey Forest sekarang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dulu.

Lalu jaman dulu kalau saya berburu pakai tombak. Berburu tupai pakai tombak, kalau dapat tupai, dapat upah satu kelapa. Jaman dulu semua orang yg merasa dirinya laki-laki sejati, sudah pasti bisa manjat. Kemampuan manjat pohon dibutuhkan buat cari busung (daun) kelapa untuk keperluan upacara.

Trus kalau mau jalan-jalan, ada kendaraan?

Kondisi jalan jaman dulu disebut geladak, pinggiran batasnya dari batu-batu besar, badan jalannya bongkahan batu-batu yg lebih kecil. Dan Cuma truk engkol yang bisa lewat di jalan seperti itu. Seru sekali kalau sudah naik truk engkol, badannya terguncang-guncang ke kiri ke kanan. Setelah truk engkol, mulai masuk angkutan colt. Duduknya berderet di sisi kiri dan kanan, di tengahnya biasanya dimuat macam-macam. Isinya hiruk pikuk. Penumpangnya kakek-kakek bawa ayam, nenek-nenek ngunyah sirih, ketela pohon di tengah, ternak bebek, nah kalo laki-laki (bapak2/anak muda) biasanya rebutan duduk di belakang, karena ingin nyium bau asap knalpot. Jaman dulu rasanya lain sekali, harum, bau yang lain daripada yang lain, jadi semua berebut mau nyium bau asap knalpot.

Kapan plastik masuk Ke Bali pertama kali? Dulu kalau belanja bungkusnya pakai apa?

Jaman dulu, kalau nenek-nenek beli gula pasir, plastiknya gak akan dibuang, pasti dirawat baik-baik, cara buka bungkusan gula pasir itu hati-hati sekali, Kalau dapat kaleng susu, atau kotak biscuit rasanya kayak mimpi, jaman itu langka dan berharga sekali. Sebelum plastik masuk, masih banyak yang pakai daun, itu jaman saya SMP. Orang jualan bubur pakai daun pisang. Jaman dulu gak ada orang beli jajan, karena semua nenek-nenek bikin jajanan sendiri ditaruhnya di gerede (semacam kotak kaleng kedap udara, semacam tempat kerupuk). Rasanya enak sekali, dapat sepotong aja untuk diminum bersama kopi di pagi hari rasanya luar biasa. Jajanan Bali rata-rata kering semua. Seperti kripik pisang yang diberi gula, ketan yang digulai, rata-rata keras.

Sebelum ada deterjen, orang bersih-bersih pakai apa?

Orang jaman dulu kalau cuci baju masih pakai lerak, kalau mandi pakai nyayad (lumpur/pasir halus yg ada di sungai), samponya pakai daun pucuk. Deterjen pertama kali itu waktu saya SD, mereknya super busa, belinya setengah batang, buat satu minggu.
Jaman dulu gak ada yang buang hajat di sungai karena sungai itu dipakai untuk mandi. Rata-rata orang buang hajat di teba (pekarangan belakang), ceboknya pakai daun kering, dan gak harus gali lubang dan dikubur, karena gak lama kemudian ada sejenis binatang/serangga namanya beduda yang punya tugas ngangkut/mengurai tai. Yang paling lucu, jaman sekarang ada grup metal Bali namanya Beduda. Beduda itu ya serangga pengeruk tai artinya.

Bagaimana dengan penerangan jaman dulu?

Daun jarak dipakai buat penerangan jaman dulu, kalau yg kelas menengah ke atas pakainya serongkeng (patromaks yang pakai spirtus) dan ganjreng.

Kaya apa sih anak-anak jaman dulu, mainannya apa aja?

Anak-anak kecil jaman dulu ikut maen di sawah, kalau waktunya bajak sawah anak-anak main lumpur, bercanda di sawah bersama orang tuanya. Bikin motor-motoran dari buah sentul. Kalau tidak di sawah ya rata-rata mainnya di teba (kebun belakang rumah). Orang dulu rata-rata gak punya sandal, jadi kalau lagi main di teba sering nginjek kotoran. Penyakit koreng, bisul, bisaan itu udah makanan sehari hari, udah biasa. Bisaan itu seperti ada cairan di bawah permukaan kulit, kadang kulit telapak kaki itu bolong bolong, karena kena bisaan itu.

Seperti apa sih pedagang berjualan jaman dulu?

Di  dekat restoran babi guling Ibu Oka itu dulunya pohon beringin besar sekali, nah di bawahnya banyak orang jualan, dan banyak bapak-bapak tua nongkrong dengan ayamnya. Jualannya pakai meja kecil, jual jajan Bali, jual kopi, yg gelasnya gak pernah dicuci, sampe butek, karena jaman dulu blm ada sabun.

Pelukis terkenal dari Bali namanya Ida Bagus Made dari Tebesaya, saya tau beliau, nenek saya temannya Ida Bagus Made, dia sering beli kain dari nenek saya, yang keliling kampung dagang kain dan tembakau. Jaman dulu orang gak suka belanja barang jauh-jauh, biasanya paling suka kalau dikunjungi pedagang keliling, sambil bertetangga, cerita-cerita dan berbagi mako (tembakau).

Waktu saya kecil sering diajak naik bis oleh nenek saya yang pedagang, dari Gianyar ke Klungkung pakai mobil kecil, dari Klungkung ke Candidasa pakai bis macam punyanya Perama. Nenek saya sering traveling cari barang seperti kain, emas, tembakau di Klungkung.

Kaya apa sih bedanya perayaan Galungan Kuningan dulu dan sekarang?

Jaman dulu kalau mau Galungan, satu minggu sebelumnya orang sudah mimpi makan daging. Bukan karena tidak mampu, kerena rata-rata penduduk pelihara babi. Ada penekanan dari orang tua-tua dulu untuk jangan terlalu sering makan daging, jadi pada intinya segala sesuatunya itu dibatasi. Jadi apa yang kita rasakan itu secukupnya saja dan yang sedikit itu seringkali dirindukan, tidak berlebih, tidak kekurangan.
Daging yang dimasak ketika Galungan itu ada yang disimpan namanya buntilan, disimpan/dibungkus pelepah buah pala. Tahan selama 3 bulan, ditaruh di dapur, di gantung di atas perapian dapur yang setiap saat berasap. Urutan itu kalau dulu baru boleh dimakan kalau penjor sudah diturunkan. 

Kehidupan bertentangga di Bali jaman dulu seperti apa?

Jaman dulu aktifitas paling rame itu di dapur, sedikit2 bikin kopi. Dan serunya jaman dulu, dapur itu sudah pasti ada lobang atau pintu samping yang tembus ke pekarangan tetangga yang juga langsung menuju dapur tetangga, begitu seterusnya. Kegiatan di pagi hari yang rutin jaman dulu itu berbagi/minta api, maka dari itu antar dapur dan pekarangan tetangga hampir gak ada batasnya, tembus, berbagi api lewat pintu samping atau lubang dapur. Tidak ada korek. Danyuh (daun kelapa yg sudah kering) dibawa untuk minta api dari tetangga. Siapa yg dapurnya nyala duluan itu duluan dimintain api. Kegiatan di pagi hari itu jadi sesuatu yang sangat menyenangkan karena terlihat senyum yang dimulai ddari kegiatan berbagi api dapur.

Keadaan dapur tetangga diketahui banyak orang, termasuk siapa yang masih punya buntil. Dan siapa yang punya makanan berlebih kadang-kadang di sana seringkali ditumpangi anak-anak tetangga. Sampai ada istilah besar di tetangga, sampai dewasa, pasti akan diingat siapa yang dulu sering ngasih makan.

Kecuali masalah perbedaan kasta yang cukup memprihatinkan, dari cerita-cerita Made di atas, tidak ada kesan miskin yang saya tangkap, tapi saya bisa membayangkan kehangatan dan kegembiraan yang ada pada jaman dulu. Kadang saya merasa beruntung tidak memiliki kesempatan untuk melihat Bali tempo dulu, karena saya yakin jika saya mengalami apa yang Bli Made alami, sepertinya hanya ada penyesalan dalam hati saya, mungkin juga rasa kesepian dan “jauh” dari sesuatu yang dulu sempat menghangatkan jiwa.