Translate

January 8, 2013

Rindu Bali yang dulu


Bagi mereka yang lahir di tahun 70-an, apa yang diceritakan oleh salah seorang teman Bali saya, Made, seorang driver kelahiran 1976, hanya tinggal kenangan yang tidak akan pernah terulang bahkan gambaran-gambaran yang mirip seperti lukisan Bali tidak akan pernah dijumpai lagi saat ini.





Bli Made, bisa ceritain gak kayak apa sih kehidupan Bli Made waktu kecil dulu?

Tahun 86, saya sudah kelas 5 SD dan jaman itu kerajinan tangan sudah mulai marak, saya dulu bikin celepuk (burung hantu), setiap pulang sekolah kerja jadi pengrajin celepuk dibayar 3500 rupiah perhari, jaman itu uang saku hanya 100 rupiah, dan harga tanah 250,000 per are (10 x 10 m). Dulu kepemilikannya gak seperti sekarang, kalau ada transaksi hanya pakai surat menyurat (perjanjian) saja, tidak ada sertifikat, malahan boleh minjam lahan orang. Harga 250,000 rupiah per are itu lokasinya sudah persis di pinggir jalan dan jaman itu gak ada orang nyari tanah di lembah-lembah, pinggir sungai atau pantai seperti sekarang.

Selain celepuk, kerajinan tangan lainnya itu gajah-gajahan, gak dicat seperti sekarang, masih natural. Biasanya kalau celepuk dikirimnya ke pasar Sukowati, kalau gajah-gajahan itu dikirimnya ke pasar Kumbasari. Dulu saya paling heran dengan pasar Kumbasari. Jaman dulu, pasar-pasar di Bali masih pakai payung-payung, nah di Kumbasari ini khususnya payungnya suka miring-miring ke kanan ke kiri. Saya heran kenapa payungnya suka miring-miring ke kiri atau kanan, kenapa gak bikin kaki payung yang mantap biar gak miring-miring. Ternyata kalau diperhatikan, payung-payung itu fungsinya buat menghalangi pancaran sinar matahari. Kalau pagi payungnya miring ke timur, kalo sore payungnya miring ke barat. Darimana arah sinar matahari, disitulah payung dimiringkan, biar gak kepanasan.

Apa sih arti uang untuk orang Bali jaman dulu?

Dulu saya pernah lihat, ada tamu yg jalan-jalan ke Ceking lihat nenek-nenek dengan sokasi, kemudian sokasinya dibeli seharga 500,000. Nenek-nenek yg belum pernah lihat uang sebanyak itu sampai bingung nerima uang sebanyak itu dan mau diapain uang sebanyak itu. Petani itu sebenernya dulu gak terlalu butuh uang, karena sawah ada, lauk pauk sehari hari bisa dicari di sawah juga, ada siput, ikan-ikan kecil. Nah kalau dapat julit (sejenis belut), bisa gak nyari makanan lagi buat seminggu. Julit itu termasuk sejenis ikan yg paling besar ukurannya yg bisa ditemuin di sawah. Bisa kenyang buat seminggu. Nah sayur mayur itu bisa dipetik di sepanjang jalan. Di dekat dapur kami ada teba (kebun belakan rumah) di sana juga tumbuh macam-macam sayuran seperti pare, buah labu siam, tinggal metik lewat jendela dapur.

Kalau orang Bali jaman dulu mau cari hiburan, biasanya ke mana dan ngapain aja?

Hiburan orang-orang Bali dulu itu lumayan banyak, salah satunya jalan raya by pass. Jalan by pass ini dulu tontonan/salah satu hiburan paling populer. Kalau hari raya suka ada truk yg datang ke kampung-kampung. Ramai-ramai naik truk trus jalan-jalan ke by pass, semua mau nonton jalan by pass. Mungkin kalau jaman sekarang itu layaknya orang Jawa yang mau nonton jembatan Suramadu. Bagi orang Bali, jalan by pass yg sudah dihotmik itu dulu sesuatu yg menarik perhatian karena itu satu-satunya jalan yg paling besar di Bali dan sudah aspal, sedangkan jalan di tempat lain masih jalan tanah. Kalau hiburan tradisional orang jaman dulu sabung ayam dan tari muda mudi Janger.

Kalau hari raya Kuningan pasti ada kunjungan ke Serangan, naik kapal nyebrang ke Serangan sebelum Tommy mengurug selat Serangan jadi satu dengan Bali. Kita nyebrang ke Serangan, naik kapal, pulangnya beli buah bengkoang karena Serangan itu panas, bikin haus. Hiburannya ya beli bengkoang dan lihat gadis-gadis yang menyingkap kainnya sebatas lutut ketika mau menyebrang naik kapal, padahal kalau mandi di sungai ya sama-sama telanjang, dan bukan sesuatu yang aneh, tapi justru kalau lihat gadis pakai pakaian tradisional lengkap, disitu letak erotismenya.

Hiburannya orang Bali jaman dulu banyak sekali sebenarnya. Hiburan yang paling dirindukan itu sesuatu yang sepele tapi menyenangkan. Jaman dulu kalau pacaran, ketika ketahuan itu rasanya bikin gemeteran, terutama perempuan. Apalagi kalau dia masih kecil, kalau ketahuan pacaran, sudah nangis takutnya bukan main jantungnya berdebar, serasa sudah dinodai. Ini juga jadi hiburan karena ada perasaan dag dig dug, ya macam adrenalin rush gitu.

Trus, Kuta itu apa memang dari dulu pusat atraksi Bali, tempat orang cari hiburan?

Daerah selatan Bali itu seperti tempat pembuangan, LP itu posisinya di Kerobokan yg panas, gersang, dan Kuta itu dulunya adalah tempat pembuangan orang yang kena lepra, tempat pengasingan. Tempat orang-orang yang terbuang, tersisihkan.

Tradisi yang ada jaman dulu, yang sekarang udah ditinggalkan, apa aja?

Kuburan itu dulu bukan tempat orang nanem mayat aja. Jaman itu kalau raja punya anak buncing (kembar), itu adalah anugrah, tapi kalau rakyat biasa punya anak buncing, itu harus diasingkan di kuburan selama 1 bulan 7 hari, itu kejamnya aturan jaman dulu. Coba bayangkan punya anak bayi masih merah, harus diasingkan di kuburan.Trus yg nyusuin anaknya siapa? Ya sama orang tuanya sama-sama tinggal di kuburan.

Bayangkan dulu kuburan itu penuh dengan pohon-pohon besar dengan akar yg melingkar lingkar. Jarak antara kuburan dengan rumah penduduk itu jauh sekali jaman dulu. Kalau kuburan jaman sekarang udah kayak hotel ada banyak lampu kanan kirinya, jalanan sudah dipaving, sebrangnya ada ATM dan tempat perbelanjaan malah bisa dipakai tempat janjian orang pacaran.

Seperti apa sih Ubud jaman dulu? Apa yang paling diingat tentang Ubud masa lampau?

Di kuburan Tebesaya itu dulu ada pohon gede sekali dengan akar yg melingkar lingkar, jaman itu Tebesaya masih kampung dengan jalan tanah, bersih sekali, walaupun jalan tanah, tapi itu bersih sekali. Kalau mau masuk daerah Tebesaya itu rasanya seperti memasuki daerah yang metaksu (memiliki energi/daya magis). 

Monkey Forest itu dulunya sawah semua, jalan Monkey Forest yg sekarang itu dulunya hanya jalan setapak, jalan tanah, dengan pohon-pohon rindang di kanan kirinya, jalannya kecil. Jalan setapak yg sering dilalui sepeda itu jadi jalan tanah setapak, sisanya ya rumput. Saya paling suka kalau maen sepeda di Monkey Forest, meluncur ngebut kearah hutannya, gak usah mengayuh pedal. Di dalamnya ada pohon Beringin besar sekali dan di bawah pohon beringin itu masih tanah dan bersih sekali. Monyetnya belum sebanyak sekarang, karena jaman dulu di kampung saya masih suka makan daging monyet. Kalau sekarang gak ada orang makan daging monyet. Monyet di Monkey Forest sekarang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dulu.

Lalu jaman dulu kalau saya berburu pakai tombak. Berburu tupai pakai tombak, kalau dapat tupai, dapat upah satu kelapa. Jaman dulu semua orang yg merasa dirinya laki-laki sejati, sudah pasti bisa manjat. Kemampuan manjat pohon dibutuhkan buat cari busung (daun) kelapa untuk keperluan upacara.

Trus kalau mau jalan-jalan, ada kendaraan?

Kondisi jalan jaman dulu disebut geladak, pinggiran batasnya dari batu-batu besar, badan jalannya bongkahan batu-batu yg lebih kecil. Dan Cuma truk engkol yang bisa lewat di jalan seperti itu. Seru sekali kalau sudah naik truk engkol, badannya terguncang-guncang ke kiri ke kanan. Setelah truk engkol, mulai masuk angkutan colt. Duduknya berderet di sisi kiri dan kanan, di tengahnya biasanya dimuat macam-macam. Isinya hiruk pikuk. Penumpangnya kakek-kakek bawa ayam, nenek-nenek ngunyah sirih, ketela pohon di tengah, ternak bebek, nah kalo laki-laki (bapak2/anak muda) biasanya rebutan duduk di belakang, karena ingin nyium bau asap knalpot. Jaman dulu rasanya lain sekali, harum, bau yang lain daripada yang lain, jadi semua berebut mau nyium bau asap knalpot.

Kapan plastik masuk Ke Bali pertama kali? Dulu kalau belanja bungkusnya pakai apa?

Jaman dulu, kalau nenek-nenek beli gula pasir, plastiknya gak akan dibuang, pasti dirawat baik-baik, cara buka bungkusan gula pasir itu hati-hati sekali, Kalau dapat kaleng susu, atau kotak biscuit rasanya kayak mimpi, jaman itu langka dan berharga sekali. Sebelum plastik masuk, masih banyak yang pakai daun, itu jaman saya SMP. Orang jualan bubur pakai daun pisang. Jaman dulu gak ada orang beli jajan, karena semua nenek-nenek bikin jajanan sendiri ditaruhnya di gerede (semacam kotak kaleng kedap udara, semacam tempat kerupuk). Rasanya enak sekali, dapat sepotong aja untuk diminum bersama kopi di pagi hari rasanya luar biasa. Jajanan Bali rata-rata kering semua. Seperti kripik pisang yang diberi gula, ketan yang digulai, rata-rata keras.

Sebelum ada deterjen, orang bersih-bersih pakai apa?

Orang jaman dulu kalau cuci baju masih pakai lerak, kalau mandi pakai nyayad (lumpur/pasir halus yg ada di sungai), samponya pakai daun pucuk. Deterjen pertama kali itu waktu saya SD, mereknya super busa, belinya setengah batang, buat satu minggu.
Jaman dulu gak ada yang buang hajat di sungai karena sungai itu dipakai untuk mandi. Rata-rata orang buang hajat di teba (pekarangan belakang), ceboknya pakai daun kering, dan gak harus gali lubang dan dikubur, karena gak lama kemudian ada sejenis binatang/serangga namanya beduda yang punya tugas ngangkut/mengurai tai. Yang paling lucu, jaman sekarang ada grup metal Bali namanya Beduda. Beduda itu ya serangga pengeruk tai artinya.

Bagaimana dengan penerangan jaman dulu?

Daun jarak dipakai buat penerangan jaman dulu, kalau yg kelas menengah ke atas pakainya serongkeng (patromaks yang pakai spirtus) dan ganjreng.

Kaya apa sih anak-anak jaman dulu, mainannya apa aja?

Anak-anak kecil jaman dulu ikut maen di sawah, kalau waktunya bajak sawah anak-anak main lumpur, bercanda di sawah bersama orang tuanya. Bikin motor-motoran dari buah sentul. Kalau tidak di sawah ya rata-rata mainnya di teba (kebun belakang rumah). Orang dulu rata-rata gak punya sandal, jadi kalau lagi main di teba sering nginjek kotoran. Penyakit koreng, bisul, bisaan itu udah makanan sehari hari, udah biasa. Bisaan itu seperti ada cairan di bawah permukaan kulit, kadang kulit telapak kaki itu bolong bolong, karena kena bisaan itu.

Seperti apa sih pedagang berjualan jaman dulu?

Di  dekat restoran babi guling Ibu Oka itu dulunya pohon beringin besar sekali, nah di bawahnya banyak orang jualan, dan banyak bapak-bapak tua nongkrong dengan ayamnya. Jualannya pakai meja kecil, jual jajan Bali, jual kopi, yg gelasnya gak pernah dicuci, sampe butek, karena jaman dulu blm ada sabun.

Pelukis terkenal dari Bali namanya Ida Bagus Made dari Tebesaya, saya tau beliau, nenek saya temannya Ida Bagus Made, dia sering beli kain dari nenek saya, yang keliling kampung dagang kain dan tembakau. Jaman dulu orang gak suka belanja barang jauh-jauh, biasanya paling suka kalau dikunjungi pedagang keliling, sambil bertetangga, cerita-cerita dan berbagi mako (tembakau).

Waktu saya kecil sering diajak naik bis oleh nenek saya yang pedagang, dari Gianyar ke Klungkung pakai mobil kecil, dari Klungkung ke Candidasa pakai bis macam punyanya Perama. Nenek saya sering traveling cari barang seperti kain, emas, tembakau di Klungkung.

Kaya apa sih bedanya perayaan Galungan Kuningan dulu dan sekarang?

Jaman dulu kalau mau Galungan, satu minggu sebelumnya orang sudah mimpi makan daging. Bukan karena tidak mampu, kerena rata-rata penduduk pelihara babi. Ada penekanan dari orang tua-tua dulu untuk jangan terlalu sering makan daging, jadi pada intinya segala sesuatunya itu dibatasi. Jadi apa yang kita rasakan itu secukupnya saja dan yang sedikit itu seringkali dirindukan, tidak berlebih, tidak kekurangan.
Daging yang dimasak ketika Galungan itu ada yang disimpan namanya buntilan, disimpan/dibungkus pelepah buah pala. Tahan selama 3 bulan, ditaruh di dapur, di gantung di atas perapian dapur yang setiap saat berasap. Urutan itu kalau dulu baru boleh dimakan kalau penjor sudah diturunkan. 

Kehidupan bertentangga di Bali jaman dulu seperti apa?

Jaman dulu aktifitas paling rame itu di dapur, sedikit2 bikin kopi. Dan serunya jaman dulu, dapur itu sudah pasti ada lobang atau pintu samping yang tembus ke pekarangan tetangga yang juga langsung menuju dapur tetangga, begitu seterusnya. Kegiatan di pagi hari yang rutin jaman dulu itu berbagi/minta api, maka dari itu antar dapur dan pekarangan tetangga hampir gak ada batasnya, tembus, berbagi api lewat pintu samping atau lubang dapur. Tidak ada korek. Danyuh (daun kelapa yg sudah kering) dibawa untuk minta api dari tetangga. Siapa yg dapurnya nyala duluan itu duluan dimintain api. Kegiatan di pagi hari itu jadi sesuatu yang sangat menyenangkan karena terlihat senyum yang dimulai ddari kegiatan berbagi api dapur.

Keadaan dapur tetangga diketahui banyak orang, termasuk siapa yang masih punya buntil. Dan siapa yang punya makanan berlebih kadang-kadang di sana seringkali ditumpangi anak-anak tetangga. Sampai ada istilah besar di tetangga, sampai dewasa, pasti akan diingat siapa yang dulu sering ngasih makan.

Kecuali masalah perbedaan kasta yang cukup memprihatinkan, dari cerita-cerita Made di atas, tidak ada kesan miskin yang saya tangkap, tapi saya bisa membayangkan kehangatan dan kegembiraan yang ada pada jaman dulu. Kadang saya merasa beruntung tidak memiliki kesempatan untuk melihat Bali tempo dulu, karena saya yakin jika saya mengalami apa yang Bli Made alami, sepertinya hanya ada penyesalan dalam hati saya, mungkin juga rasa kesepian dan “jauh” dari sesuatu yang dulu sempat menghangatkan jiwa.

2 comments:

  1. Bagus sekali artikelnya.
    Dulu yang saya ingat juga setiap datang dari sekolah selalu minta nasi sela dan pepes klengis sama Niang. Karena Ibu jualan buah di pasar, jadi ga punya nasi dirumah. Niang selalu saja bisa buatkan makanan enak, meskipun dari umbi, sambal kukus, nasi sela itu sudah lebih dari cukup.Enak sekali rasanya. Itu yang paling ngangenin.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih : ) senang bisa berbagi cerita, mungkin bisa berbagi cerita tentang Bali dari sudut pandangmu/pengalaman masa kecilmu?

    ReplyDelete