Translate

October 6, 2013

Bila benih tanaman punah, begitupula manusia.


Makan sayurpun belum tentu lebih sehat. Benih transgenik, pupuk kimia dan pestisida sudah merupakan satu paket jika hasilnya ingin "maksimal". Konsumen hanya bisa memilih apa yg tersedia di pasaran, seolah tidak memiliki posisi tawar yang kuat untuk menuntut produsen makanan lebih bertanggung jawab, padahal ini menyangkut jangka waktu dan kualitas hidupnya sendiri dan hak prerogatif untuk berbelanjapun sebenarnya dipegang oleh konsumen. Selain hal itu disebabkan karena rata-rata manusia jaman sekarang rupanya semakin menurun tingkat kecerdasannya (terlepas dari jenjang pendidikan dan status sosial- jangan sungkan untuk mengakui hal ini) kemampuan kita untuk bercocok tanam atau keterikatan kita dengan tanah (sebagai sumber makanan) semakin lekang oleh peradaban baru yang lebih digandrungi. Semakin lepas ikatan dengan identitas awal sebagai masyarakat agraris semakin berasa berarti hidupnya, mungkin. Sepertinya ini memang sudah pola manusia, ketika masa bercocok tanam menggantikan masa mengumpulkan makanan dan masa perundagian meninggalkan masa bercocok tanam. Trend baru cenderung selalu lebih digandrungi. Namun selama manusia masih punya perut, bercocok tanam masih harus merupakan prioritas yang tidak boleh ditinggalkan secanggih apapun peradaban manusia kelak. 

Jika melihat arus peradaban saat ini, ada hal yang sangat mengerikan untuk dibayangkan. Kerusakan lingkungan hidup terjadi di mana mana dan mengakibatkan kualitas tanah dan air yang menurun drastis yang disebabkan karena praktek industri eksploitatif yang merusak lingkungan seperti pertambangan (sebagai tulang punggung industri teknologi tinggi), bahkan pertanian moderen dan perikanan skala besar juga turut memberikan kontribusi pada kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekosistem. 

Lokasi tambang migas dan batubara yang terdata oleh BP Migas,
ini hanya sebagian kecil dari lokasi eksploitasi SDA,
belum lagi pertambangan mineral lainnya yang dalam
prosesnya menimbulkan kerusakan ekologi parah.


Sudah jelas berbahaya masih saja diterapkan oleh banyak petani.
Sifat eksploitatif tidak hanya milik korporasi, 
bahkan petani dan nelayan pun
masih banyak yang melakukan perusakan 
(bahan makanan, tanah, air dan udara).


Lubang tambang emas Freeport, air, tanah dan udara tercemar
kerena proses pertambangan yang menggunakan
zat kimia berbahaya.

Tuntutan pemenuhan "kebutuhan" manusia yang semakin meningkat populasinya (karena tidak ada predator alami bagi manusia - sedikit intermezo, dalam dunia binatang, biasanya binatang paling beracun bersifat kanibal, maka masuk akal bila manusia paling "beracun" memiliki sifat "kanibal"- dih nyinyir banget ya) menyebabkan teknologi turut berperan dalam peningkatan produksi pangan, bibit transgenik adalah salah satu produk teknologi tinggi sebagai solusi instan untuk menjawab persoalan perut dan meningkatkan produktifitas hasil tanam. Dulu sekali, sebelum ditemukannya behih transgenik, benih tanaman bahkan dapat berumur ribuan tahun. Pada saat Piramida dibangun, berdampingan dengan mumi sang raja, ternyata banyak pundi-pundi disekitarnya yang menyimpan banyak benih, ketika ditemukan ribuan tahun kemudian benih tersebut masih bisa ditanam. Saat ini umur benih (terutama transgenik) semakin pendek, hanya berkisar mingguan hingga maksimal satu-dua tahun. Apakah ini yang disebut dengan kemajuan? Yakinkah manusia semakin pintar? Semakin komersil sepertinya semakin pendek umurnya.



Bawang Probo, umur bibit umbi hanya 1 bulan.



Bibit tomat. 
Benih tomat dalam bentuk biji, hanya berumur maksimal 6 bulan


Kiri ke kanan: benih Okra, kacang hitam, labu.
Benih okra maksimal tahan 2 tahun,
 Benih labu ini kemungkinan besar 
adalah benih transgenik yang juga
berumur pendek.


Padi 64, dalam waktu tiga bulan harus sudah ditanam.
Sepertinya umur manusia pun begitu, memang secara fisik terlihat lebih "kekinian" namun jangka waktu hidupnya saya tebak tidak akan selama generasi sebelumnya. Karena apa yang kita makan sangat mempengaruhi kita.



sumber foto: http://ceritasukakoe.wordpress.com/2013/05/11/situs-donlot-musik-korea/

Jika memang umur manusia semakin pendek maka sebenarnya kita tidak perlu khawatir akan kekurangan makanan, apalagi ditambah dengan "anugrah" bencana alam, peperangan, kecelakaan lalulintas, tingkat bunuh diri yang tinggi akibat tekanan hidup yang semakin bertambah dan "anugrah" sejenisnya akan menjamin ketersediaan pangan yang cukup bagi yang "beruntung" hidup agak lama.

Tidak bisa dibayangkan betapa mengerikannya jika ada penelitian yang menyebutkan bahwa semakin tinggi teknologi maka harapan hidup manusia semakin panjang. Dengan semakin menurunnya kualitas tanah, air dan udara serta umur benih yang semakin pendek diperparah dengan semakin sempitnya lahan berkualitas untuk bercocok tanam karena alih fungsi lahan dan semacamnya, silahkan hitung sendiri kemungkinan akan kelaparan yang akan menjadi trending topik masa depan, atau bahkan perang berebut makanan dan penggunaan kekerasan yang melibatkan kekuatan koersif untuk pengamanan lumbung-lumbung pangan sehubungan dengan tingkat populasi dunia yang semakin bertambah. 


Populasi dunia pada tahun 2025 diprediksikan akan mencapai 8,1 miliar. (http://www.pakistannewsday.com/world-population-to-hit-8-1-billion-in-2025-un/)



Sebaiknya kita mulai mencetak kalimat dibawah ini sebagai bumper stiker atau spanduk untuk selalu mengingatkan kita agar terhindar dari skenario kelaparan sedunia. 

"Sudahkan Anda bercocok tanam ?"
(bukan gardening tapi farming)

Benih merupakan aset paling likuid dan merupakan world currency di masa yang akan datang (semoga kita sudah "menyatu dengan alam" ketika ini terjadi). Jika benih bahan pangan punah, begitupula dengan manusia. Jika ingin bertani, bertanilah sesuai dengan etika dan ikut serta dalam menjaga kualitas tanah dan air (pertanian organik/alami). Mulailah mengkoleksi benih pusaka atau heirloom seeds (benih yang secara genetik masih murni, non-transgenik) mulai saat ini, hal ini akan menjadi tantangan berat karena benih pusaka hampir punah, dan sayangnya fenomena ini dianggap hal yang "biasa" bahkan bukan merupakan bagian dari krisis hidup. 

No comments:

Post a Comment