Translate

October 25, 2014

Diskotek, Pineal Gland dan Bunuh Diri Masal



DA : Di Banjarmasin itu ada diskotik besar sekali, mirip kayak Stadium di Jakarta. Aku heran banget kenapa diskotik itu harus sebegitu gelapnya, maksudku bukan masalah lightingnya, tapi apa ya, rasanya tempat itu gelap sekali.

A : Haha, what do you expect, segerombolan orang dengan niat tertentu, yang waktu itu mungkin auranya lagi gelap, energinya lagi negatif, berbondong bondong datang ke satu tempat yang jadi wadah niatnya itu. Pasti gelap lah semua jadinya, gak cuma lampunya aja yang remang-remang. Hehe

DA: Hehe, di dalam asapnya (rokok) gila sekali, aku keluar karena gak tahan, lucunya, keluar dari diskotik juga ketemu asap dari kebakaran hutan. Itu gila itu haha. 

A: Kalau orang Yahudi dipaksa Nazi masuk ke gas chamber, ini orang di sana (yang masuk diskotik di Banjarmasin) dengan suka rela bunuh diri masuk ke “gas chamber”, haha. Baguslah, buat mengurangi jumlah populasi penduduk juga.

A: Ngomong-ngomong populasi penduduk, aku pernah baca artikel tentang perilaku komponen ekosistem di hutan belantara. Semut itu jenisnya banyak banget, dan kalau ada satu jenis semut tertentu yang jumlah populasinya terlalu banyak, akan ada sejenis jamur yang menyerang koloni semut jenis tertentu itu. Bayangkan, satu jenis jamur, untuk satu jenis semut tertentu. Jadi ada sejenis jamur yang beregenerasi dengan cara nebeng di bagian kepala semut itu sampai jamur itu tumbuh menembus tengkorak kepala semut, dan mengendalikan perilaku semut itu. Jamur itu bikin semut “dengan sukarela” melakukan tindakan bunuh diri dengan naik ke atas pucuk pohon dan kemudian terjun bebas sampai mati. Haha, keren ya. Jamur “doang” gitu, mampu mengendalikan perilaku spesies lain.

DA: Iya bener itu, aku juga nonton di YouTube tentang semut bunuh diri,  penelitian yang mirip, jadi semutnya selalu naik ke atas menuju matahari terbenam, trus terjun bebas, dan jamur itu tumbuh di atas jasad semut yang mati. Itu keren banget filemnya.

A: Menurut kamu apa orang yang ke diskotik di Banjarmasin itu kena jamur atau virus apa gitu ya? Jadi perilakunya kelihatan seperti mau bunuh diri secara sukarela gitu? Kalau begitu kenyataanya, itu bisa masuk akal. Kalau dunia ini punya kemampuan menyeimbangkan diri, pasti ada cara-cara yang cuma alam semesta aja yang tau, ketika ada fenomena overpopulasi spesies tertentu. Kecerdasan manusia itu semakin menurun, tapi jumlahnya banyak sekali, mungkin kita ini sudah seperti hama saja. Pasti ada sejenis jamur atau virus atau bakteri yang bekerja untuk mengurangi jumlah populasi manusia ya.

DA: Iya, kayaknya gitu. Secara hipotesa, kalau virus HIV-AIDS, kanker dan sebagainya itu tidak dibuat oleh pihak tertentu, mungkin itu muncul secara alamiah untuk mengurangi jumlah populasi.

A: Masuk akal, aku pikir juga begitu, alam sedang bekerja dengan caranya sendiri. Atau siapa tau generasi selanjutnya akan terlahir dengan organ reproduksi yang gak berfungsi. Trus kayaknya fenomena homoseksual juga muncul karena upaya alam menyeimbangkan diri. Bisa jadi gak sih sebenarnya kita sedang bunuh diri dengan kebiasaan kita buka Facebook, dikit-dikit ngeGoogle, haha.

DA: Aku juga, I can get crazy with Google, aku biasa nyari inspirasi dan baca baca artikel atau tulisan di sana. That’s cool ya.

A: Hm, actually…that’s kind of creepy, kita jadi sangat bergantung sama Google. Duh, jangan-jangan nanti hubungan antara anak-orang tua juga kena imbasnya. Pertanyaan anak seperti “Mom, what is God?”, trus emaknya jawab “Well, I am not sure honey”, “Ok, I’ll Google it”, kata anaknya. Atau “Mom, how’s your feeling today?” trus emaknya jawab “Well, I am not sure honey”, anaknya bilang “Ok, I’ll google it”.

Facebook dan Google  itu juga kan kecanduan jenis baru. Kita nanti akan berevolusi jadi spesies yang macam apa ya, setelah era Facebook dan Google? Mungkin kita nanti cuma tinggal kepala aja, karena bagian tubuh lainnya gak dibutuhin lagi, kita bisa komunikasi cukup lewat pikiran. Eh, tunggu, itu kalau kita makin cerdas, mungkin kita akan seperti itu. Nanti komunikasi gak perlu lagi pakai gadget atau alat bantu apapun. Seperti dalam filem “Lucy”, kalau penggunaan kapasitas otak kita sudah 100%, we will be everywhere and nowhere, haha. Aku pikir kecanduan itu pasti ada hubungannya dengan seleksi alam juga.

 Aku pernah baca artikel yang bilang bahwa kecenderungan addiction itu ada hubungannya dengan genetika. Bagi orang tertentu, gampang sekali jatuh kecanduan sama sesuatu, alkohol, drugs, rokok atau apalah, sambel terasi juga bisa. Aku ngerasa gak ada ketertarikan sama drugs, gak ada rasa penasaran sama sekali, minum alkoholpun gak begitu suka, ngerokok pun kalau harus berhenti gak pernah ngerasa berat. Tapi mungkin aku punya kecanduan yang lain, apa ya….hm apa ya…kayaknya gak ada, biasa aja ama semua hal. Katanya, secara psikologis,  orang yang gampang kecanduan sesuatu memang mentalnya rata-rata lemah. 

DA: Aku juga kayaknya gak pernah kecanduan sesuatu, hm..apa ya kecanduanku? Dulu aku ngerokok tapi kalaupun harus berenti beberapa bulan atau minggu, ya rasanya biasa aja. Eh iya, aku kemarin kemarin tiap kali bangun pagi, udah langsung duduk depan komputer, dan belum gosok gigi pula, haha gila ya! Sekarang gak lagi, gak mau gitu lagi ah.

A: Ya coba break the patern, kamu kan orang kreatif, untuk mengalihkan perhatian dari gadget, coba aja beli kayu, alat pahat, atau beli bola bekel! Tapi aku juga gitu sih, hal pertama yang aku lakukan setelah bangun pagi ya ngecek hape. Gila memang, hehe…

DA: Ngomong-ngomong tentang addiction, aku kayaknya kecanduan informasi, karena aku pernah bangun jam 3 pagi, trus gak bisa tidur dan akhirnya buka Google, aku nemu semacam jurnal ilmiah, lumayan banyak juga halamannya. Kamu tau pineal gland?

A: Pernah denger, tapi lupa definisnya apa. 

DA: Itu bagian otak kita juga. Kamu pernah tau kan ikan di laut dalam yang di kepalanya ada lampunya itu? Dia “mancing” makanan dengan lampu itu, sebenernya itu pineal gland. Kalau ikan ikan yang lain, pineal glandnya tertanam di dalam kepala, tapi ikan ini pineal glandnya tumbuh sampai keluar dari kepalanya. Fungsi Pineal Gland itu untuk menentukan orientasi gerak juga, karena dia terasosiasi sama rasi bintang, matahari, bulan, atas, bawah.  Rata-rata ikan punya sesuatu di bagian tengah matanya yang terkoneksi sama pineal glandnya. Kura-kura juga berenang sejauh 14.000km dengan menggunakan pineal gland sebagai kompas. Para penyelam laut dalam sudah pasti bawa kompas karena kadang gak ngerti orientasi, mana arah ke permukaan mana bawah, akibatnya bahaya, maunya naik ke permukaan malah bisa bisa menyelam tambah dalam. 

A: Wow keren amat, trus sekarang fungsi pineal gland kita gimana menurutmu? Apa menurun kemampuannya atau gimana? Kok kedengannra kayak mata ketiga ya?

DA: Iiya memang agak mirip mata ketiga kedengerannya, makanya para hippies suka dengan simbol mata ketiga yang letaknya di tengah tengah jidat itu. Di Mesir ada simbol mata di dalam lingkaran yang sebenernya bentuknya mirip dengan pineal gland. Menurut penelitian, pineal gland itu bisa berkurang fungsinya, seperti buram gitu. Itu karena pola makan minum kita yang gak bagus, pineal gland bisa diselimuti sama tumpukan kapur. Dan fungsi pineal gland bisa diperbaiki dengan mengubah kembali pola makan kita dan dengan mencoba melakukan aktifitas yang kita senangi waktu kecil, dan melatih lagi imajinasi kita.Tapi pas udah hampir selesai baca jurnal ilmiah tentang pineal gland itu, di bagian akhirnya ada semacam iklan obatan-obatan yang bisa “membersihkan” pineal gland gitu dan jadi pineal gland bisa berfungsi kembali, haha. Aku jadi ya…gimana ya rasanya setelah baca panjang lebar penjelasan ilmiah itu, ending nya ternyata jualan obat.

A: Hahhaaa…iya aku tau rasanya, itu mirip filem bagus tapi somehow di tengah proses bikin filem tiba-tiba sutradaranya mati atau script writernya gak lunas dibayar jadi harus diganti dengan sutradara ecek ecek, atau script writer abal-abal. Gak klimaks gitu. Haha...

DA: Hahha, iya mirip gitu deh.

Seperti ada kombinasi antara konspirasi manusia yang disengaja dan konspirasi alam semesta untuk mengurangi jumlah populasi manusia. Biar cepet, orang seperti Rockefeller menciptakan sebagian virus, bakteri, bahkan makanan GMO yang dapat mempercepat proses tercapainya jumlah populasi penduduk dunia yang ideal, 3 milliar saja, yang sesuai dengan daya tampung bumi,  dengan kondisi yang demikian, semua orang akan hidup sejahtera. Tidak, kami sedang tidak kena jamur yang bikin high, dan ini adalah renungan, bahwa baik buruk seolah tidak kentara batasannya.

No comments:

Post a Comment