Translate

June 26, 2013

"Datuk Maringgih": Merdeka atoe "gila"!

"Datuk Maringgih"

Saya panggil dia Datuk Maringgih cuma karena dia doyan banget cewek cantik tapi gak pernah dapet, sekalinya dapet langsung diajak kawin sama ceweknya dan akhirnya dikawinin juga tu cewek cakep dengan alasan kasian ama tu cewek karena dia sudah menyerahkan kegadisannya dan setelah menikah keduanya sepakat untuk hidup terpisah, setelah punya anak. Silahkan mengerutkan kening.

Orang ini paling sering bikin jengkel karena pembicaraannya jarang bisa saya mengerti, itu dulu, ternyata emang karena "ilmu" saya belum nyampe. Waktu itu saya pikir orang ini super sotoy aja karena pendidikannya gak tinggi dan gak doyan baca, tapi rajin nonton sinetron, karena suka liat cewek cantik di TV.

Semakin hari saya semakin dalam mengenalnya dan sering di propose untuk menikahinya. Sinting ni orang. Pernah satu kali dia ngajak saya nikah di warung pecel lele, makannya nambah dua kali, selesai makan dia nanya, kamu punya uang gak, bayarin dong. Helooo abis propose trus minta dibayarin makan pecel lele. Tidakkk saya tidak marah, saya dan seluruh pengunjung lapak pecel lele tertawa terbahak, saya keluarkan lembaran uang untuk bayar sambil tetap terpingkal pingkal. Di lain waktu kami bertemu lagi janjian di warung padang di atas jam 12 malam. Memang kami suka begadang, cari rokok, masuk ke minimart jalan-jalan mengelilingi rak-rak seolah akan memborong seisi minimart, tanpa alas kaki. Di warung itu kebetulan sedang penuh pembeli, meja kami bersebelahan dengan dua pasangan yang saling diam, terlihat kaku karena sepertinya double date itu baru kenal.

Pelayan warung padang setengah "berteriak" pada kami "pake apa aja mas, mbak, minumnya apa?" sambil melirik penuh tanda tanya pada kami berdua karena sepertinya mereka betul-betul tidak percaya kalau kami sepasang kekasih, memang bukann...Tidak lama kemudian dia memperkenalkan diri saya kepada pemilik warung padang, "kenalin, ini istri saya". Kamprett!

Lagi-lagi seisi warung hanya tertawa terpingkal pingkal. Kelakuan isengnya tidak berhenti di situ, dia mulai menggoda dua wanita di meja sebelah. Mampuss! saya pikir, ni anak bakal dijotosin sama dua cowok kekar pasangan dua wanita itu. Ternyata saya salah dugaan, kedua cowok itu terlihat super santai dan tetap melanjutkan makan dengan tenang, lebih karena mungkin mereka pikir "orang kayak gitu" butuh hiburan, kasih aja lahh...(dan melirik agak kasihan ama cewek di sebelah "orang kayak gitu", me) Melihat dirinya aman dari kemungkinan dijotos, dia mulai melancarkan rayuan garingnya pada kedua wanita yg terlihat kikuk dan mulai memainkan hapenya, "mbak...mbak...bagi dong no hapenya..." Tidak dijawab...dan keduanya mulai mengambil krupuk sebagai pengalih perhatian. "Mbak...mbak...boleh minta kerupuknya gak buat kenang-kenangan" Tepok jidat!! Yang begini kalo gak dibawa santai bisa bikin stress, dan kurang layak tayang kalo dibawa ke mall-mall.

Motornya sangat unik, kalau gak dicat warna warni pakai cat tembok, ya dipretelin body nya hingga mirip rongsokan, dulu dia punya mobil, hm...gak mirip mobil, tapi ya rodanya empat, atapnya diganti gedek bambu yang dihias bulu-bulu ayam. Jangan salah, beberapa tahun kemudian ini jadi trend, di "Workshop city". Saya paling suka jalan-jalan sore dengan kendaraan roda empatnya, polisi sudah give up, dan menjelang malam pulang jalan-jalan seringkali dikejar anjing, gile anjing aja merasa terganggu liat kendaraan yang begini.

Kami sering makan bersama, dia penyuka makanan Jepang, gaya ya. Emang...Satu-satunya orang nyeleneh yang jarang pusing mikirin duit. Kalau kenyang, hasil karyanya bisa diminta gratis, atau ditukar saja dengan teh botol, dan bukan main bagus karya-karyanya. Orisnil, dan paling sering ditiru...tapi ya nyantai aja...Inspirasi itu gratis kok katanya, lagian sekolahnya juga gak tinggi tinggi amat. Dia senang kalau ada yang meniru karyanya dan sukses mendulang rupiah.

Bro!! Makan malam yuk, di Ryoshi! "aku gak ada uang!" katanya. Alahh...nyante ajaaa..."yukk!!, 15 menit ya, aku olah raga dulu". Sesampainya di Ryoshi, saya pesan banyak makanan. Kamu mau makan apa? "Hm...apa ya?" Tiba-tiba dia teriak lantang sekali memanggil manajer Ryoshi "Bro!! Sini! makanan apa yang paling murah di sini?" Sang manajer (orang Jepang), anehnya, mau-maunya menghampiri meja kami, "yang paling murah?? Nasi putih" katanya. "Ya!! Nasi putih dua!!" Teriaknya lantang, padahal sang menajer jaraknya tidak jauh dari meja kami. Saya cuma bisa melongo ketika dia betul-betul hanya makan dua mangkok nasi putih saja, tidak pesan minum, dan di akhir makan malam, dia membayar sendiri makanannya, dua mangkok nasi putih.

Adalah andalan saya ketika "jatuh" terpuruk, baik itu karena patah hati atau ketika sedang bokek parah. Satu kali pernah membantu saya menangani kasus patah hati terparah, dan dengan setia menemani saya meracau, memaki, menangis, dan pada waktunya, dia akan meninggalkan saya, bukan...bukan ketika saya sudah bangkit dari keterpurukan, namun ketika saya sedang kecanduan kehadirannya yang agak menentramkan hati. Saat itu ia tidak akan datang, bahkan tidak membalas panggilan. Sampai suatu saat dia bicara "kamu itu perlu sendiri, harus mampu bangkit sendiri, karena tidak ada orang lain yang mampu berbuat apa selain dirimu sendiri, jadi kamu harus kuat, aku gak akan ada terus untuk kamu".

Dia tau kapan saat yang tepat untuk banyak hal. Teman yang cukup fenomenal, mampu merevolusi banyak kesalah kaprahan dalam diri saya. Dia adalah salah satu "buku" favorit saya sepanjang masa. Orang paling merdeka yang pernah saya temui, kalau tidak "gila", dan dia paling senang dicap orang gila, karena label itu sangat memerdekakan dirinya.

No comments:

Post a Comment