Translate

July 9, 2016

Apa itu cinta?

Kalau senang bunga, jangan petik bunga, kalau senang binatang, jangan kurung binatang. Kalau merasa suka sesuatu lalu kemudian ingin memiliki, itu hanya sekedar suka, tapi bukan cinta. Cinta itu membiarkan segala sesuatunya seperti apa adanya, tidak berupaya memikiki, mengintervensi hidup, membatasi ruang gerak. Jadi kalau cinta tapi saling membatasi ruang gerak dan merasa memiliki, bukan cinta namanya. Itu kompromi, konsensus, asal njeplak bilang cinta. Cinta yg sebenarnya bikin gak enak kebanyakan orang karena tidak boleh ada kata memiliki, karena jiwa dan perasaan tidak bisa dimiliki. Konsep memiliki itu datang dari perusahaan property. Sertifikat Hak Milik 😂😂😂

Buda mencintai kehidupan, mencintai semua ummat manusia, semua ciptaan Tuhan. Ia menemukan jalan Tuhan dengan meninggalkan keluarganya. Ia menemukan cinta yang hakiki. Bukan cinta buatan. 

Nabi Muhammad mencintai semua ummat manusia, mencintai semua ciptaan Tuhan. Ia menikahi banyak wanita, untuk meningkatkan derajatnya. 

Yesus Kristus mencintai semua ummat manusia, mencintai semua ciptaan Tuhan, bahkan mencintai orang yang menganiayanya, ia belum menikah hingga akhir hidupnya, namun memiliki rasa simpati terhadap Maria Magdalena. 

Kenapa kita senang memperkosa istilah cinta, untuk kepentingan kita sendiri? Belum sampai pada pengalaman sekarat, hampir mati, tua, teraniaya, papa, fakir, kaya raya, diagungkan ummat manusia, dan lain lain yang luar biasa, sudah gagah berani berkata cinta. Anak ingusan belum ada "seumur jagung", kalau belum bongkok punggungmu, berarti pengalaman hidupmu belum cukup untuk paham definisi cinta, bahkan hingga akhir hayatpun belum tentu akan paham apa itu cinta. Kata kata itu sangat terbatas dan membatasi kerumitan pengalaman rasa dan emosi, jangan terjebak dengan kata kata puitis pujangga ingusan yang sedang birahi. 

Hampir mirip dengan definisi Tuhan, kita pikir kita paham, namun ia adalah zat yang tak tersentuh pikiran (dalam bahasa sankserta ada istilah Acintya, yang artinya tak tersentuh pikiran). Bagaimana kita bertikai dengan sesama manusia dalam memuja Tuhan yang tak tersentuh pikiran dan menggunakan logika kita yang dangkal untuk menghukum manusia lain yang berbeda dengan kita? 

Jika kita menggunakan Tuhan untuk menghukum manusia lain, kita menggunakan kata cinta untuk mengekang manusia/mahluk lain. Maka semakin menjauhlah keduanya dari kita. 

No comments:

Post a Comment