Translate

January 8, 2014

Tuan semua manusia adalah manusia itu sendiri

Mengapa isu isu lingkungan hidup dan isu isu global sepertinya kurang bisa diserap masyarakat kebanyakan? Saya seringkali paling senang menyalahkan media yang "kurang mampu" menyajikan informasi dalam bahasa yang mudah dipahami orang awam mengenai isu-isu genting.

Saat ini saya coba untuk memposisikan diri sebagai orang yang  betul betul awam tentang isu lingkungan hidup dan is- isu global, seperti perubahan iklim dan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization). Dua hal ini adalah istilah yang jarang diperbincangkan orang kebanyakan karena hubungannya dengan garam dapur, harga BBM dan puting beliung tahun kemarin sangat tidak kentara. 

Jika saya, sebagai orang yang betul betul awam, dipaparkan informasi tentang perubahan iklim seperti ini:

Perubahan Iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata, contohnya jumlah peristiwa cuaca ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Perubahan iklim dapat terjadi di seluruh wilayah bumi. (Wikipedia)

Kemungkinan besar reaksi saya adalah bingung dengan rangkaian kata-kata rumit tadi, mendapat gambaran dari penjelasan istilahnya pun tidak. Lalu apa hubungannya dengan manusia? Bukankah ini merupakan skenario Tuhan yang harus saya terima? Butuh waktu bagi orang awam untuk memahami fenomena alam dan kaitannya dengan kegiatan manusia sehari hari, terutama bagi yang belum sempat mengalami dampak perubahan iklim yang dianggap “tidak terlalu ekstrem” seperti  banjir di Bundaran HI di Jakarta. Berapa banyakkah orang yang paham tentang penyebab banjir di Jakarta?  Berapa banyak yang menganggap banjir disebabkan oleh datangnya musim penghujan dan adalah hal wajar yang nanti akan surut dengan sendirinya, atau karena itu sudah bagian dari tinggal di Jakarta, dari dulu juga kan sering banjir?

Belum lagi jika harus mengkaitkan Organisasi Perdagangan Dunia dengan perubahan iklim. Apa sih hubungan anara keduanya? Apa sih hubungannya dengan hidup saya, harga bawang di pasar, pekerjaan saya, kebiasaan saya? Jauh sekali rasanya keterkaitannya, bahkan mungkin banyak yang tidak merasa bahwa rata-rata dari kita adalah bagian dari dan pencetus krisis apapun yang ada saat ini. 

“Sinting banget itu ya menebang pohon di Kalimantan, menganiaya masyarakat sana, membunuh orang utan, keji sekali”, kata seorang penjual dan penggemar makanan ringan instan yang sumber bahan bakunya berasal dari wilayah konflik yang disebutkan, dan saya hanya terpana karena mengalami keterbatasan waktu dan kata-kata untuk menguraikan satu persatu kaitan antara dirinya dan kekerasan yang terjadi. Jika saya berikan tautan informasi yang marak di dunia maya pun, kemungkinan besar tanggapan yang akan saya dapatkan hanya tatapan kebingungan, karena banyak istilah-istilah rumit, atau diam dan tetap menjual dan melanjutkan mengkonsumsi makanan kesukaannya karena pada dasarnya ia sudah sangat siap untuk bersikap tidak peduli. Dan masih banyak juga yang sudah mulai paham, sedang belajar dalam gerakan lingkungan hidup, aktif terlibat dalam gerakan lingkungan hidup atau isu isu sosial, tidak memiliki pemahaman yang mendalam seperti yang saya harapkan, atau memang niatnya hanya ikut-ikutan.

Fenomena ini lebih sering ditemukan diantara masyarakat "berpendidikan" di daerah perkotaan, lain halnya jika saya berbincang bincang dengan masyarakat di kampung yang masih jauh dari "peradaban", saya hampir tak perlu menjelaskan lagi, bahkan saya banyak belajar dari mereka, karena mereka yang hidup sederhana, hanya mengambil secukupnya dari alam adalah panutan saya.

Di awal perkenalan saya terhadap isu-isu lingkungan dan isu-isu global lainnya, walaupun lambat laun paham, saya bingung harus memulai dari mana jika ingin menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik. Mungkin ada juga yang merasa depresi tidak menemukan solusi dari semua krisis yang dipahami atau dibaca, lalu memilih untuk menjalani kebiasaan lama, menjalani hidup “apa adanya” dan lebih baik mencari kesenangan daripada memikirkan hal-hal rumit. Ada juga yang merasa belum siap untuk merubah kebiasaan karena hidup yang dijalaninya sudah cukup membuatnya nyaman. Apalagi sih yang dicari selain kebahagiaan? Bukankan setiap orang mencari kebahagiaan? Tidak cukup waktu rasanya memikirkan perubahan iklim, isu buruh, demo kenaikan BBM, WTO dan lain lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarga dan pekerjaan. Ada hal lain yang “lebih penting” untuk dipikirkan. Begitulah, sayangnya, kenyataan yang seringkali saya temukan, hingga saya yakin, metoda penyampaian informasi selama ini kurang efektif, luput sasaran, sehingga membuat isu-isu penting terlihat sangat jauh dari realita keseharian. 

Ketika terbentur dengan kenyataan ini, ada hal yang sebenarnya paling penting untuk dilakukan, alih-alih berupaya membajak dominasi media arus utama, jauh lebih baik merevolusi diri terlebih dahulu dan belajar memposisikan diri sebagai orang awam yang perlu diberikan pencerahan. Perubahan yang ada dalam diri jauh lebih penting ketimbang segala upaya merubah pandangan orang kebanyakan. Sebatas paham permasalahan tanpa bisa kritis terhadap kebiasaan diri sendiri, saya pikir jauh lebih fatal dari “kebutaan” orang yang awam akan isu-isu genting. Pergulatan yang sesungguhnya ada di dalam diri sendiri dan berbuat baik saja tidaklah cukup, tapi harus berbuat baik dengan cara yang benar. Percayalah, kalimat barusan maknanya tidak sederhana.

Sumber petaka dari krisis lingkungan hidup dan krisis lainnya adalah ketidaksadaran akan kemampuan diri menjadi bagian dari perubahan sistem yang carut marut. Segala macam ketimpangan yang ada justru dilanggengkan dengan kebiasaan-kebiasaan kita mengkonsumsi/membeli, tanpa mempertanyakan masalah harga, asal bahan baku, trend yang muncul di pasaran apalagi etika bisnis. Kebiasaan kecanduan akan merek dan gaya hidup tertentu yang seringkali dianggap representasi diri dan kualitas diri juga sangat sulit untuk dibenahi. Semua perusahaan berlomba lomba memproduksi, apapun, untuk dijual, mendapatkan keuntungan. Sayangnya belum ada batasan berapa keuntungan yang adil dan batasan kekayaan yang bisa dimiliki individu tanpa mengorbankan banyak hal.  Adakah batasan yang pantas untuk mengeksploitasi sumber daya alam atas nama kebutuhan pasar . Berapa persen dari populasi dunia yang nota bene adalah pemilik usaha dan berapa persen yang dianggap target pemasaran? Populasi konsumen (target pemasaran) yang dianggap sebatas deretan angka (dan sayangnya secara tidak sadar kita setuju hanya dianggap angka) merupakan kekuatan yang sesungguhnya dalam penentuan kebijakan ekonomi atau kebijakan apapun. 

Bagaimana menjadi bagian dari perubahan tanpa harus jadi pahlawan kesiangan bukan hal yang luar biasa susah. Memulainya dari belajar mencari nama perusahaan yang memproduksi barang, dari mana bahan bakunya didapat, bagaimana praktek bisnisnya, seberapa banyak tumpukan sampah di rumah jika membeli produk dalam kemasan, bagaimana dampak dari keputusan untuk membelanjakan uang untuk produk -produk tertentu, mencari alternatif produk yang relatif lebih aman, mengenali dan mengidentifikasi merek -merek yang mendominasi pasar hingga memahami dampaknya terhadap lingkungan hidup dan perekonomian di lingkungan tempat kita berada, semua itu merupakan beberapa tahapan yang dapat membantu memahami sedikit demi sedikit krisis yang kita buat secara tidak sadar. Sekedar berlatih bertanya pada pedagang sayur di pasar dari mana mereka mendapatkan pasokan sayurnya, di luar dugaan, dapat menuntun kita pada pemahaman akan krisis bahkan solusi.

Perusahaan berfokus pada upaya menjual, menjual dan menjual, dan salah satu upaya agar produk yang mereka coba pasarkan dapat diserap konsumen adalah beriklan. Jeli dalam mengamati pesan-pesan terselubung, berupaya untuk kritis mempertayankan “kebenaran” akan citra yang dibentuk perusahaan merupakan kebiasaan yang harus terus menerus dipupuk agar tidak terus menerus terjebak dalam sistem yang merusak, agar terlepas dari budaya “membeli adalah tanda bahwa kita eksis karena sanggup bayar”. Produsen berupaya menciptakan kebutuhan, sedangkan definisi kebutuhan semakin jauh dari arti sebenarnya, yang pada hakikatnya, kebutuhan yang paling medasar adalah tanah, air, udara yang bersih dan hak untuk hidup. Jadi pertanyaan yang harus sering diulang ulang dalam benak adalah, jika saya tidak membeli produk X merek AIUEO, apa yang akan terjadi pada saya, matikah? Latihan seperti ini bisa dilakukan sambil bersenang senang di dalam mall atau supermarket. Bahkan Anda akan tergelak sendiri ketika memahami betapa mudahnya untuk berkata tidak terhadap kendali satu perusahaan besar, sedangkan Anda memiliki kemampuan untuk membeli apapun yang Anda pikir perlu. Jadilah tuan dalam pemikiran kita sendiri. Mulai saja dari situ.

No comments:

Post a Comment